KOMPAS.com - Di antara sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, Abdurrahman bin Auf dikenal sebagai sosok yang berhasil memadukan kesuksesan bisnis dengan kedermawanan yang luar biasa. Kekayaannya tidak menjadikannya lalai dari ibadah, tetapi justru menjadi jalan untuk membantu umat Islam melalui infak dan sedekah.
Abdurrahman bin Auf dalam Al-Iṣābah fī Tamyīz aṣ-Ṣaḥābah karya Ibnu Hajar Al-Asqalani dan At-Ṭabaqāt al-Kubrā karya Ibnu Sa'd mencatat bahwa beliau termasuk sahabat awal yang memeluk Islam, berhijrah ke Madinah, serta menjadi salah satu tokoh penting dalam perjuangan dakwah Rasulullah SAW.
Abdurrahman bin Auf berasal dari Quraisy Bani Zuhrah. Setelah berhijrah ke Madinah, beliau dipersaudarakan Rasulullah SAW dengan Sa'ad bin Rabi'. Ketika Sa'ad menawarkan sebagian harta dan kebunnya, Abdurrahman menolak dengan cara yang sangat mulia.
Baca juga: Mengapa Rasulullah Bersiwak Sebelum Shalat? Ini Hikmahnya
Ia hanya meminta ditunjukkan lokasi pasar agar dapat bekerja dan berdagang sendiri. Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Sa'd sebagai bukti semangat kemandirian Abdurrahman dalam mencari rezeki yang halal.
Dari pasar Madinah itulah usahanya berkembang pesat hingga menjadi salah satu saudagar paling berhasil di kalangan sahabat. Namun, kekayaan tersebut tidak pernah menjauhkan dirinya dari kepedulian kepada kaum Muslimin.
Salah satu peristiwa yang paling masyhur terjadi ketika Rasulullah SAW mengajak kaum Muslim mempersiapkan Perang Tabuk. Dalam riwayat At-Ṭabaqāt al-Kubrā, Abdurrahman bin Auf datang membawa infak sebesar 4.000 dinar, yaitu separuh dari seluruh hartanya, sementara separuh lainnya ia sisakan untuk keluarganya.
Pengorbanan itu menunjukkan bahwa sedekah bukan diberikan dari sisa kebutuhan, melainkan dari harta yang paling dicintai. Kekayaan baginya adalah amanah yang harus digunakan untuk menolong agama Allah dan membantu masyarakat.
Baca juga: BPKH Kelola Dana Haji Rp 184 Triliun, 70 Persen Ditempatkan di Sukuk Negara
Sikap Abdurrahman bin Auf selaras dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Lail ayat 18–21:
الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّىٰ وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَىٰ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَىٰ وَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ
Allażī yu’tī mālahū yatazakkā. Wa mā li-aḥadin ‘indahū min ni‘matin tujzā. Illab-tighā’a wajhi rabbihil-a‘lā. Wa lasaufa yarḍā.
Artinya: “Yang menginfakkan hartanya untuk membersihkan diri, dan tidak ada seseorang yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi dia memberikan itu semata-mata karena mencari keridaan Tuhannya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar akan memperoleh kepuasan.”
Baca juga: Mengapa Rasulullah Menganjurkan Tidur Miring ke Kanan? Ini Hikmahnya
Ayat tersebut menggambarkan karakter seorang mukmin yang bersedekah karena mengharap ridha Allah, bukan pujian manusia.
Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa harta yang diinfakkan tidak akan mengurangi keberkahan rezeki.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
Mā naqaṣat ṣadaqatun min māl
Artinya: “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR Sahih Muslim No. 2588).
Baca juga: Jelang Wajib Halal Produk Sandang, Begini Tips Memilih Baju Anak
Hadis ini menjadi cerminan kehidupan Abdurrahman bin Auf. Semakin besar hartanya, semakin besar pula sedekah yang ia keluarkan. Bahkan Ibnu Sa'd meriwayatkan bahwa beliau pernah memerdekakan banyak budak, menyumbangkan kafilah dagang untuk kebutuhan masyarakat Madinah, dan berwasiat agar para veteran Perang Badar serta istri-istri Nabi memperoleh bagian dari hartanya setelah beliau wafat.
Meski menjadi saudagar sukses, Abdurrahman tidak hidup bermewah-mewahan. Dalam Al-Iṣābah disebutkan bahwa beliau sering menangis ketika mengingat sahabat-sahabat yang gugur sebagai syuhada. Ia khawatir kenikmatan dunia yang diterimanya justru menjadi ujian yang memberatkan hisab di akhirat.
Sikap ini menunjukkan makna zuhud yang sebenarnya. Zuhud bukan berarti meninggalkan harta, melainkan tidak menjadikan harta sebagai tujuan hidup. Kekayaan berada di tangan, bukan di hati.
Kisah Abdurrahman bin Auf memberikan pelajaran bahwa Islam tidak menolak kekayaan. Seorang Muslim justru didorong bekerja keras, berdagang secara jujur, dan membangun kemandirian ekonomi. Namun, keberhasilan itu harus diiringi kepedulian terhadap sesama melalui zakat, infak, dan sedekah.
Baca juga: Apa Bedanya Sabar, Ridha, dan Tawakal? Jangan Sampai Tertukar
Dengan menginfakkan separuh hartanya, Abdurrahman membuktikan bahwa kemuliaan seorang saudagar bukan terletak pada banyaknya harta yang dimiliki, melainkan pada seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada umat. Itulah warisan akhlak yang menjadikannya dikenang sebagai salah satu sahabat paling dermawan dalam sejarah Islam.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.