KOMPAS.com - Memaafkan orang yang menyakiti hati bukan perkara mudah. Ada kalanya seseorang memilih memaafkan demi ketenangan batin, tetapi tetap perlu menjaga jarak agar kesalahan yang sama tidak terulang.
Dalam Islam, memaafkan merupakan akhlak terpuji, tetapi tidak berarti seseorang harus menerima perlakuan buruk tanpa batas.
Islam mendorong umatnya untuk menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Namun, memaafkan perlu dibedakan dari membenarkan perbuatan yang salah.
Seseorang dapat melepaskan dendam sekaligus mengakui bahwa tindakan yang merugikan dirinya tidak dapat dibenarkan dan tetap perlu dipertanggungjawabkan.
Allah SWT menggambarkan keutamaan memaafkan dalam Surah Ali Imran ayat 134:
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Allażīna yunfiqūna fis-sarrā'i waḍ-ḍarrā'i wal-kāẓimīnal-gaiẓa wal-'āfīna 'anin-nās, wallāhu yuḥibbul-muḥsinīn.
Baca juga: Menjaga Privasi Anak Juga Bagian dari Adab dalam Islam
Artinya, “(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran: 134).
Ayat ini menempatkan kemampuan menahan amarah dan memaafkan sebagai bagian dari karakter orang bertakwa.
Memaafkan bukan tanda kelemahan, melainkan kemampuan mengendalikan diri ketika memiliki alasan untuk membalas.
Namun, ayat tersebut tidak mengharuskan seseorang menganggap perbuatan salah sebagai sesuatu yang benar.
Rasulullah SAW juga menjelaskan keutamaan memaafkan melalui hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah:
وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا
Wa mā zādallāhu 'abdan bi'afwin illā 'izzā.
Artinya, “Tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba karena pemberian maafnya, kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim nomor 2588).
Baca juga: 15 Warna Jilbab untuk Gamis Burgundy agar Terlihat Elegan
Hadis tersebut menerangkan bahwa memaafkan dapat menjadi jalan menuju kemuliaan. Seseorang tidak kehilangan kehormatannya karena memilih tidak membalas perlakuan buruk.
Namun, memaafkan tidak otomatis menghapus dampak kesalahan pelaku atau kewajiban memperbaiki kerugian.
Al-Qur'an menjelaskan keseimbangan antara balasan yang setimpal dan keutamaan memaafkan dalam Surah Asy-Syura ayat 40:
وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
Wa jazā'u sayyi'atin sayyi'atun miṡluhā, fa man 'afā wa aṣlaḥa fa ajruhu 'alallāh, innahū lā yuḥibbuẓ-ẓālimīn.
Artinya, “Balasan suatu keburukan adalah keburukan yang setimpal. Akan tetapi, siapa yang memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat), maka pahalanya dari Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang zalim.” (QS. Asy-Syura: 40).
Baca juga: Gus Baha Tangani Dakwah Digital, Ini Tugas 5 Wakil Rais Aam PBNU
Ayat ini menunjukkan bahwa memaafkan merupakan pilihan terpuji, tetapi tidak menghilangkan prinsip keadilan.
Frasa “memaafkan dan berbuat baik” menekankan pentingnya perbaikan. Memaafkan tidak harus berarti membiarkan pelaku mengulangi kesalahannya atau mengabaikan hak orang yang dirugikan.
Melansir laman NU Online membahas pentingnya memahami pemaafan secara proporsional.
Memaafkan tidak seharusnya dijadikan alasan untuk mengabaikan kesalahan atau membiarkan kerugian yang dialami seseorang tanpa penyelesaian.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang yang dirugikan tetap dapat meminta pelaku mengakui kesalahan, memperbaiki kerugian, atau menjalani proses hukum jika diperlukan.
Langkah tersebut berbeda dari balas dendam karena bertujuan memperoleh keadilan dan mencegah pelanggaran terulang.
Baca juga: Menag Minta Sekolah Gratis Cakup Biaya Asrama Santri
Memaafkan juga tidak selalu berarti hubungan harus kembali seperti semula. Seseorang dapat memaafkan teman yang mengkhianati kepercayaan, tetapi tetap membatasi informasi pribadi yang dibagikan kepadanya.
Demikian pula, seseorang dapat memaafkan anggota keluarga tanpa membiarkan perlakuan merugikan terus berlangsung.
Batas tersebut dapat menjadi bentuk perlindungan diri, bukan tanda bahwa seseorang gagal memaafkan.
Jika kesalahan terus berulang, menjaga jarak dan mencari bantuan dari pihak tepercaya dapat menjadi langkah bijak.
Memaafkan tidak mengharuskan seseorang kembali ke situasi yang membahayakan dirinya.
Pada akhirnya, memaafkan merupakan upaya melepaskan dendam tanpa kehilangan kemampuan membedakan yang benar dan salah.
Islam mengajarkan kelapangan hati sekaligus menghargai keadilan. Seseorang dapat memaafkan dengan tulus, meminta pertanggungjawaban secara patut, dan menjaga batas agar kesalahan yang sama tidak terulang.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.