KOMPAS.com – Di tengah kemegahan Masjid Nabawi, terdapat satu kisah yang jarang diketahui, namun sarat makna spiritual dan sejarah.
Sebuah jendela yang konon tidak pernah ditutup selama berabad-abad, bahkan disebut-sebut tidak berani ditutup oleh penguasa mana pun.
Kisah ini bukan sekadar tentang arsitektur. Ia berakar pada cinta, pengorbanan, dan penghormatan kepada sosok Nabi Muhammad SAW, serta keteguhan hati seorang perempuan mulia, yaitu Hafshah binti Umar.
Sejarah mencatat bahwa pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, wilayah Islam berkembang pesat.
Jumlah umat meningkat, dan Masjid Nabawi tidak lagi mampu menampung jamaah yang kian membludak.
Dalam buku Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir, disebutkan bahwa perluasan masjid menjadi kebutuhan mendesak demi kemaslahatan umat.
Namun, rencana ini menghadapi satu kenyataan yang tidak mudah, di sisi masjid berdiri rumah milik Hafshah, putri Umar sekaligus istri Nabi. Rumah itu bukan sekadar bangunan, melainkan ruang penuh kenangan bersama Rasulullah.
Baca juga: Kisah Al-Jazari: Bapak Robotika Muslim, Pencipta Cikal Bakal Robot Modern
Bagi Hafshah, rumah tersebut adalah bagian dari hidupnya. Dalam buku Teladan Kebahagiaan dari Rumah Tangga Kenabian karya Ahmad Husain Fahasbu, dijelaskan bahwa Hafshah dikenal sebagai sosok berilmu, teguh, dan memiliki kedalaman spiritual.
Ketika rencana pembongkaran disampaikan, ia menolak. Bukan karena menentang keputusan ayahnya, tetapi karena beratnya melepaskan tempat yang menyimpan jejak kehidupan bersama Rasulullah.
Riwayat-riwayat klasik menggambarkan bahwa Hafshah sempat menangis dan bertahan pada pendiriannya. Bahkan saran dari Aisyah binti Abu Bakar pun tidak langsung ia terima.
Setelah melalui dialog panjang dan pertimbangan mendalam, Hafshah akhirnya menyetujui pembongkaran rumahnya. Namun, ia mengajukan satu syarat yang sederhana, tetapi penuh makna.
Ia meminta dibuatkan sebuah jendela yang menghadap langsung ke arah makam Nabi, agar ia tetap bisa “dekat” secara batin dengan Rasulullah.
Permintaan ini kemudian dipenuhi oleh Umar. Dalam sejumlah literatur, termasuk catatan Jalaluddin as-Suyuthi, jendela tersebut dikenal sebagai “Jendela Umar bin al-Khattab” atau “Jendela Keluarga Umar”.
Baca juga: Kisah Runtuhnya Persia: Strategi Islam dari Abu Bakar ke Umar
Seiring waktu, Masjid Nabawi terus mengalami renovasi dan perluasan, termasuk di era modern oleh pemerintah Arab Saudi.
Namun, kisah tentang jendela ini tetap hidup dalam tradisi lisan dan catatan sejarah. Ia disebut sebagai simbol janji yang dijaga, antara seorang ayah, seorang putri, dan penghormatan kepada Nabi.
Tidak ada catatan resmi yang menyatakan jendela itu secara fisik tetap terbuka dalam bentuk aslinya selama 1.400 tahun.
Namun, makna simboliknya tetap dijaga, bahwa ada warisan sejarah yang tidak sekadar dibangun, tetapi juga dihormati.
Kisah ini menjadi semakin bermakna ketika melihat sosok Hafshah secara utuh. Ia bukan hanya istri Nabi, tetapi juga perempuan yang berperan penting dalam sejarah Islam.
Dalam buku Pahit Manis Rumah Tangga Rasul karya A.R. Shohibul Ulum, disebutkan bahwa Hafshah termasuk perempuan yang mampu membaca dan menulis, kemampuan yang langka pada masanya.
Bahkan, Abu Bakar mempercayakan kepadanya untuk menjaga lembaran-lembaran Al-Qur’an yang telah dikumpulkan.
Amanah ini menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap integritas dan keilmuannya.
Baca juga: Saat Umar bin Khattab Temukan Ibu Memasak Batu untuk Anaknya
Kisah jendela ini bukan sekadar cerita sejarah. Ia menyimpan pelajaran yang lebih dalam:
Dalam perspektif sejarah Islam, seperti dijelaskan dalam The History of the Qur'an karya William Montgomery Watt, peran individu seperti Hafshah sering kali menjadi kunci dalam menjaga warisan keilmuan dan spiritual umat.
Sebagian kisah tentang jendela ini berkembang dalam tradisi lisan dan perlu dibaca secara kritis. Namun, nilai yang terkandung di dalamnya tetap relevan.
Ia mengajarkan bahwa di balik bangunan megah Masjid Nabawi, terdapat kisah-kisah manusia yang penuh cinta, kehilangan, dan pengabdian.
Dan mungkin, di situlah letak kekuatannya, bahwa sejarah tidak hanya hidup dalam batu dan bangunan, tetapi juga dalam kenangan yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang