BANYUWANGI, KOMPAS.com - Pernahkah Anda melewati satu hari yang terasa begitu buruk?
Ban motor bocor di tengah jalan, berkas kerjaan mendadak hilang, atau rencana liburan yang batal begitu saja.
Di hari-hari seperti itu, rasanya dunia begitu tidak adil.
Kalimat 'Mengapa harus aku yang kena musibah ini?' begitu mudah meluncur dari bibir kita.
Namun, sadarkah kita?
Di balik satu hari yang dianggap runyam itu, ada ratusan hari sebelumnya di mana kita bangun dengan tubuh sehat, bernapas tanpa alat bantu, dan makan tanpa rasa khawatir.
Kecenderungan manusia untuk fokus pada satu noda hitam di atas selembar kertas putih bersih ini bukanlah hal baru.
Lebih dari 14 abad yang lalu, Al-Qur'an sudah memotret fenomena psikologis dan spiritual ini dengan sangat presisi dalam Surah Al-Adiyat ayat 6: إِنَّ الْإِنسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ
“Sesungguhnya manusia benar-benar sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS Al-Adiyat: 6)
Baca juga: Istidraj: Banyak Nikmat Tetapi Tidak Menambah Taat
Di dalam ayat ini, Allah menggunakan sebuah istilah yang sangat spesifik untuk menggambarkan tabiat buruk manusia tersebut: Al-Kanud. Secara bahasa, al-kanud diartikan sebagai orang yang sangat kufur dan mengingkari nikmat-nikmat Allah.
Namun, jika kita menyelami tafsir para ulama terdahulu, makna al-kanud ternyata memiliki beberapa dimensi yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari kita:
Sifat ini sering kali menyusup tanpa kita sadari. Ia tidak selalu berwujud kemaksiatan terang-terangan, melainkan berupa keluhan-keluhan kecil yang terus kita pelihara setiap hari.
Membahas fenomena ini, Dai Lajnah Dakwah PC Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi, Ustadz Ahsanul Falihin, memberikan catatan spiritual yang mendalam tentang bagaimana sifat ini merusak jiwa seorang hamba.
"Sifat al-kanud ini adalah bentuk kebutaan spiritual yang sangat halus. Betapa sering kita mendadak amnesia pada ribuan nikmat yang Allah kucurkan tanpa jeda setiap detiknya, hanya karena kita sedang diuji dengan satu atau dua cobaan yang mampir sebentar," kata Dai Lajnah Dakwah PC Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi, Ustadz Ahsanul Falihin.
Menurutnya, umat seringkali menikmati pemberian-Nya, tetapi mengabaikan kehadiran Sang Pemberi Nikmat di dalam hati. Pada akhirnya, sikap ini menutup pintu empati, membuat seseorang menjadi bakhil dan enggan berbagi kebaikan kepada sesama karena ia selalu merasa dirinya adalah orang yang paling kekurangan di dunia ini.
Lalu, bagaimana kita menyembuhkan diri dari penyakit al-kanud ini? Langkah pertamanya adalah dengan melatih perspektif. Setiap kali kita tergoda untuk mengeluh atas suatu kesulitan, paksa diri kita untuk menuliskan atau mengingat minimal lima hal baik yang masih kita miliki hari itu.
Baca juga: Perbaiki Hidup dengan Memperbaiki Shalat agar Hidup Menjadi Nikmat
Ketika kita mulai memandang hidup dengan kacamata syukur, musibah yang tadinya terasa sebesar gunung perlahan akan menyusut, sementara nikmat yang tadinya tak terlihat akan tampak membentang luas layaknya samudra.
"Pada akhirnya, hidup ini bukan tentang seberapa sedikit masalah yang kita hadapi, melainkan tentang seberapa sering kita menyadari kebaikan Allah yang selalu membersamai di setiap hela napas kita," tandasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang