Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menag Usulkan 10 Muharam Jadi Lebaran Anak Yatim untuk Bantu Yatim Piatu dan Difabel

Kompas.com, 25 Juni 2026, 15:11 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar berencana menjadikan setiap 10 Muharam sebagai momentum perayaan Lebaran Anak Yatim di Indonesia.

Gagasan tersebut difokuskan untuk membantu anak yatim piatu dan kelompok difabel agar terbebas dari berbagai kesulitan hidup.

Pernyataan itu disampaikan Menag saat menghadiri gelaran Lebaran Anak Yatim dan Penyandang Disabilitas di Kantor Kementerian Agama (Kemenag).

Baca juga: Menag Canangkan 10 Muharram Jadi “Lebaran Yatim dan Disabilitas”

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Program Peaceful Muharam yang telah berlangsung sejak 1 Muharam dan akan digelar hingga sebulan ke depan.

Menag Ingin Jadikan 10 Muharam sebagai Tradisi Baru

Menurut Menag, Muharam tidak hanya identik dengan amalan puasa, tetapi juga dapat menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian sosial dan semangat berbagi kepada sesama.

Baca juga: Indonesia Segera Miliki Mushaf Tulis Tangan Al-Munawwir, Menag Sebut Prestasi Luar Biasa

Karena itu, peringatan 10 Muharam diharapkan berkembang menjadi gerakan bersama yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan.

“Kita akan membuat semacam tradisi baru di Indonesia, setiap tanggal 10 Muharam itu, kita peringati dengan cara membebaskan anak-anak yatim dan kelompok difabel dari penderitaan,” ujar Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar di Kantor Kemenag, Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Menag menjelaskan gagasan tersebut diharapkan menjadi tradisi baru yang positif dengan menjadikan Muharam sebagai momentum kepedulian sosial bagi anak-anak yatim dan kelompok rentan lainnya.

Menurut dia, selama ini masyarakat lebih mengenal berbagai amalan ibadah pada bulan Muharam, terutama puasa sunnah.

Namun, semangat berbagi dan menyantuni anak yatim juga perlu diperkuat sebagai bagian dari peringatan bulan yang dimuliakan dalam Islam.

“Kita kembalikan tradisi Lebaran Yatim yang selama ini dikenal di masyarakat, lalu kita Indonesiakan menjadi gerakan bersama untuk membantu anak-anak yatim piatu dan kelompok difabel,” ujar Menag Nasaruddin Umar.

Lebaran Anak Yatim Diharapkan Menjadi Agenda Nasional

Menag mengatakan peringatan 10 Muharam di Indonesia memiliki karakter yang berbeda dibandingkan sejumlah negara lain.

Di Indonesia, peringatan tersebut diarahkan pada kegiatan sosial dan kemanusiaan yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Ia berharap peringatan Lebaran Anak Yatim dapat berkembang menjadi agenda nasional yang mampu memperluas jangkauan bantuan bagi anak-anak yatim dan keluarga kurang mampu.

“Kalau ini bisa menjadi event penting, maka seluruh anak-anak kita yang miskin dan yatim piatu akan semakin terbantu dan terbebas dari berbagai kesulitan hidup,” kata Menag Nasaruddin Umar.

Menag Ajak Masyarakat Peduli kepada Anak Yatim dan Difabel

Menag juga mengajak masyarakat untuk menunjukkan kecintaan terhadap agama melalui kepedulian kepada sesama, terutama anak yatim dan penyandang disabilitas.

“Mari kita cintai agama dengan cara mencintai anak-anak yatim dan kelompok difabel. Siapa yang akan memperhatikan mereka kalau bukan kita,” ujar Menag Nasaruddin Umar.

Ia menambahkan bahwa Muharam merupakan bulan yang identik dengan perdamaian dan kasih sayang.

Dalam tradisi Islam, Muharam termasuk salah satu bulan yang dimuliakan sehingga menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.

“Pada masa Nabi tidak boleh ada peperangan pada bulan Muharam, makanya disebut haram, ya kan? Hari berkasih sayang,” kata Menag Nasaruddin Umar.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar