Editor
KOMPAS.com - Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW di berbagai daerah Indonesia digelar dengan beragam bentuk yang mencerminkan kekayaan budaya masyarakat setempat.
Selain menjadi momentum spiritual untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, perayaan tersebut juga menghadirkan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Baca juga: 50 Ucapan Maulid Nabi 2026 Singkat untuk Media Sosial, Singkat dan Penuh Makna
Dilansir dari Antara, berikut sejumlah tradisi Maulid Nabi di berbagai daerah Indonesia yang memiliki ciri khas dan makna tersendiri.
Baca juga: Maulid Nabi: Hubungan Selawat, Syafaat, dan Keteladanan Rasulullah SAW
Grebeg Maulud merupakan tradisi tahunan yang dilaksanakan pada 12 Rabiul Awal dan menjadi salah satu ciri khas masyarakat Pulau Jawa, khususnya Yogyakarta. Tradisi ini diisi dengan doa bersama dan upacara persembahan kepada Allah SWT.
Dalam pelaksanaannya, nasi gunungan diarak bersama Sultan dan para tokoh agama dari keraton menuju Masjid Agung dan sekaten atau pasar malam. Setelah itu, gunungan tersebut diperebutkan oleh masyarakat.
Keunikan Grebeg Maulud terletak pada tradisi gunungan yang diarak dari keraton dan kemudian diperebutkan oleh masyarakat.
Masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan memiliki tradisi Baayun Maulid untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini dilakukan dengan mengayun bayi atau anak sebagai bentuk ungkapan syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Saat prosesi berlangsung, masyarakat membaca syair maulid sambil mengayun anak. Tradisi tersebut juga menjadi bentuk kasih sayang dan doa bagi anak-anak.
Keunikan Baayun Maulid terlihat dari prosesi mengayun bayi atau anak yang disertai pembacaan syair maulid.
Tradisi Gerantung berasal dari Dasan Beleq, Lombok Utara. Dalam tradisi ini, alat musik tradisional suku Dayak yang termasuk idiofon dan terbuat dari campuran logam seperti besi, kuningan, serta perunggu dibunyikan.
Pada perayaan Maulid Nabi, suara gerantung biasanya terdengar selama lebih dari 24 jam tanpa henti hingga pergantian 12 Rabiul Awal.
Keunikan tradisi Gerantung terletak pada bunyi alat musik tradisional yang dimainkan selama lebih dari 24 jam dalam rangkaian perayaan Maulid Nabi.
Masyarakat Madura memiliki tradisi Molodhan atau Muluduan dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Salah satu cirinya adalah penyajian buah-buahan yang ditusuk menggunakan lidi atau bambu dan dibentuk menyerupai tumpeng.
Tradisi tersebut menjadi simbol rasa syukur dan kebahagiaan masyarakat dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Keunikan Molodhan atau Muluduan terlihat dari sajian buah-buahan yang ditusuk dan dibentuk menyerupai tumpeng sebagai bagian dari perayaan Maulid.
Tradisi Kirab Ampyang digelar masyarakat Desa Loram Kulon, Jawa Tengah, sebagai bagian dari perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Makanan yang dihias dengan ampyang, nasi, dan kerupuk diarak berkeliling desa.
Setelah prosesi kirab selesai, makanan tersebut dibagikan kepada warga sebagai bagian dari rangkaian peringatan Maulid Nabi.
Keunikan Kirab Ampyang terletak pada prosesi mengarak makanan berhias ampyang, nasi, dan kerupuk sebelum dibagikan kepada warga.
Masyarakat Desa Rappolemba, Kabupaten Gowa, memiliki tradisi Maudu untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam tradisi ini, telur ditempatkan pada pohon pisang yang dihias menggunakan kertas berbentuk bunga.
Anak-anak kemudian berlomba mengambil telur sambil membacakan syair Barazanji. Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk perayaan Maulid Nabi di masyarakat setempat.
Keunikan Maudu tampak pada telur yang ditempatkan di pohon pisang berhias bunga dan diambil anak-anak sambil membacakan syair Barazanji.
Masyarakat Sampang, Madura, memiliki tradisi membuat ketupat dari daun kelapa saat memperingati Maulid Nabi. Pembuatan ketupat biasanya dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat.
Setelah selesai, ketupat dibagikan ke pondok pesantren setelah masyarakat mengadakan upacara Maulid, mengumandangkan shalawat, dan berdoa.
Keunikan tradisi ini terletak pada kegiatan membuat ketupat secara gotong royong yang kemudian dibagikan ke pondok pesantren.
Desa Pejengkolan, Kabupaten Kebumen, memiliki tradisi Rolasan yang digelar setiap 12 Rabiul Awal. Dalam tradisi ini, warga berkumpul sambil membawa berbagai makanan tradisional, seperti nasi gilig, ayam panggang, opak, dan pisang.
Rolasan menjadi tradisi yang menekankan semangat gotong royong, kekompakan, dan rasa kebersamaan di tengah masyarakat pedesaan.
Keunikan Rolasan terlihat dari kebersamaan warga yang membawa beragam makanan tradisional dalam peringatan Maulid Nabi.
Beragam tradisi Maulid Nabi tersebut menunjukkan cara masyarakat di berbagai daerah Indonesia memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan ciri khas masing-masing.
Tradisi yang berkembang juga menjadi bagian dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT