KOMPAS.com – Di tengah masyarakat, ada kebiasaan yang cukup umum, seseorang yang pulang dari melayat atau takziah langsung mandi, bahkan ada yang meyakini harus mencuci kaki dan tangan sebelum masuk rumah. Tradisi ini dilakukan turun-temurun, seolah menjadi bagian dari adab takziah.
Namun, benarkah Islam mewajibkan hal tersebut?
Pertanyaan ini penting, karena tidak semua kebiasaan yang berkembang di masyarakat memiliki dasar hukum yang jelas dalam syariat.
Untuk itu, perlu dilihat bagaimana Islam memandang mandi setelah pulang melayat, baik dari sisi hukum, dalil, maupun hikmahnya.
Dalam Islam, melayat atau takziah merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Ia bukan sekadar bentuk empati, tetapi juga bagian dari ibadah sosial yang mengandung nilai pahala.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa yang melayat jenazah hingga dishalatkan, maka ia mendapat satu qirath. Dan barangsiapa yang melayat hingga dikuburkan, maka ia mendapat dua qirath.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa kehadiran seseorang dalam proses takziah memiliki nilai spiritual yang besar. Namun, tidak ada keterangan dalam hadis tersebut yang mewajibkan mandi setelahnya.
Baca juga: 12 Tempat Ziarah Bersejarah di Madinah, Wajib Dikunjungi Jemaah Haji & Umrah
Secara umum, para ulama sepakat bahwa mandi setelah pulang melayat tidak wajib. Hal ini karena tidak ada dalil yang secara tegas memerintahkan hal tersebut bagi orang yang hanya sekadar datang melayat.
Dalam kajian fikih, mandi hanya diwajibkan dalam kondisi tertentu, seperti junub, haid, nifas, atau setelah memandikan jenazah (menurut sebagian pendapat).
Dengan demikian, kebiasaan mandi setelah takziah lebih bersifat anjuran (tidak wajib) dan kembali pada preferensi masing-masing individu.
Dalam sejumlah literatur fikih Syafi’iyah, disebutkan bahwa mandi setelah aktivitas tertentu dianjurkan sebagai bentuk kebersihan dan penyegaran tubuh, bukan kewajiban syariat.
Meski tidak wajib, kebiasaan mandi setelah melayat tetap memiliki hikmah yang cukup relevan, baik secara fisik maupun psikologis.
Setelah berada di lingkungan pemakaman atau rumah duka, mandi dapat membantu membersihkan tubuh dari debu, kotoran, atau kuman.
Takziah seringkali melibatkan suasana haru dan duka. Mandi dapat menjadi cara untuk menenangkan diri dan menyegarkan pikiran setelah mengalami tekanan emosional.
Dalam tradisi sebagian masyarakat, ada keyakinan bahwa tubuh menjadi lemah setelah berinteraksi dengan jenazah. Hal ini tidak sepenuhnya bersifat medis, tetapi memiliki dasar dalam literatur klasik.
Dalam kitab Hasyiatut Thahawi ‘ala Maraqi Al-Falah, dijelaskan bahwa bersentuhan dengan tubuh yang telah kehilangan ruh dapat menyebabkan kondisi tubuh menjadi lemah, sehingga dianjurkan untuk mandi atau berwudu sebagai bentuk penyegaran.
Baca juga: Bacaan Tahlil Lengkap dan Doa Ziarah Kubur Orang Tua: Arab, Latin dan Artinya
Hal yang sering disalahpahami adalah menyamakan antara orang yang melayat dengan orang yang memandikan jenazah.
Padahal, keduanya memiliki hukum yang berbeda.
Berdasarkan hadis Nabi:
“Barangsiapa yang memandikan mayat, maka hendaklah ia mandi. Dan barangsiapa yang memikulnya, maka hendaklah ia berwudu.” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud)
Hadis ini menjelaskan bahwa orang yang memandikan jenazah dianjurkan mandi (bahkan menurut sebagian ulama, hukumnya wajib).
Hadis ini dinilai sahih oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani dalam kajian hadisnya.
Namun, penting dicatat: anjuran ini tidak berlaku bagi orang yang hanya melayat tanpa bersentuhan langsung dengan jenazah.
Dalam kitab Fathul Bari, Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa mandi setelah memandikan jenazah termasuk amalan yang dianjurkan, sebagai bentuk penyegaran fisik.
Sementara itu, dalam Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi menekankan pentingnya menjaga adab dalam takziah, seperti menghibur keluarga dan mendoakan almarhum, bukan pada ritual tambahan yang tidak memiliki dasar kuat.
Artinya, fokus utama takziah dalam Islam bukan pada kewajiban mandi, tetapi pada nilai empati, doa, dan kebersamaan.
Baca juga: Doa Ziarah Kubur Lengkap: Arab, Latin, dan Artinya.
Dari berbagai penjelasan di atas, dapat disimpulkan:
Kebiasaan mandi setelah takziah lebih tepat dipahami sebagai tradisi yang memiliki hikmah, bukan kewajiban agama.
Di banyak tempat, tradisi seringkali berjalan berdampingan dengan ajaran agama. Dalam hal mandi setelah melayat, Islam memberikan ruang fleksibilitas, tidak melarang, tetapi juga tidak mewajibkan.
Yang terpenting, takziah tetap menjadi momen untuk menunjukkan empati, mempererat ukhuwah, dan mengingatkan bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Allah.
Dan mungkin, di balik kesederhanaan itu, tersimpan pesan yang lebih dalam bahwa kematian bukan hanya tentang yang pergi, tetapi juga tentang yang masih tinggal, agar lebih siap menghadapi kehidupan yang sesungguhnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang