Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

7 Tradisi Idul Adha di Indonesia, dari Grebeg Besar hingga Meugang

Kompas.com, 27 Mei 2026, 08:11 WIB
Add on Google
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Hari Raya Idul Adha tidak hanya menjadi momen ibadah dan penyembelihan hewan kurban bagi umat Islam, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi budaya di berbagai daerah Indonesia.

Setiap wilayah memiliki cara khas dalam menyambut dan merayakan Idul Adha yang diwariskan secara turun-temurun.

Tradisi tersebut memadukan nilai keagamaan dengan budaya lokal yang masih terus dijaga hingga sekarang.

Baca juga: Menag Nasaruddin Sebut Idul Adha di Istiqlal Jadi Model Pelaksanaan Kurban di Asia Tenggara

Meski berbeda bentuk dan pelaksanaannya, seluruh tradisi itu tetap mengandung pesan pengorbanan, rasa syukur, kebersamaan, dan kepedulian sosial.

Tradisi Idul Adha di Indonesia

Di berbagai daerah, tradisi Idul Adha menjadi bagian penting yang selalu dinantikan masyarakat setiap tahunnya. Berikut ragam tradisi khas Idul Adha di Indonesia yang sarat nilai budaya dan spiritual.

Baca juga: Idul Adha 2026 di Gaza Kembali Dirayakan Tanpa Tradisi Sembelih Hewan Kurban

1. Tradisi Grebeg Besar di Yogyakarta dan Solo

Perayaan Idul Adha di Yogyakarta dan Solo identik dengan tradisi Grebeg Besar dengan ciri khas adanya gunungan.

Tradisi ini berjalan hampir serupa, yaitu dengan menampilkan arak-arakan gunungan berbentuk kerucut yang tersusun dari hasil bumi seperti sayur-mayur, buah, dan aneka makanan.

Gunungan diarak dari Keraton menuju Masjid Gede dengan pengawalan prajurit keraton.

Setelah doa bersama dipanjatkan, hasil bumi tersebut dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol rasa syukur dan harapan keberkahan.

2. Tradisi Toron dan Nyalasi di Madura

Masyarakat Pulau Madura memiliki tradisi Toron dan Nyalasi saat Idul Adha.

Toron merupakan tradisi pulang kampung para perantau Madura menjelang hari raya untuk berkumpul bersama keluarga.

Setelah itu, masyarakat melaksanakan Nyalasi, yakni penyembelihan hewan kurban di halaman rumah atau masjid.

Daging kurban kemudian diolah menjadi hidangan khas seperti sate dan gulai kambing untuk disantap bersama keluarga serta tetangga.

3. Tradisi Apitan di Semarang

Warga Semarang merayakan Idul Adha melalui tradisi Apitan sebagai bentuk rasa syukur.

Dalam tradisi ini, hasil pertanian dan peternakan diarak lalu dibagikan kepada masyarakat.

Tradisi Apitan juga mengajarkan nilai kebersamaan dan semangat berbagi kepada sesama.

4. Tradisi Manten Sapi di Pasuruan

Masyarakat Pasuruan memiliki tradisi unik bernama Manten Sapi.

Dalam tradisi tersebut, sapi yang akan dikurbankan dimandikan dan dihias menggunakan kain serta berbagai aksesoris sehari sebelum penyembelihan.

Setelah dihias, sapi diarak menuju lokasi penyembelihan sebagai bentuk penghormatan terhadap hewan kurban dan rasa syukur atas rezeki yang diberikan Allah SWT.

5. Tradisi Mepe Kasur di Banyuwangi

Tradisi Mepe Kasur menjadi bagian dari perayaan Idul Adha masyarakat Banyuwangi.

Warga menjemur kasur di halaman rumah sebagai simbol penolak bala dan doa agar keluarga dijauhkan dari mara bahaya.

Selain itu, tradisi ini juga memperkuat nilai gotong royong dan keharmonisan rumah tangga.

6. Tradisi Ngejot di Bali

Masyarakat Muslim di Bali memiliki tradisi Ngejot saat Idul Adha.

Tradisi ini dilakukan dengan saling berbagi makanan kepada tetangga dan kerabat setelah penyembelihan hewan kurban selesai.

Daging kurban diolah menjadi berbagai masakan seperti sate, gulai, dan rendang sebelum dibagikan.

Tradisi Ngejot menjadi simbol persaudaraan, kebersamaan, dan toleransi antarwarga.

7. Tradisi Meugang di Aceh

Tradisi Meugang selalu hadir menjelang Idul Adha di Aceh.

Tradisi ini dilakukan satu hingga dua hari sebelum Idul Adha dengan menyembelih hewan ternak dan memasak daging untuk disantap bersama keluarga.

Meugang telah ada sejak masa Kesultanan Aceh ketika daging dibagikan kepada masyarakat secara cuma-cuma.

Hingga kini, tradisi tersebut tetap dipertahankan sebagai simbol kebersamaan keluarga dan kepedulian terhadap masyarakat kurang mampu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
PBNU: Idul Adha Jadi Momentum Memperkuat Ketaatan dan Semangat Pengorbanan
PBNU: Idul Adha Jadi Momentum Memperkuat Ketaatan dan Semangat Pengorbanan
Aktual
Buku Saku Haji 2026 Gratis, Berisi Doa Lengkap dari Berangkat hingga Tawaf Wada
Buku Saku Haji 2026 Gratis, Berisi Doa Lengkap dari Berangkat hingga Tawaf Wada
Aktual
7 Cara Menyimpan Daging Kurban Agar Awet dan Tidak Mudah Rusak
7 Cara Menyimpan Daging Kurban Agar Awet dan Tidak Mudah Rusak
Aktual
Perkumpulan Juleha: Pisau Tumpul Saat Kurban, Daging Tidak Otomatis Haram
Perkumpulan Juleha: Pisau Tumpul Saat Kurban, Daging Tidak Otomatis Haram
Aktual
 Idul Adha 2026, Menag Ajak Masyarakat Terapkan Ekoteologi dan Jaga Kelestarian Alam
Idul Adha 2026, Menag Ajak Masyarakat Terapkan Ekoteologi dan Jaga Kelestarian Alam
Aktual
Gus Ipul Ajak Masyarakat Biasakan Tabayun dan Saring Informasi Sebelum Sharing
Gus Ipul Ajak Masyarakat Biasakan Tabayun dan Saring Informasi Sebelum Sharing
Aktual
Cara Menikmati Daging Kurban Idul Adha Tanpa Khawatir Kolesterol
Cara Menikmati Daging Kurban Idul Adha Tanpa Khawatir Kolesterol
Aktual
Haji 2026 Tembus 1,7 Juta Jemaah, Arab Saudi Perkuat Digitalisasi dan Layanan Pintar
Haji 2026 Tembus 1,7 Juta Jemaah, Arab Saudi Perkuat Digitalisasi dan Layanan Pintar
Aktual
Kumpulan Bacaan Doa Saat Idul Adha Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Kumpulan Bacaan Doa Saat Idul Adha Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
7 Amalan Sunnah Idul Adha yang Sering Terlewat, Padahal Pahalanya Besar
7 Amalan Sunnah Idul Adha yang Sering Terlewat, Padahal Pahalanya Besar
Aktual
7 Tradisi Idul Adha di Indonesia, dari Grebeg Besar hingga Meugang
7 Tradisi Idul Adha di Indonesia, dari Grebeg Besar hingga Meugang
Aktual
Shalat Idul Adha 2026 di Masjid Istiqlal Angkat Tema Ekoteologi
Shalat Idul Adha 2026 di Masjid Istiqlal Angkat Tema Ekoteologi
Aktual
Cara Cek Arah Kiblat saat Matahari Tepat di Atas Kabah 27-28 Mei 2026
Cara Cek Arah Kiblat saat Matahari Tepat di Atas Kabah 27-28 Mei 2026
Aktual
Dari Arafah, Jemaah Haji Lanjutkan Rangkaian Puncak Haji di Muzdalifah dan Mina
Dari Arafah, Jemaah Haji Lanjutkan Rangkaian Puncak Haji di Muzdalifah dan Mina
Aktual
Puncak Ibadah Haji 2026 di Arafah, Lebih dari 1,5 Juta Jemaah Larut dalam Doa dan Munajat
Puncak Ibadah Haji 2026 di Arafah, Lebih dari 1,5 Juta Jemaah Larut dalam Doa dan Munajat
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com