JEDDAH, KOMPAS.com - Jadwal kepulangan seorang jemaah haji menuju Tanah Air saat ini dapat bersifat fleksibel atau menyesuaikan kondisi di lapangan.
Seorang jemaah tidak terikat secara mutlak pada manifes kelompok terbang (kloter) awal mereka, sesuai dengan mekanisme tanazul.
Melalui mekanisme tanazul, jadwal kepulangan seorang jemaah dapat dipercepat maupun ditunda. Hal ini disebut sebagai dua skema tanazul, yaitu tanazul awal dan tanazul akhir.
Baca juga: Arab Saudi Pertimbangkan Skema Tanazul untuk 50 Persen Jamaah Haji Indonesia saat Armuzna
"Saat ini di Daker Bandara, kami sering melakukan pelayanan Tanazul kepada jemaah haji, baik itu Tanazul Awal maupun Tanazul Akhir," ujar Kepala Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja (Daker) Bandara, Abdul Basir, di Jeddah, Sabtu (13/6/2026).
Tanazul awal adalah skema yang diterapkan bagi jemaah yang perlu kembali ke Indonesia lebih cepat dari jadwal aslinya dengan cara disisipkan pada kloter yang terbang mendahului mereka.
Baca juga: Pemerintah Pertimbangkan 50 Persen Jemaah Haji Gunakan Skema Tanazul
Tanazul akhir adalah skema yang diterapkan pada jemaah yang terpaksa menunda waktu kepulangannya. Mereka akan diterbangkan ke Tanah Air dengan bergabung bersama kloter-kloter yang berangkat belakangan.
Apa saja yang membuat seorang jemaah harus memajukan atau memundurkan jadwal terbangnya?
Meski didominasi oleh kondisi kesehatan, Abdul Basir menegaskan bahwa alasan medis bukan satu-satunya faktor penentu.
Bagi jemaah yang jatuh sakit, opsi tanazul awal sering kali diambil agar mereka bisa segera mendapatkan penanganan medis yang lebih komprehensif di Indonesia.
"Daripada nanti terjadi sesuatu atau dirawat lebih lama di rumah sakit Arab Saudi, dan kondisi saat ini dinyatakan layak terbang oleh dokter, maka diizinkan pulang lebih awal," jelasnya.
Sebaliknya, Tanazul Akhir umumnya diberlakukan bagi jemaah sakit yang kondisinya sangat tidak stabil saat kloternya harus pulang, sehingga mereka wajib bertahan di Arab Saudi untuk dirawat sampai pulih.
"Tanazul bukan hanya untuk jemaah sakit. Ada juga beberapa jemaah yang karena kepentingan kedinasan meminta izin untuk dipulangkan lebih cepat. Hal tersebut dimungkinkan dengan pertimbangan tertentu dan izin dari PPIH Arab Saudi," tambah Basir.
Tentu saja, realisasi program Tanazul tidak bisa dilakukan sembarangan. Khusus untuk tanazul awal, syarat utamanya adalah tersedianya kursi kosong (seat) pada pesawat di kloter tujuan.
Lebih dari itu, demi menjamin keselamatan penerbangan, PPIH menerapkan standar operasional yang ketat, terutama menyangkut fluktuasi kesehatan jemaah.
Skrining berlapis dilakukan sesaat sebelum jemaah naik ke pesawat melalui dua tahapan:
Observasi Tim PPIH juga akan memantau kondisi fisik jemaah dievaluasi secara menyeluruh oleh tenaga medis internal dari PPIH Arab Saudi.
Validasi Otoritas Bandara juga akan dilakukan sesampainya di area bandara, di mana jemaah wajib melewati proses assessment ulang yang dilakukan oleh klinik resmi otoritas bandara Arab Saudi.
Bagi jemaah yang lolos seluruh tahapan validasi, mereka dipersilakan melanjutkan perjalanan kembali ke pangkuan keluarga di Tanah Air.
Namun jika dalam tahap akhir klinik bandara memvonis jemaah tidak layak terbang (unfit to fly), maka keberangkatannya pada hari itu otomatis dibatalkan.
Pihak bandara akan menyerahkan jemaah tersebut kembali ke pangkuan PPIH untuk dievakuasi ke rumah sakit terdekat demi mendapatkan intervensi medis lanjutan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang