Editor
KOMPAS.com - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, DR. KH. Saad Ibrahim, M.A, mengingatkan bahwa kekuasaan sejatinya merupakan amanah dari Allah SWT yang harus dijalankan secara merdeka dan bertanggung jawab.
Menurutnya, seorang pemimpin tidak boleh tunduk pada kepentingan elite maupun intervensi asing karena hal itu akan menghilangkan hakikat kekuasaan.
Pandangan tersebut disampaikan dalam tausiah yang ditayangkan melalui kanal tvMu pada Rabu (15/7/2026).
Baca juga: Ketum Muhammadiyah Sebut Korupsi di Indonesia Sudah Gawat Darurat
Dalam tausiahnya, Saad mengawali pemaparan dengan mengutip pemikiran pembaru Islam Jamaluddin al-Afghani (1838–1897) yang termuat dalam buku Zu’ama’ al-Ishlah fi al-'Ashr al-Hadits karya sejarawan Mesir, Ahmad Amin.
Menurut Saad, penguasa yang bergantung pada kepentingan elite atau campur tangan pihak asing sesungguhnya tidak lagi memiliki kemandirian dalam menjalankan kekuasaan.
Baca juga: KucingMu Resmi Diluncurkan, Cat Lovers Muhammadiyah Kini Bisa Punya KTAM Khusus Kucing
"Penguasa yang tunduk pada kepentingan elite atau intervensi asing sesungguhnya telah kehilangan kekuatan dan kekuasaannya. Keberadaannya hanya bersifat semu dan ia hanya menjalankan kehendak pihak yang memberinya kekuasaan," kutip Saad.
Ia menjelaskan bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kecerdasan berpikir. Kepemimpinan juga harus disertai kedalaman spiritual agar setiap keputusan lahir dari akal yang sehat dan hati yang bersih.
"Ketika keduanya dimiliki, maka seseorang akan menjadi pribadi yang merdeka," ujarnya.
Menurutnya, kemerdekaan berpikir membuat seorang pemimpin tidak mudah didikte oleh kepentingan apa pun selain menghadirkan kemaslahatan.
Saad mengingatkan bahwa manusia memang diberi amanah sebagai khalifah fil ardh, tetapi seluruh kekuasaan pada hakikatnya tetap milik Allah SWT.
"Kekuasaan yang Allah berikan kepada manusia niscaya akan diambil kembali sewaktu-waktu oleh Allah," katanya.
Ia kemudian merujuk pada Surah Ali Imran ayat 26 yang menjelaskan bahwa Allah memberikan kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki dan mencabutnya dari siapa pun yang Dia kehendaki.
"Inilah ajaran teologis yang memberikan dimensi penting dalam memahami kekuasaan," jelasnya.
Karena itu, Saad menegaskan bahwa kekuasaan bukanlah ukuran kemuliaan seseorang. Kemuliaan sejati merupakan anugerah Allah yang dapat diberikan kepada siapa saja.
"Ketika kekuasaan dikelola oleh seseorang yang memiliki pikiran yang cerdas, lalu mampu menimbangnya dengan kedalaman rohani, itulah bentuk kemampuannya dalam melaksanakan amanah," tuturnya.
Saad mengakui mengelola kekuasaan bukan perkara mudah. Oleh sebab itu, setiap pemimpin harus senantiasa bersandar kepada Allah agar setiap kebijakan yang diambil benar-benar membawa kebaikan.
"Bukan sekadar formalitas di atas kertas, tetapi juga meresap hingga ke dalam jiwa. Dalam hati, segala urusan senantiasa kita kembalikan kepada Allah," ujarnya.
Ia juga menyebut politik sebagai seni mengelola kekuasaan yang harus dibangun di atas nilai-nilai teologis, penghormatan terhadap martabat manusia, dan kesadaran menjalankan amanah sebagai khalifah di muka bumi.
"Politik yang berdasarkan pada dasar teologis, menghargai orang, dan melaksanakan tugas sebagai khalifah dengan baik. Politik seperti itulah yang akan membawa pada kebaikan," katanya.
Menutup tausiahnya, Saad menegaskan bahwa setiap bentuk kekuasaan, baik dalam lingkup negara, organisasi, maupun keluarga, pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
"Baik kekuasaan makro dalam lingkup negara maupun kekuasaan mikro dalam lingkup organisasi atau keluarga, semuanya memiliki pertanggungjawaban kepada Allah," pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang