Editor
BANDUNG, KOMPAS.com — Mengurus sertifikasi halal menjadi pekerjaan panjang bagi pemilik Warung Kopi Imah Babaturan di Kota Bandung.
Mereka membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat bulan untuk menelusuri bahan baku yang dipasok sekitar 300 pemasok.
Pemilik Imah Babaturan, Anggia Bonyta mengatakan, banyaknya bahan yang perlu diperiksa membuat proses pengurusan sertifikasi halal membutuhkan waktu berbulan-bulan.
“Sekitar 3–4 bulan, karena yang diurus lumayan banyak,” tutur Anggia kepada Kompas.com di Imah Babaturan cabang Tamansari, Bandung, Selasa (13/10/2026).
Baca juga: Menjajal Warkop Terkenal di Bandung Imah Babaturan, Menu, Jam Buka, hingga Fasilitas
Menurut Anggia, salah satu kendalanya adalah kesulitan memperoleh data mengenai bahan baku dari industri hulu yang sudah bersertifikat halal. Ia pun harus mengeceknya satu per satu.
Dengan sekitar 300 pemasok yang memasok kebutuhan warungnya, penelusuran tersebut menjadi pekerjaan tersendiri.
Ia perlu memastikan kehalalan bahan baku yang digunakan dalam sajian Imah Babaturan.
Persoalannya, menurut Anggia, belum semua pemasok memahami sertifikasi halal maupun cara mengurusnya.
Sebagian pemasok yang sudah berusia lanjut juga mengaku kesulitan menjalani proses tersebut.
Anggia akhirnya menawarkan bantuan agar pengurusannya dapat dilakukan bersama.
“Supplier yang tua itu bilang teu tiasa (tidak bisa mengurusnya), saya bilang sok ku abdi weh sakanteunan urus (sini biar sekalian saya yang urus),” ujarnya.
Pengalaman tersebut membuat Anggia berharap proses sertifikasi halal dapat semakin mudah dijalani pelaku usaha, termasuk pemasok bahan baku.
Baca juga: Pemerintah Siapkan 1,35 Juta Kuota Sertifikasi Halal Gratis untuk UMKM
Pengalaman mengurus sertifikasi halal menjadi bagian dari perjalanan Imah Babaturan yang menginjak usia 11 tahun pada 2026.
Usaha yang dibangun Mohammad Nurul Hudha dan Anggia Bonyta sejak 2015 itu mempertahankan masakan rumahan sebagai identitasnya di tengah beragam konsep tempat makan di Bandung.
Nama Imah Babaturan berasal dari bahasa Sunda yang berarti rumah teman. Nama tersebut menggambarkan suasana akrab yang ingin dihadirkan pengelola bagi orang-orang yang datang untuk makan.
Warkop ini menjadi salah satu tempat nongkrong rujukan anak Bandung karena menawarkan konsep unik dan makanan yang terasa benar-benar di rumah.
Namun, mempertahankan usaha selama lebih dari satu dekade juga berarti menghadapi perubahan biaya produksi dan kondisi penjualan.
Mohammad Nurul Hudha, yang akrab disapa Uyul, mengatakan, kenaikan harga bahan pangan membuat keuntungan usaha semakin tipis.
Ia mencontohkan harga ayam yang sebelumnya berkisar Rp35.000 hingga Rp38.000 per kilogram naik menjadi Rp48.000 per kilogram.
“Ya, mau gimana lagi. Margin semakin menipis. Kapaksa kita merugi dalam setiap porsi menu ayam yang disajikan,” ujar Uyul.
Kenaikan harga bahan baku membuat pengelola harus menghitung kembali biaya setiap sajian.
Mereka menghadapi tantangan menjaga harga jual sekaligus menanggung biaya produksi yang meningkat.
Selain itu, Uyul menyebut adanya penurunan pesanan pada sejumlah menu. Penjualan cumi sambal hijau, misalnya, sebelumnya mencapai sekitar 30 porsi per hari, kini menjadi sekitar 20 porsi.
Di tengah kondisi tersebut, Imah Babaturan tetap mempertahankan konsep masakan rumahan yang dibangun sejak awal.
Memasuki usia 11 tahun, pengelola menghadapi pekerjaan yang saling berkaitan: menelusuri kehalalan bahan baku dari ratusan pemasok serta menjaga usaha tetap berjalan di tengah kenaikan biaya dan perubahan jumlah pesanan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.