Editor
KOMPAS.com – Komisi Pesantren Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat mendorong pendataan dan pemetaan manuskrip kuno yang dimiliki pesantren di berbagai daerah.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari Rencana Tindak Lanjut (RTL) setelah Komisi Pesantren MUI Pusat menyelesaikan program Short Course Kurikulum Pesantren.
Sekretaris Komisi Pesantren MUI Pusat Dr Muhammad Iqbal mengatakan, pendataan manuskrip menjadi langkah strategis untuk menyelamatkan warisan pemikiran ulama terdahulu.
Menurut dia, manuskrip keagamaan karya para kiai dan ulama pesantren tidak sekadar menjadi peninggalan sejarah. Naskah-naskah tersebut juga menyimpan kearifan lokal serta metodologi keilmuan yang penting bagi perkembangan peradaban Islam di Indonesia.
“Setelah pelaksanaan Short Course kurikulum pesantren terlaksana, fokus kami selanjutnya adalah menyusun Rencana Tindak Lanjut berupa pendataan manuskrip-manuskrip pesantren secara sistematis,” ujar Iqbal saat memaparkan Laporan Program Prioritas dalam Rapat Pleno Komisi Pesantren MUI Pusat di Aula Buya Hamka, Gedung MUI Pusat, Jakarta, Rabu (7/10/2026), sebagaimana dilansir dari MUI Digital.
Baca juga: Saudi Pamerkan Manuskrip Al-Qur’an Kuno, Usia 1.000 Tahun
Iqbal menjelaskan, pendataan tersebut diharapkan menjadi tahap awal untuk mengetahui sekaligus memetakan keberadaan manuskrip pesantren yang selama ini tersebar di berbagai daerah.
Dengan pendataan secara sistematis, keberadaan naskah-naskah peninggalan ulama dapat diketahui dan menjadi bagian dari upaya pelestarian khazanah intelektual Islam Nusantara.
Menurut Iqbal, manuskrip pesantren memiliki nilai penting karena merekam pemikiran dan tradisi keilmuan yang berkembang di lingkungan pesantren pada masa sebelumnya.
Karena itu, upaya pelestariannya dinilai tidak cukup hanya dengan menjaga keberadaan fisik naskah, tetapi juga perlu memastikan kandungan keilmuan di dalamnya dapat dipahami oleh generasi berikutnya.
Upaya pelestarian manuskrip tersebut juga diarahkan untuk berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas kader ulama.
Ketua Komisi Pesantren MUI Pusat Basnang Said mendorong agar materi kepesantrenan dapat diintegrasikan secara resmi ke dalam program Pendidikan Kader Ulama (PKU-MUI).
“Penguatan literasi, pemahaman manuskrip, serta tata kelola satuan pendidikan pesantren penting diintegrasikan ke dalam kurikulum kaderisasi ulama agar lulusannya memiliki pemahaman mendalam tentang akar tradisi keilmuan pesantren,” tutur Basnang.
Menurut dia, pemahaman terhadap manuskrip dan tradisi keilmuan pesantren penting bagi kader ulama agar tidak terputus dari akar intelektual yang telah berkembang di lingkungan pesantren.
Rapat pleno tersebut turut dihadiri jajaran pimpinan Komisi Pesantren MUI Pusat, di antaranya Prof Muhammad Noor Harisudin dan KH Atok Romli Musthofa.
Dalam rapat tersebut disepakati bahwa inventarisasi naskah klasik dan modernisasi kurikulum merupakan bagian penting dalam menjaga sanad keilmuan sekaligus jati diri pesantren di tengah perkembangan zaman.
Dua langkah tersebut dinilai dapat berjalan beriringan. Di satu sisi, manuskrip lama perlu diselamatkan dan dipetakan. Di sisi lain, pengetahuan yang terkandung di dalamnya perlu terus dipahami dan dikembangkan melalui proses kaderisasi ulama.
Baca juga: Rahasia Pesantren Buntet Bertahan 275 Tahun: Manuskrip, Sorogan, dan Bandongan
Melalui langkah tersebut, Komisi Pesantren MUI Pusat berupaya memastikan warisan intelektual pesantren tidak berhenti sebagai koleksi naskah lama.
Khazanah tersebut diharapkan tetap hidup melalui pemahaman dan pengembangan oleh generasi ulama berikutnya, sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam Nusantara.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.