KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi 1 Ramadan 1448 Hijriah atau awal puasa 2027 jatuh pada Senin, 8 Februari 2027.
Prediksi tersebut disampaikan Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Antariksa BRIN, Prof Thomas Djamaluddin, berdasarkan hasil perhitungan astronomi dan analisis posisi hilal.
Meski demikian, Thomas menegaskan bahwa BRIN tidak menetapkan awal Ramadan secara resmi.
Di Indonesia, penentuan awal puasa tetap menjadi kewenangan Kementerian Agama melalui Sidang Isbat yang menggabungkan hasil hisab dan rukyatul hilal.
Karena itu, prediksi BRIN berfungsi sebagai rujukan ilmiah, bukan keputusan hukum keagamaan.
Dalam analisis astronomi kalender Hijriah 1448 H, Thomas Djamaluddin memperkirakan 1 Ramadan akan dimulai pada Senin, 8 Februari 2027.
Prediksi tersebut disusun menggunakan metode hisab dengan menghitung posisi Bulan dan Matahari menjelang terbenam pada akhir bulan Syaban.
Baca juga: Kemendag Tegaskan Wajib Halal Oktober 2026 Bukan Larangan Impor
Menurut Thomas, data astronomi menunjukkan hilal telah memenuhi parameter yang mendukung dimulainya bulan Ramadan pada tanggal tersebut.
Hasil perhitungan itu kemudian dipublikasikan sebagai bagian dari kajian ilmiah BRIN mengenai kalender Hijriah.
Prediksi tersebut sekaligus menjadi acuan awal bagi masyarakat yang ingin mengetahui kemungkinan tanggal dimulainya ibadah puasa pada 2027, meskipun keputusan final tetap berada di tangan pemerintah.
Perhitungan awal bulan Hijriah dilakukan melalui pendekatan astronomi yang dikenal sebagai hisab.
Metode ini menghitung waktu ijtimak atau konjungsi, tinggi hilal, elongasi Bulan, serta posisi Bulan terhadap Matahari saat matahari terbenam.
Thomas menjelaskan bahwa seluruh parameter tersebut dapat dihitung secara akurat menggunakan data astronomi modern.
Karena bersifat matematis dan dapat diprediksi jauh hari, kalender Hijriah berdasarkan hisab dapat disusun bertahun-tahun sebelum pelaksanaan ibadah.
Baca juga: BPKH Catat Dana Kelolaan Rp180,72 Triliun pada Akhir 2025
Meski demikian, hasil hisab tidak otomatis menjadi penetapan resmi awal Ramadan karena Indonesia menggunakan mekanisme yang menggabungkan hisab dan rukyat.
Thomas Djamaluddin menegaskan bahwa BRIN hanya menyampaikan prediksi astronomi, bukan menetapkan awal bulan Hijriah.
Penetapan resmi tetap dilakukan oleh Kementerian Agama melalui Sidang Isbat yang melibatkan ulama, ahli falak, organisasi masyarakat Islam, serta instansi terkait.
Karena itu, istilah yang tepat adalah BRIN memprediksi awal Ramadan, bukan BRIN menetapkan awal puasa.
Prediksi ilmiah tersebut menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam memahami posisi hilal sebelum Sidang Isbat digelar.
Masyarakat pun diimbau menunggu pengumuman resmi pemerintah sebagai dasar pelaksanaan ibadah puasa secara nasional.
Baca juga: Muktamar NU Usai, GP Ansor: Sudahi Perdebatan, Saatnya Kembali Berkhidmah
Selain memprediksi awal Ramadan, Thomas juga memaparkan prakiraan Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha 1448 H.
Menurut analisis astronominya, awal Ramadan diperkirakan seragam pada 8 Februari 2027, tetapi terdapat potensi perbedaan penetapan pada Syawal dan Dzulhijjah.
Berdasarkan kajian tersebut, Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1448 H pada 9 Maret 2027, sedangkan pemerintah diprakirakan menetapkannya pada 10 Maret 2027.
Sementara untuk Idul Adha 1448 H, Muhammadiyah menetapkan 16 Mei 2027, sedangkan pemerintah diprakirakan jatuh pada 17 Mei 2027.
Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh metode penentuan awal bulan Hijriah yang digunakan masing-masing lembaga, terutama dalam penetapan Syawal dan Dzulhijjah.
Hingga kajian astronomi BRIN dipublikasikan, Kementerian Agama belum mengumumkan jadwal resmi Sidang Isbat Ramadan 1448 H.
Secara umum, sidang dilaksanakan pada 29 Syaban setelah proses rukyatul hilal dilakukan di berbagai titik pengamatan di Indonesia.
Baca juga: Orang Meninggal Dapat Pesangon dan BPJS, Apakah Jadi Harta Warisan?
Apabila hasil rukyat sejalan dengan perhitungan astronomi, bukan tidak mungkin tanggal yang diumumkan pemerintah sama dengan prediksi BRIN, yakni 8 Februari 2027. Namun, keputusan resmi tetap menunggu hasil Sidang Isbat yang diumumkan Kementerian Agama.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.