Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ratusan Ribu Muslim di Situbondo Lantunkan Shalawat dan Doa untuk Indonesia

Kompas.com, 19 Juli 2026, 21:54 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com – Ratusan ribu masyarakat dan jamaah Shalawat Nariyah dari berbagai daerah memadati Alun-alun Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, pada Minggu (19/7/2026) dalam rangka Haul Masyayikh.

Selain mendoakan para ulama dan tokoh masyarakat yang telah wafat, ribuan jamaah juga memanjatkan doa agar Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik.

Bupati Situbondo sekaligus Ketua Panitia Haul Masyayikh, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada para masyayikh (ulama sepuh/ cendikiawan muslim), kiai, dan tokoh masyarakat yang telah berjasa bagi bangsa dan agama.

"Kegiatan ini bertujuan mendoakan para masyayikh dan tokoh masyarakat se-Nusantara agar mendapatkan rahmat dan keberkahan dari Allah SWT. Kami juga memohon agar Indonesia menjadi bangsa yang semakin baik," ujar Rio kepada wartawan.

Baca juga: PBNU Tetapkan Logo Muktamar Ke-35 NU Karya Alumnus Langitan

Ia menjelaskan, rangkaian doa dipimpin langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Wali Songo Situbondo, KHR Moh Kholil As'ad Syamsul Arifin, dengan diikuti para pengasuh pondok pesantren serta jamaah Shalawat Nariyah dari berbagai wilayah Indonesia.

Menurut Rio, peserta datang dari berbagai daerah, mulai dari Jawa Timur, Jakarta, Kalimantan, hingga wilayah lain di Tanah Air.

Ia juga menegaskan penyelenggaraan Haul Masyayikh tidak menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Seluruh pembiayaan berasal dari swadaya para jamaah Shalawat Nariyah.

"Seluruh kegiatan ini dibiayai melalui urunan para jamaah Shalawat Nariyah, bukan menggunakan APBD," katanya.

Gus Kautsar Ajak Istikamah Mengamalkan Shalawat Nariyah

Dalam kesempatan tersebut, ulama muda KH Muhammad Abdur Rahman Al Kautsar, yang akrab disapa Gus Kautsar, mengajak seluruh jamaah untuk terus mengamalkan Shalawat Nariyah secara istiqamah.

Menurutnya, Shalawat Nariyah merupakan salah satu amalan yang dianjurkan para ulama karena mengandung banyak keutamaan bagi kehidupan seorang Muslim.

"Betapa bijaksananya guru-guru kita. Dari sekian banyak Shalawat, yang dianjurkan untuk diamalkan adalah Shalawat Nariyah," ujar Gus Kautsar dalam tausiyahnya.

Ia menjelaskan, dengan membiasakan membaca Shalawat Nariyah, seorang Muslim berharap memperoleh pertolongan Allah SWT, kemudahan dalam berbagai urusan, dijauhkan dari kesulitan, serta mendapatkan keberkahan dalam kehidupannya.

Gus Kautsar juga mengajak jamaah untuk menjadikan Shalawat sebagai bagian dari amalan harian.

"Insya Allah, dengan istiqamah membaca Shalawat Nariyah, Allah memberikan kemudahan dalam berbagai urusan dan mencurahkan keberkahan," tuturnya.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa seluruh umat Islam memiliki tujuan yang sama, yakni memperoleh keselamatan di dunia maupun di akhirat. Menurutnya, memperbanyak berShalawat menjadi salah satu ikhtiar untuk meraih ampunan Allah SWT atas berbagai kekhilafan yang dilakukan.

"Kita semua menginginkan keselamatan dunia dan akhirat. Kita banyak salah dan lalai, maka perbanyaklah berShalawat kepada Rasulullah SAW, semoga Allah memberikan ampunan dan keselamatan," katanya.

Dihadiri Tokoh Nasional dan Pengasuh Pesantren

Haul Masyayikh Situbondo turut dihadiri sejumlah tokoh nasional, kepala daerah, serta pengasuh pondok pesantren dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Baca juga: Nobar Piala Dunia 2026 Bengkulu: Doa Bersama dan Santunan Yatim

Di antaranya Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton KH Moh Zuhri Zaini, mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Abdullah Azwar Anas, Bupati Bondowoso KH Abd Hamid Wahid, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, beserta sejumlah tokoh masyarakat lainnya.

Kehadiran ratusan ribu jamaah menjadikan Haul Masyayikh Situbondo sebagai salah satu agenda keagamaan terbesar di wilayah Tapal Kuda yang tidak hanya mempererat ukhuwah Islamiyah, tetapi juga menjadi momentum bersama untuk mendoakan para ulama serta memohon keberkahan dan kebaikan bagi bangsa Indonesia.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar