Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemerintah Didorong Percepat Pelunasan Haji Khusus 2027, Ini Alasannya

Kompas.com, 1 Juni 2026, 20:58 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) meminta pemerintah mempercepat proses pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) Khusus 2027.

Langkah tersebut dinilai penting untuk menyesuaikan dengan lini masa penyelenggaraan haji yang semakin ketat dari pemerintah Arab Saudi.

Dengan pelunasan lebih awal, Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) memiliki waktu yang cukup untuk mengamankan berbagai layanan bagi jamaah.

Baca juga: Timwas Haji DPR Usulkan Lembaga Resmi Badal Haji untuk Cegah Praktik Ilegal

Mulai dari akomodasi, transportasi, hingga layanan di kawasan Masyair, seluruh kebutuhan harus dipersiapkan jauh sebelum musim haji berlangsung.

AMPHURI Minta Pelunasan Haji Khusus 2027 Dipercepat

Ketua Umum DPP AMPHURI Firman M. Nur mengatakan percepatan pelunasan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kualitas pelayanan bagi jamaah haji khusus Indonesia.

Baca juga: Jemaah Haji Aceh Wafat di Tanah Suci Bertambah Jadi Enam Orang

Menurutnya, semakin cepat proses pelunasan dilakukan, semakin besar peluang bagi PIHK untuk mendapatkan layanan terbaik dari penyedia jasa di Arab Saudi.

“Fokus utama kami adalah pelayanan jamaah. Semakin cepat proses pelunasan dilakukan, semakin besar peluang PIHK mendapatkan layanan terbaik dan memberikan kepastian kepada jamaah sejak awal,” ujar Ketua Umum DPP AMPHURI Firman M. Nur dalam keterangannya di Jakarta, Senin (1/6/2026).

Pelunasan Terlambat Berisiko Mengurangi Kualitas Layanan

Firman menjelaskan keterlambatan pelunasan dapat berdampak langsung terhadap kualitas layanan yang diterima jamaah haji khusus Indonesia.

Ia menilai kesempatan memperoleh hotel terbaik, layanan transportasi yang memadai, hingga fasilitas di kawasan Masyair dapat berkurang apabila PIHK terlambat menyelesaikan proses administrasi dan kontrak layanan.

Karena itu, AMPHURI meminta pemerintah mempercepat pelunasan Bipih Khusus 2027 agar PIHK memiliki waktu yang cukup untuk memenuhi seluruh tahapan yang telah ditentukan oleh pemerintah Arab Saudi.

Sistem Nusuk Masar Membuat Jadwal Haji Semakin Ketat

Menurut Firman, penerapan sistem baru berbasis platform Nusuk Masar membuat seluruh proses penyelenggaraan haji harus mengikuti jadwal yang lebih ketat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut mengharuskan PIHK mendapatkan kepastian lebih awal agar dapat menyelesaikan berbagai kebutuhan operasional, termasuk kontrak layanan, pemilihan hotel, penyusunan manifest jamaah, hingga koordinasi dengan penyedia layanan di Arab Saudi.

Dengan waktu yang cukup, PIHK dinilai dapat memberikan kepastian layanan kepada jamaah sejak jauh hari sebelum keberangkatan.

Usulkan Pelunasan Haji Khusus Tidak Menunggu Haji Reguler

AMPHURI juga mengusulkan agar mekanisme pelunasan haji khusus tidak lagi bergantung pada tahapan pelunasan haji reguler.

Menurut organisasi tersebut, skema yang lebih fleksibel akan membantu PIHK bergerak lebih cepat dalam memenuhi seluruh target dan tenggat waktu yang ditetapkan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi.

"Pelunasan Haji Khusus sebaiknya dapat dilakukan lebih awal dan tidak harus menunggu proses haji reguler. Ini penting agar PIHK memiliki ruang yang cukup untuk melakukan kontrak layanan dan menjaga kualitas pelayanan kepada jamaah," kata Firman.

Pemerintah Diminta Mengawal Kepentingan Jamaah Haji Khusus

Selain persoalan pelunasan, AMPHURI juga meminta pemerintah terus mengawal kepentingan jamaah haji khusus Indonesia dalam hubungan dengan perusahaan penyedia layanan atau syarikah di Arab Saudi.

Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah kepastian lokasi layanan di kawasan Masyair, termasuk penempatan tenda Mina bagi jamaah haji khusus Indonesia.

AMPHURI menilai keberhasilan penyelenggaraan haji khusus 2027 sangat bergantung pada kesiapan seluruh pihak dalam mengikuti jadwal yang telah ditentukan pemerintah Arab Saudi.

Karena itu, koordinasi yang intensif antara pemerintah, asosiasi, dan PIHK perlu dilakukan sejak dini agar seluruh tahapan penyelenggaraan haji khusus dapat berjalan lancar dan memberikan pelayanan optimal kepada jamaah Indonesia.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar