Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Imah Babaturan 11 Tahun Bertahan hingga Repotnya Mengurus Sertifikasi Halal

Kompas.com, 15 Oktober 2026, 15:02 WIB
Reni Susanti

Editor

BANDUNG, KOMPAS.com — Mengurus sertifikasi halal menjadi pekerjaan panjang bagi pemilik Warung Kopi Imah Babaturan di Kota Bandung.

Mereka membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat bulan untuk menelusuri bahan baku yang dipasok sekitar 300 pemasok.

Pemilik Imah Babaturan, Anggia Bonyta mengatakan, banyaknya bahan yang perlu diperiksa membuat proses pengurusan sertifikasi halal membutuhkan waktu berbulan-bulan.

“Sekitar 3–4 bulan, karena yang diurus lumayan banyak,” tutur Anggia kepada Kompas.com di Imah Babaturan cabang Tamansari, Bandung, Selasa (13/10/2026).

Baca juga: Menjajal Warkop Terkenal di Bandung Imah Babaturan, Menu, Jam Buka, hingga Fasilitas

Menurut Anggia, salah satu kendalanya adalah kesulitan memperoleh data mengenai bahan baku dari industri hulu yang sudah bersertifikat halal. Ia pun harus mengeceknya satu per satu.

Dengan sekitar 300 pemasok yang memasok kebutuhan warungnya, penelusuran tersebut menjadi pekerjaan tersendiri.

Ia perlu memastikan kehalalan bahan baku yang digunakan dalam sajian Imah Babaturan.

Membantu pemasok mengurus sertifikasi halal

Persoalannya, menurut Anggia, belum semua pemasok memahami sertifikasi halal maupun cara mengurusnya.

Sebagian pemasok yang sudah berusia lanjut juga mengaku kesulitan menjalani proses tersebut.

Anggia akhirnya menawarkan bantuan agar pengurusannya dapat dilakukan bersama.

“Supplier yang tua itu bilang teu tiasa (tidak bisa mengurusnya), saya bilang sok ku abdi weh sakanteunan urus (sini biar sekalian saya yang urus),” ujarnya.

Pengalaman tersebut membuat Anggia berharap proses sertifikasi halal dapat semakin mudah dijalani pelaku usaha, termasuk pemasok bahan baku.

Baca juga: Pemerintah Siapkan 1,35 Juta Kuota Sertifikasi Halal Gratis untuk UMKM

Sebelas tahun mempertahankan masakan rumahan

Pengalaman mengurus sertifikasi halal menjadi bagian dari perjalanan Imah Babaturan yang menginjak usia 11 tahun pada 2026.

Usaha yang dibangun Mohammad Nurul Hudha dan Anggia Bonyta sejak 2015 itu mempertahankan masakan rumahan sebagai identitasnya di tengah beragam konsep tempat makan di Bandung.

Nama Imah Babaturan berasal dari bahasa Sunda yang berarti rumah teman. Nama tersebut menggambarkan suasana akrab yang ingin dihadirkan pengelola bagi orang-orang yang datang untuk makan.

Warkop ini menjadi salah satu tempat nongkrong rujukan anak Bandung karena menawarkan konsep unik dan makanan yang terasa benar-benar di rumah.

Namun, mempertahankan usaha selama lebih dari satu dekade juga berarti menghadapi perubahan biaya produksi dan kondisi penjualan.

Mohammad Nurul Hudha, yang akrab disapa Uyul, mengatakan, kenaikan harga bahan pangan membuat keuntungan usaha semakin tipis.

Ia mencontohkan harga ayam yang sebelumnya berkisar Rp35.000 hingga Rp38.000 per kilogram naik menjadi Rp48.000 per kilogram.

“Ya, mau gimana lagi. Margin semakin menipis. Kapaksa kita merugi dalam setiap porsi menu ayam yang disajikan,” ujar Uyul.

Menghadapi kenaikan biaya dan penurunan pesanan

Kenaikan harga bahan baku membuat pengelola harus menghitung kembali biaya setiap sajian.

Mereka menghadapi tantangan menjaga harga jual sekaligus menanggung biaya produksi yang meningkat.

Selain itu, Uyul menyebut adanya penurunan pesanan pada sejumlah menu. Penjualan cumi sambal hijau, misalnya, sebelumnya mencapai sekitar 30 porsi per hari, kini menjadi sekitar 20 porsi.

Di tengah kondisi tersebut, Imah Babaturan tetap mempertahankan konsep masakan rumahan yang dibangun sejak awal.

Memasuki usia 11 tahun, pengelola menghadapi pekerjaan yang saling berkaitan: menelusuri kehalalan bahan baku dari ratusan pemasok serta menjaga usaha tetap berjalan di tengah kenaikan biaya dan perubahan jumlah pesanan.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar