Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

6 Kuliner Tradisional saat Maulid Nabi di Indonesia dan Keistimewaannya

Kompas.com, 24 Agustus 2026, 15:29 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Maulid Nabi Muhammad SAW diperingati setiap 12 Rabiul Awal sebagai momentum mengenang kelahiran Rasulullah sekaligus meneladani akhlaknya.

Selain pengajian dan kegiatan keagamaan, sejumlah daerah di Indonesia memiliki kuliner khas yang disajikan saat perayaan Maulid Nabi.

Baca juga: 8 Tradisi Maulid Nabi di Berbagai Daerah di Indonesia dan Ciri Khasnya

Tradisi kuliner Maulid Nabi tidak hanya melengkapi rangkaian perayaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya melestarikan warisan budaya Nusantara.

Setiap hidangan memiliki bentuk, bahan, cara penyajian, dan makna yang berbeda sesuai tradisi masyarakat setempat.

Baca juga: 50 Ucapan Maulid Nabi 2026 Singkat untuk Media Sosial, Singkat dan Penuh Makna

Kuliner Tradisional saat Maulid Nabi di Indonesia

Dilansir dari Antara, berikut sejumlah kuliner tradisional yang biasa disajikan dalam perayaan Maulid Nabi di berbagai daerah Indonesia.

1. Ketupat Sumpil

Ketupat sumpil menjadi salah satu hidangan khas yang hadir dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kuliner dari Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, ini dibuat dari beras yang dibungkus menggunakan daun bambu berbentuk limas segitiga.

Ketupat sumpil biasanya disajikan bersama sambal kelapa. Bentuk segitiganya melambangkan hubungan antara manusia dengan Allah SWT.

Keunikan ketupat sumpil terletak pada bentuk segitiganya, penggunaan daun bambu sebagai pembungkus, serta makna yang melekat pada penyajiannya.

2. Nasi Tumpeng

Nasi tumpeng merupakan hidangan yang familiar dalam berbagai tradisi masyarakat Indonesia, termasuk saat perayaan Maulid Nabi. Hidangan yang berasal dari Jawa ini memiliki aturan tertentu dalam penyajiannya.

Bentuk kerucut pada tumpeng melambangkan gunung dan tempat yang dianggap sakral. Bentuk tersebut juga diyakini memiliki makna hubungan antara langit dan bumi, sementara lauk yang menyertainya disesuaikan secara simbolis.

Keunikan nasi tumpeng terletak pada bentuk kerucut dan simbolisme setiap bagian hidangan yang menyertainya.

3. Gunungan Maulid

Gunungan Maulid merupakan kuliner khas dari Yogyakarta dan Solo yang hadir dalam perayaan Maulid Nabi. Hidangan ini berupa tumpukan berbagai jenis makanan yang disusun menyerupai gunungan.

Tradisi tersebut terus dijaga dan dirayakan masyarakat setempat setiap tahun sebagai bagian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Keunikan Gunungan Maulid terlihat dari susunan berbagai makanan yang dibentuk menyerupai gunungan sebagai bagian dari tradisi tahunan masyarakat.

4. Kuah Beulangong

Masyarakat Aceh memiliki hidangan khas berupa kuah beulangong yang kerap disajikan dalam perayaan Maulid Nabi. Proses memasak kuliner ini memiliki aturan tersendiri yang menjadi bagian dari tradisinya.

Dalam proses memasaknya, hanya laki-laki yang diperbolehkan memasak. Saat mengaduk kuah, mereka juga membaca shalawat yang dianjurkan sehingga proses memasak memiliki nilai spiritual.

Keunikan kuah beulangong terletak pada aturan memasak yang melibatkan laki-laki serta pembacaan shalawat selama proses pengadukan kuah.

5. Nasi Suci Ulam Sari

Nasi suci ulam sari merupakan kuliner dari Pacitan, Jawa Timur, yang memiliki kemiripan dengan nasi tumpeng. Perbedaannya terletak pada penggunaan nasi uduk sebagai bahan utama.

Bagian atas hidangan dihias dengan seekor ayam yang disebut ayam ingkung. Penyajian tersebut menjadikan nasi suci ulam sari sebagai salah satu hidangan istimewa dalam perayaan Maulid Nabi.

Keunikan nasi suci ulam sari terdapat pada penggunaan nasi uduk dan hiasan ayam ingkung di bagian atasnya.

6. Kue Karas-Karas

Kue karas-karas memiliki bentuk menyerupai jaring-jaring yang kemudian dilipat menjadi bentuk segitiga atau persegi. Kuliner ini berasal dari Melayu, khususnya suku Saluan di Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah.

Kue tersebut mudah dibuat dan menjadi salah satu hidangan khas Nusantara yang kerap hadir dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kehadirannya turut memperkaya ragam kuliner dalam tradisi Maulid di Indonesia.

Keunikan kue karas-karas terletak pada bentuknya yang menyerupai jaring-jaring dan cara penyajiannya yang dilipat menjadi bentuk tertentu.

Beragam kuliner tradisional tersebut menunjukkan kekayaan tradisi masyarakat Indonesia dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Setiap hidangan memiliki ciri khas dan makna yang berkembang sesuai budaya daerah masing-masing.

Tradisi kuliner Maulid Nabi juga menjadi bagian dari warisan budaya yang terus dikenalkan dan dilestarikan oleh masyarakat.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Siapkan Rumah Sakit Lapangan Berstandar WHO untuk Penyintas Gempa NTT
Muhammadiyah Siapkan Rumah Sakit Lapangan Berstandar WHO untuk Penyintas Gempa NTT
Aktual
Muhammadiyah Jombang Siapkan Posko dan 10 Ribu Bakso untuk Muktamar NU ke-35
Muhammadiyah Jombang Siapkan Posko dan 10 Ribu Bakso untuk Muktamar NU ke-35
Aktual
Puasa Sunnah Maulid Nabi 12 Rabiul Awal: Niat, Hukum, Tata Cara, dan Manfaat
Puasa Sunnah Maulid Nabi 12 Rabiul Awal: Niat, Hukum, Tata Cara, dan Manfaat
Doa dan Niat
8 Keutamaan Membaca Shalawat saat Memperingati Maulid Nabi
8 Keutamaan Membaca Shalawat saat Memperingati Maulid Nabi
Aktual
50 Twibbon Maulid Nabi 2026 Gratis, Lengkap dengan Link dan Cara Pasangnya
50 Twibbon Maulid Nabi 2026 Gratis, Lengkap dengan Link dan Cara Pasangnya
Aktual
6 Kuliner Tradisional saat Maulid Nabi di Indonesia dan Keistimewaannya
6 Kuliner Tradisional saat Maulid Nabi di Indonesia dan Keistimewaannya
Aktual
8 Tradisi Maulid Nabi di Berbagai Daerah di Indonesia dan Ciri Khasnya
8 Tradisi Maulid Nabi di Berbagai Daerah di Indonesia dan Ciri Khasnya
Aktual
Fenomena Artis Hijrah di Instagram, Bagaimana Kesalehan Dibentuk di Media Sosial?
Fenomena Artis Hijrah di Instagram, Bagaimana Kesalehan Dibentuk di Media Sosial?
Aktual
Dewan Muslim Inggris Puji Muhammadiyah: Tak Hanya Bangun Sekolah, tapi Juga Manusia
Dewan Muslim Inggris Puji Muhammadiyah: Tak Hanya Bangun Sekolah, tapi Juga Manusia
Aktual
Maulid Nabi: Hubungan Selawat, Syafaat, dan Keteladanan Rasulullah SAW
Maulid Nabi: Hubungan Selawat, Syafaat, dan Keteladanan Rasulullah SAW
Aktual
Tata Cara Shalat Jenazah Lengkap: Niat, Rukun, hingga Shalat Gaib
Tata Cara Shalat Jenazah Lengkap: Niat, Rukun, hingga Shalat Gaib
Doa Harian
Kemenag Ajak 1,7 Juta Umat Berselawat, Ini Anjurannya dalam Islam
Kemenag Ajak 1,7 Juta Umat Berselawat, Ini Anjurannya dalam Islam
Aktual
Menag Minta Studi Antaragama Diperkuat: Penting untuk Bangun Perdamaian
Menag Minta Studi Antaragama Diperkuat: Penting untuk Bangun Perdamaian
Aktual
Petugas Haji 2027: Syarat, Jadwal, dan Dokumen yang Wajib Disiapkan
Petugas Haji 2027: Syarat, Jadwal, dan Dokumen yang Wajib Disiapkan
Aktual
Saat Rasulullah Menerima Rombongan Kristen Najran di Masjid Nabawi
Saat Rasulullah Menerima Rombongan Kristen Najran di Masjid Nabawi
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar