Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pakar IPB Jelaskan Alasan Hewan Kurban Tidak Disarankan Diberi Makan Banyak Sebelum Disembelih

Kompas.com, 27 Mei 2026, 05:22 WIB
Add on Google
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Menjelang Idul Adha, tata cara penanganan hewan kurban menjadi perhatian penting untuk menjaga kualitas daging dan kesejahteraan hewan.

Salah satu hal yang disoroti adalah pola pemberian makan sebelum proses penyembelihan dilakukan.

Pakar penyembelihan halal mengingatkan hewan kurban tidak dianjurkan makan terlalu banyak menjelang disembelih karena dapat memengaruhi kebersihan dan kualitas daging.

Baca juga: Menag Nasaruddin Sebut Idul Adha di Istiqlal Jadi Model Pelaksanaan Kurban di Asia Tenggara

Selain itu, pengaturan makan dan minum hewan juga berkaitan dengan proses penyembelihan yang lebih baik dan minim risiko pencemaran.

Dilansir dari Antara, pakar penyembelihan halal dari IPB University, Dr. drh. Supratikno, mengatakan hewan kurban tidak disarankan diberi makan berlebihan sebelum disembelih.

Baca juga: Wapres Gibran Salurkan Sapi Kurban 916 Kilogram Lewat BAZNAS RI

Menurutnya, kondisi perut yang terlalu penuh dapat menyebabkan hewan muntah saat proses penyembelihan berlangsung.

"Muntahan itu efek buruknya banyak seperti mengenai luka, menyebabkan sakit, kena daging di sekitar sembelihan menyebabkan ada pencemaran, dari situ ada bakteri dan segala macam," ujar dia di Jakarta, Selasa (3/6/2025).

Muntahan Bisa Turunkan Kualitas Daging Kurban

Supratikno menjelaskan, muntahan hewan saat penyembelihan dapat menimbulkan berbagai dampak buruk, termasuk pencemaran pada area daging di sekitar luka sembelihan.

Kondisi tersebut juga berpotensi memicu kontaminasi bakteri yang dapat memengaruhi keamanan dan kualitas daging kurban.

Selain itu, muntahan juga dapat menimbulkan bau tidak sedap sehingga kualitas daging menjadi menurun.

Hewan Kurban Disarankan Puasa 12 Jam

Dalam acara bertema “Berkurban Aman, Sehat, dan Menentramkan” yang digelar Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) Provinsi DKI Jakarta, Supratikno menyarankan hewan kurban dipuasakan selama 12 jam sebelum disembelih.

Meski dipuasakan, hewan tetap harus mendapatkan akses air minum yang cukup hingga waktu penyembelihan tiba.

"Bukan dicekok, digelonggong air minum. Tetapi disediakan air minum sehingga pada saat dia ingin minum, dia akan minum," kata Pratikno.

Menurutnya, pemberian air minum tetap penting agar darah hewan menjadi lebih encer sehingga proses pengeluaran darah saat penyembelihan berlangsung lebih cepat dan sempurna.

Dengan keluarnya darah secara optimal, hewan akan lebih cepat mati dan kualitas daging menjadi lebih baik karena hanya sedikit darah yang tertinggal di dalam daging.

Supratikno menambahkan, tidak membiarkan hewan kelaparan dan kehausan juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesejahteraan hewan sebelum disembelih.

Meski demikian, ia menjelaskan bahwa puasa yang dimaksud hanya membatasi pemberian makan, bukan membuat hewan kekurangan cairan.

"Baiknya justru malah dipuasakan. Tetapi yang puasa itu makan saja. Lapar boleh, yang tidak boleh adalah kelaparan (karenanya hewan tetap diberi minum)," ucap dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Cara Cek Arah Kiblat saat Matahari Tepat di Atas Kabah 27-28 Mei 2026
Cara Cek Arah Kiblat saat Matahari Tepat di Atas Kabah 27-28 Mei 2026
Aktual
Dari Arafah, Jemaah Haji Lanjutkan Rangkaian Puncak Haji di Muzdalifah dan Mina
Dari Arafah, Jemaah Haji Lanjutkan Rangkaian Puncak Haji di Muzdalifah dan Mina
Aktual
Puncak Ibadah Haji 2026 di Arafah, Lebih dari 1,5 Juta Jemaah Larut dalam Doa dan Munajat
Puncak Ibadah Haji 2026 di Arafah, Lebih dari 1,5 Juta Jemaah Larut dalam Doa dan Munajat
Aktual
Idul Adha dan Momentum Reset Peradaban
Idul Adha dan Momentum Reset Peradaban
Aktual
4 Alasan Daging Hewan Kurban Bisa Jadi Haram, Ini Penyebabnya
4 Alasan Daging Hewan Kurban Bisa Jadi Haram, Ini Penyebabnya
Aktual
Pakar IPB Jelaskan Alasan Hewan Kurban Tidak Disarankan Diberi Makan Banyak Sebelum Disembelih
Pakar IPB Jelaskan Alasan Hewan Kurban Tidak Disarankan Diberi Makan Banyak Sebelum Disembelih
Aktual
Seorang Jemaah Haji Embarkasi Banjarmasin Wafat Saat Wukuf di Padang Arafah
Seorang Jemaah Haji Embarkasi Banjarmasin Wafat Saat Wukuf di Padang Arafah
Aktual
Otoritas Arab Saudi Imbau Jemaah di Arafah Tetap di Dalam Tenda Saat Cuaca Panas Ekstrem
Otoritas Arab Saudi Imbau Jemaah di Arafah Tetap di Dalam Tenda Saat Cuaca Panas Ekstrem
Aktual
Melalui Khutbah Arafah 2026, Imam Masjid Nabawi Serukan Persatuan dan Tolak Slogan Politik Saat Haji
Melalui Khutbah Arafah 2026, Imam Masjid Nabawi Serukan Persatuan dan Tolak Slogan Politik Saat Haji
Aktual
Musyrif Diny Imbau Jemaah Haji Tak Paksakan Lempar Jumrah Saat Waktu Afdal
Musyrif Diny Imbau Jemaah Haji Tak Paksakan Lempar Jumrah Saat Waktu Afdal
Aktual
Menag Nasaruddin Sebut Idul Adha di Istiqlal Jadi Model Pelaksanaan Kurban di Asia Tenggara
Menag Nasaruddin Sebut Idul Adha di Istiqlal Jadi Model Pelaksanaan Kurban di Asia Tenggara
Aktual
Seorang Jemaah Haji Asal Batang Wafat di Arafah Saat Persiapan Wukuf
Seorang Jemaah Haji Asal Batang Wafat di Arafah Saat Persiapan Wukuf
Aktual
Seorang Jemaah Haji Asal Ciamis Wafat di Arafah Jelang Puncak Ibadah Haji
Seorang Jemaah Haji Asal Ciamis Wafat di Arafah Jelang Puncak Ibadah Haji
Aktual
Wapres Gibran Salurkan Sapi Kurban 916 Kilogram Lewat BAZNAS RI
Wapres Gibran Salurkan Sapi Kurban 916 Kilogram Lewat BAZNAS RI
Aktual
Khatib Wukuf Arafah: Oleh-oleh Terbaik Haji adalah Takwa dan Perubahan Diri
Khatib Wukuf Arafah: Oleh-oleh Terbaik Haji adalah Takwa dan Perubahan Diri
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com