Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

MUI Sulsel Luruskan Anggapan Asap Karhutla sebagai Dukhan Tanda Kiamat

Kompas.com, 15 Oktober 2026, 22:24 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber MUI Sulsel

KOMPAS.com - Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah Indonesia memunculkan anggapan bahwa fenomena tersebut merupakan dukhan, salah satu tanda kiamat dalam ajaran Islam.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, Prof. Dr. KH. Muammar Bakry, menjelaskan bahwa asap karhutla saat ini tidak dapat serta-merta disamakan dengan dukhan yang disebut dalam Al-Qur'an.

Baca juga: Mengenal Dukhan, Kemunculan Asap yang Disebut sebagai Tanda Besar Hari Kiamat

Apa Itu Dukhan dalam Al-Qur'an?

Dilansir dari laman MUI Sulsel, Muammar menjelaskan bahwa secara harfiah dukhan berarti asap. Namun, fenomena asap yang disebut dalam Surah Ad-Dukhan tidak serta-merta merujuk pada asap kebakaran hutan dan lahan yang terjadi saat ini.

“Dukhan itu dalam Al-Qur’an atau Surah Ad-Dukhan disebutkan nanti akan keluar sebagai awal tanda kiamat. Ya, itu dukhan,” kata Prof. Muammar dalam keterangannya, Kamis (15/10/2026).

Baca juga: Ilmuwan Jepang Prediksi Terjadinya Kiamat, Bumi Kehilangan Oksigen

Rektor Universitas Islam Makassar (UIM) Al-Gazali tersebut menerangkan, Surah Ad-Dukhan merupakan surah ke-44 dalam Al-Qur'an yang terdiri atas 59 ayat dan tergolong surah Makkiyah.

Ia kemudian mengutip potongan ayat yang berbunyi Fartaqib yauma ta’tis sama-u bidukhanim mubin, yang menggambarkan kemunculan kabut asap yang nyata.

Asap Karhutla Berdampak pada Aktivitas Masyarakat

Muammar menjelaskan, asap karhutla yang melanda sejumlah wilayah, terutama Kalimantan, telah mengganggu aktivitas masyarakat.

Dampaknya bahkan dilaporkan menjangkau negara tetangga dan menyebabkan sejumlah penerbangan mengalami penundaan hingga pembatalan.

“Asap yang terjadi saat ini dan hampir menyebar di Indonesia, terutama wilayah Kalimantan, dampaknya sampai ke negara tetangga, termasuk kita di Makassar. Banyak penerbangan yang tertunda bahkan dibatalkan akibat karhutla,” jelasnya.

Sekretaris Jenderal MUI Sulsel ini menambahkan, kebakaran hutan dan lahan dapat dipicu oleh pembakaran yang disengaja maupun kelalaian manusia.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya upaya pencegahan untuk mengurangi risiko kebakaran dan dampaknya terhadap masyarakat.

El Nino dan Lahan Gambut Meningkatkan Risiko Karhutla

Selain aktivitas manusia, kemarau panjang akibat fenomena El Nino dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Kondisi lahan gambut yang mengering juga membuat wilayah tersebut lebih rentan mengalami kebakaran.

Karena itu, Muammar mengajak pemerintah dan masyarakat mengambil langkah nyata untuk mencegah karhutla sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

“Ini menjadi perhatian kita bersama. Tentu perlu ada langkah-langkah taktis dari pemerintah dan juga semua umat, semua warga Indonesia,” ucapnya.

MUI Sulsel Ajak Masyarakat Menjaga Lingkungan

Wakil Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Sulsel itu menegaskan, asap karhutla yang terjadi saat ini tidak dapat langsung diklaim sebagai dukhan yang dimaksud dalam Al-Qur'an.

Menurutnya, fenomena tersebut perlu menjadi pengingat bagi manusia untuk lebih bertanggung jawab dalam menjaga lingkungan dan mencegah kerusakan alam.

Upaya pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan pemerintah dan masyarakat agar dampaknya tidak semakin meluas.

Infografis. Prof. Dr. KH. Muammar Bakry, meluruskan anggapan bahwa asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah Indonesia merupakan dukhan, salah satu tanda kiamat dalam ajaran Islam.Dok MUI Sulawesi Selatan Infografis. Prof. Dr. KH. Muammar Bakry, meluruskan anggapan bahwa asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah Indonesia merupakan dukhan, salah satu tanda kiamat dalam ajaran Islam.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar