Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Wajah Baru Pesantren Abad 21: Padukan Al-Qur'an dan Sains Modern

Kompas.com, 4 Juni 2026, 08:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Direktur NU Online Hamzah Sahal menegaskan bahwa pesantren-pesantren besar di Indonesia telah bertransformasi mengikuti perkembangan zaman dengan mengembangkan sains, olahraga, hingga seni.

Menurutnya, anggapan bahwa pesantren hanya berkutat pada pendidikan agama sudah tidak lagi sepenuhnya relevan dengan kondisi saat ini.

Hamzah mengatakan banyak pesantren modern yang berhasil memadukan pendidikan keagamaan dengan berbagai bidang ilmu dan keterampilan yang dibutuhkan generasi muda pada abad ke-21.

Karena itu, pesantren yang tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman berisiko tertinggal.

“Kalau pesantren tidak mengikuti zaman sudah tidak ada sejak tahun 70-an. Serius. Meskipun ada pesantren-pesantren yang tidak mengikuti perkembangan zaman, sekarang memang agak tertinggal. Tetapi pesantren yang maju jumlahnya banyak sekali,” kata Hamzah di Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Baca juga: Tak Cuma Pesantren, Wasekjen PBNU Desak PBNU Bangun Sekolah di Area Urban

Menurutnya, kemampuan beradaptasi menjadi salah satu faktor yang membuat pesantren tetap bertahan dan terus diminati masyarakat hingga saat ini.

Berbeda dengan anggapan sebagian orang, pesantren modern tidak hanya mencetak calon ulama atau guru agama, tetapi juga melahirkan generasi yang mampu berkiprah di berbagai bidang.

Hamzah mencontohkan sejumlah pesantren besar yang terus melakukan inovasi dalam sistem pendidikan mereka.

Di antaranya adalah pesantren-pesantren yang berada di lingkungan Nahdlatul Ulama yang telah mengembangkan kurikulum berbasis sains, teknologi, olahraga, hingga seni.

“Saya sering menyampaikan bahwa banyak sekali pesantren yang berdiri pada abad ke-21 ini orientasinya sudah berubah. Mereka bukan hanya mengajarkan ilmu keagamaan, tetapi juga mengembangkan banyak bidang lain yang dibutuhkan anak-anak sekarang,” ujarnya.

Ia menyebut sejumlah pesantren yang dinilainya berhasil bertransformasi mengikuti perkembangan zaman, seperti Pesantren Darul Ulum di Jombang, Pesantren Tebuireng, Pesantren Krapyak Yogyakarta, hingga sejumlah pesantren baru yang bermunculan dalam dua dekade terakhir.

“Pesantren Darul Ulum, Tebuireng, Krapyak dan banyak pesantren lain terus berkembang. Di Jogja misalnya ada banyak pesantren baru yang orientasinya sudah sangat maju. Mereka menggabungkan pendidikan agama dengan berbagai disiplin ilmu,” jelas Hamzah.

Baca juga: Wasekjen PBNU: Konflik Internal Jadi Beban Berat Generasi Muda NU

Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pesantren tidak menutup diri terhadap perubahan sosial maupun perkembangan ilmu pengetahuan.

Justru, banyak pesantren yang kini menjadi ruang lahirnya generasi muda dengan kemampuan yang semakin beragam.

Hamzah juga menyoroti munculnya pesantren yang fokus pada pengembangan sains dan teknologi.

Salah satunya adalah pesantren yang mengelola SMA berbasis sains dan Al-Qur'an sebagai upaya menjawab kebutuhan pendidikan modern.

“Sekarang sudah banyak sekali. Minat studinya juga beragam. Tidak hanya ilmu sosial dan humaniora, tetapi juga sains. Banyak santri yang belajar bidang-bidang ilmu pengetahuan modern tanpa meninggalkan tradisi keilmuan pesantren,” ungkapnya.

Baca juga: Sekjen MUI Tanggapi Tuduhan terhadap Kiai Pesantren, Minta Tabayun dan Hindari Fitnah

Selain sains, pesantren juga mulai memberikan perhatian lebih besar terhadap pengembangan bakat di bidang olahraga.

Menurut Hamzah, sejumlah pesantren telah menunjukkan prestasi yang membanggakan dalam cabang olahraga tertentu.

“Sekarang ada pesantren yang futsalnya bagus, sepak bolanya bagus. Bahkan ada liga santri yang menurut saya menginspirasi banyak pesantren untuk membuka ruang yang lebih luas bagi pengembangan minat dan bakat santri,” tuturnya.

Ia menilai perkembangan tersebut menjadi bukti bahwa pesantren tidak lagi memandang olahraga sebagai aktivitas pelengkap semata, melainkan bagian dari proses pembentukan karakter dan pengembangan potensi peserta didik.

Tak hanya olahraga, bidang seni juga mendapat perhatian yang semakin besar. Hamzah mencontohkan adanya pesantren yang berhasil membangun kelompok paduan suara atau choir dengan kualitas yang mampu bersaing di tingkat yang lebih luas.

“Di Pesantren Bumi Cendekia misalnya, saya dengar paduan suaranya bagus sekali. Itu sesuatu yang mungkin tidak terbayangkan 20 atau 30 tahun lalu. Orang mungkin bertanya, kok ada pesantren yang choir-nya bagus? Tetapi sekarang itu nyata,” ujarnya.

Menurut Hamzah, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pesantren mampu mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan kreativitas dan kebutuhan zaman tanpa kehilangan identitasnya sebagai lembaga pendidikan Islam.

“Pesantren mengikuti perkembangan zaman bukan berarti meninggalkan tradisinya. Justru tradisi keilmuan yang kuat itu menjadi fondasi untuk menghadapi tantangan baru,” katanya.

Ia juga menepis anggapan bahwa regenerasi intelektual di lingkungan pesantren mengalami kemunduran.

Menurutnya, banyak anak muda lulusan pesantren yang kini aktif sebagai penulis, akademisi, peneliti, hingga penggerak komunitas sosial.

“Penulis-penulis intelektual Nahdlatul Ulama itu banyak sekali dan sekarang semakin beragam kemampuan serta minat studinya. Ini menunjukkan bahwa pesantren masih menjadi tempat yang produktif untuk melahirkan sumber daya manusia berkualitas,” ungkap Hamzah.

Baca juga: Gus Yahya: Kritik Gus Dur Soal Keikhlasan Harus Membayangi Kader NU

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa modernisasi pesantren harus tetap dibangun di atas fondasi pemahaman keagamaan yang kuat.

Menurutnya, penguasaan ilmu agama tetap menjadi identitas utama pesantren yang tidak boleh ditinggalkan.

“Yang paling penting secara paham keagamaan harus sama dulu karena itu fondasi. Kalau fondasinya kuat, maka pengembangan sains, olahraga, seni, dan bidang lainnya akan berjalan dengan baik,” ujarnya.

Hamzah optimistis pesantren akan terus menjadi salah satu pilar penting pendidikan Indonesia.

Dengan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan zaman, pesantren dinilai memiliki peluang besar untuk melahirkan generasi yang tidak hanya memahami agama, tetapi juga mampu bersaing dalam berbagai bidang kehidupan modern.

“Pesantren yang maju adalah pesantren yang mampu membaca perkembangan zaman tanpa kehilangan akar tradisinya. Itu yang sekarang banyak terjadi di berbagai daerah di Indonesia,” pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Kemenag Gelar Festival Literasi Islam, Ada Pameran Percetakan Al-Qur'an
Kemenag Gelar Festival Literasi Islam, Ada Pameran Percetakan Al-Qur'an
Aktual
Wasekjen PBNU Soroti Arogansi Hotman Paris, Tak Layak Jadi Teladan Generasi Muda
Wasekjen PBNU Soroti Arogansi Hotman Paris, Tak Layak Jadi Teladan Generasi Muda
Aktual
Kemenag: Tunjangan Guru dan Dosen Cair Minggu Depan
Kemenag: Tunjangan Guru dan Dosen Cair Minggu Depan
Aktual
Berapa Jumlah Rakaat Shalat Taubat? Ini Penjelasan dan Dalilnya
Berapa Jumlah Rakaat Shalat Taubat? Ini Penjelasan dan Dalilnya
Aktual
Bolehkah Mengulang Shalat Taubat dalam Sehari? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Bolehkah Mengulang Shalat Taubat dalam Sehari? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Aktual
Kemenag Siapkan Materi Pencegahan LGBTQ dalam Kurikulum, Tindak Lanjuti Perpres Nomor 111 Tahun 2025
Kemenag Siapkan Materi Pencegahan LGBTQ dalam Kurikulum, Tindak Lanjuti Perpres Nomor 111 Tahun 2025
Aktual
Anggaran Tambahan Sudah Masuk, Kemenag Cairkan Tunjangan Profesi Guru-Dosen Minggu Depan
Anggaran Tambahan Sudah Masuk, Kemenag Cairkan Tunjangan Profesi Guru-Dosen Minggu Depan
Aktual
7 Adab Imam Shalat Berjamaah Menurut Imam Al-Ghazali Agar Ibadah Lebih Sempurna
7 Adab Imam Shalat Berjamaah Menurut Imam Al-Ghazali Agar Ibadah Lebih Sempurna
Aktual
Tokoh NU Banten Dorong PBNU Kembali ke Khittah, Sebut Pengurus Harus Jadi 'Pelayan Ulama'
Tokoh NU Banten Dorong PBNU Kembali ke Khittah, Sebut Pengurus Harus Jadi "Pelayan Ulama"
Aktual
Kapan Shalat Taubat Dilakukan? Simak Penjelasan Waktu Terbaik dan Harus Dihindari
Kapan Shalat Taubat Dilakukan? Simak Penjelasan Waktu Terbaik dan Harus Dihindari
Aktual
Tunjangan Profesi Guru dan Dosen Kemenag 2025 Cair Minggu Depan
Tunjangan Profesi Guru dan Dosen Kemenag 2025 Cair Minggu Depan
Aktual
Ponpes Bahrul Ulum Tegaskan Netral Jelang Muktamar NU 2026, Fokus Layani Muktamirin
Ponpes Bahrul Ulum Tegaskan Netral Jelang Muktamar NU 2026, Fokus Layani Muktamirin
Aktual
3 Syarat Agar Taubat Diterima Allah Menurut Penjelasan Ulama
3 Syarat Agar Taubat Diterima Allah Menurut Penjelasan Ulama
Aktual
Tata Cara Shalat Taubat Lengkap dengan Niat dan Doa
Tata Cara Shalat Taubat Lengkap dengan Niat dan Doa
Doa dan Niat
Kemenhaj Umumkan Daftar Jemaah Haji 2027, ASN Diminta Segera Bangun Komunikasi
Kemenhaj Umumkan Daftar Jemaah Haji 2027, ASN Diminta Segera Bangun Komunikasi
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar