Editor
KOMPAS.com - Menjelang Idul Adha, tata cara penanganan hewan kurban menjadi perhatian penting untuk menjaga kualitas daging dan kesejahteraan hewan.
Salah satu hal yang disoroti adalah pola pemberian makan sebelum proses penyembelihan dilakukan.
Pakar penyembelihan halal mengingatkan hewan kurban tidak dianjurkan makan terlalu banyak menjelang disembelih karena dapat memengaruhi kebersihan dan kualitas daging.
Baca juga: Menag Nasaruddin Sebut Idul Adha di Istiqlal Jadi Model Pelaksanaan Kurban di Asia Tenggara
Selain itu, pengaturan makan dan minum hewan juga berkaitan dengan proses penyembelihan yang lebih baik dan minim risiko pencemaran.
Dilansir dari Antara, pakar penyembelihan halal dari IPB University, Dr. drh. Supratikno, mengatakan hewan kurban tidak disarankan diberi makan berlebihan sebelum disembelih.
Baca juga: Wapres Gibran Salurkan Sapi Kurban 916 Kilogram Lewat BAZNAS RI
Menurutnya, kondisi perut yang terlalu penuh dapat menyebabkan hewan muntah saat proses penyembelihan berlangsung.
"Muntahan itu efek buruknya banyak seperti mengenai luka, menyebabkan sakit, kena daging di sekitar sembelihan menyebabkan ada pencemaran, dari situ ada bakteri dan segala macam," ujar dia di Jakarta, Selasa (3/6/2025).
Supratikno menjelaskan, muntahan hewan saat penyembelihan dapat menimbulkan berbagai dampak buruk, termasuk pencemaran pada area daging di sekitar luka sembelihan.
Kondisi tersebut juga berpotensi memicu kontaminasi bakteri yang dapat memengaruhi keamanan dan kualitas daging kurban.
Selain itu, muntahan juga dapat menimbulkan bau tidak sedap sehingga kualitas daging menjadi menurun.
Dalam acara bertema “Berkurban Aman, Sehat, dan Menentramkan” yang digelar Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) Provinsi DKI Jakarta, Supratikno menyarankan hewan kurban dipuasakan selama 12 jam sebelum disembelih.
Meski dipuasakan, hewan tetap harus mendapatkan akses air minum yang cukup hingga waktu penyembelihan tiba.
"Bukan dicekok, digelonggong air minum. Tetapi disediakan air minum sehingga pada saat dia ingin minum, dia akan minum," kata Pratikno.
Menurutnya, pemberian air minum tetap penting agar darah hewan menjadi lebih encer sehingga proses pengeluaran darah saat penyembelihan berlangsung lebih cepat dan sempurna.
Dengan keluarnya darah secara optimal, hewan akan lebih cepat mati dan kualitas daging menjadi lebih baik karena hanya sedikit darah yang tertinggal di dalam daging.
Supratikno menambahkan, tidak membiarkan hewan kelaparan dan kehausan juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesejahteraan hewan sebelum disembelih.
Meski demikian, ia menjelaskan bahwa puasa yang dimaksud hanya membatasi pemberian makan, bukan membuat hewan kekurangan cairan.
"Baiknya justru malah dipuasakan. Tetapi yang puasa itu makan saja. Lapar boleh, yang tidak boleh adalah kelaparan (karenanya hewan tetap diberi minum)," ucap dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang