Editor
KOMPAS.com - Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah Indonesia memunculkan anggapan bahwa fenomena tersebut merupakan dukhan, salah satu tanda kiamat dalam ajaran Islam.
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, Prof. Dr. KH. Muammar Bakry, menjelaskan bahwa asap karhutla saat ini tidak dapat serta-merta disamakan dengan dukhan yang disebut dalam Al-Qur'an.
Baca juga: Mengenal Dukhan, Kemunculan Asap yang Disebut sebagai Tanda Besar Hari Kiamat
Dilansir dari laman MUI Sulsel, Muammar menjelaskan bahwa secara harfiah dukhan berarti asap. Namun, fenomena asap yang disebut dalam Surah Ad-Dukhan tidak serta-merta merujuk pada asap kebakaran hutan dan lahan yang terjadi saat ini.
“Dukhan itu dalam Al-Qur’an atau Surah Ad-Dukhan disebutkan nanti akan keluar sebagai awal tanda kiamat. Ya, itu dukhan,” kata Prof. Muammar dalam keterangannya, Kamis (15/10/2026).
Baca juga: Ilmuwan Jepang Prediksi Terjadinya Kiamat, Bumi Kehilangan Oksigen
Rektor Universitas Islam Makassar (UIM) Al-Gazali tersebut menerangkan, Surah Ad-Dukhan merupakan surah ke-44 dalam Al-Qur'an yang terdiri atas 59 ayat dan tergolong surah Makkiyah.
Ia kemudian mengutip potongan ayat yang berbunyi Fartaqib yauma ta’tis sama-u bidukhanim mubin, yang menggambarkan kemunculan kabut asap yang nyata.
Muammar menjelaskan, asap karhutla yang melanda sejumlah wilayah, terutama Kalimantan, telah mengganggu aktivitas masyarakat.
Dampaknya bahkan dilaporkan menjangkau negara tetangga dan menyebabkan sejumlah penerbangan mengalami penundaan hingga pembatalan.
“Asap yang terjadi saat ini dan hampir menyebar di Indonesia, terutama wilayah Kalimantan, dampaknya sampai ke negara tetangga, termasuk kita di Makassar. Banyak penerbangan yang tertunda bahkan dibatalkan akibat karhutla,” jelasnya.
Sekretaris Jenderal MUI Sulsel ini menambahkan, kebakaran hutan dan lahan dapat dipicu oleh pembakaran yang disengaja maupun kelalaian manusia.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya upaya pencegahan untuk mengurangi risiko kebakaran dan dampaknya terhadap masyarakat.
Selain aktivitas manusia, kemarau panjang akibat fenomena El Nino dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Kondisi lahan gambut yang mengering juga membuat wilayah tersebut lebih rentan mengalami kebakaran.
Karena itu, Muammar mengajak pemerintah dan masyarakat mengambil langkah nyata untuk mencegah karhutla sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
“Ini menjadi perhatian kita bersama. Tentu perlu ada langkah-langkah taktis dari pemerintah dan juga semua umat, semua warga Indonesia,” ucapnya.
Wakil Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Sulsel itu menegaskan, asap karhutla yang terjadi saat ini tidak dapat langsung diklaim sebagai dukhan yang dimaksud dalam Al-Qur'an.
Menurutnya, fenomena tersebut perlu menjadi pengingat bagi manusia untuk lebih bertanggung jawab dalam menjaga lingkungan dan mencegah kerusakan alam.
Upaya pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan pemerintah dan masyarakat agar dampaknya tidak semakin meluas.
Infografis. Prof. Dr. KH. Muammar Bakry, meluruskan anggapan bahwa asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah Indonesia merupakan dukhan, salah satu tanda kiamat dalam ajaran Islam.Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.