Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengenal Dukhan, Kemunculan Asap yang Disebut sebagai Tanda Besar Hari Kiamat

Kompas.com, 15 Oktober 2026, 20:14 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Dukhan atau asap menjadi salah satu tanda besar kiamat yang disebutkan dalam sejumlah hadis Nabi Muhammad SAW.

Meski demikian, penafsiran mengenai dukhan memiliki beragam pandangan sehingga umat Islam perlu memahami dalil dan penjelasan ulama tanpa terburu-buru mengaitkannya dengan peristiwa tertentu.

Berikut penjelasan makna dukhan dalam hadits dan penafsiran ulama dengan merujuk pada teks hadits dan penjelasan dari berbagai sumber.

Baca juga: Ilmuwan Jepang Prediksi Terjadinya Kiamat, Bumi Kehilangan Oksigen

Apa Itu Dukhan dalam Hadis tentang Tanda Kiamat?

Dilansir dari NU Online, hadis-hadis menyebutkan dukhan sebagai salah satu tanda besar kiamat atau asyaratus-sa‘ah.

Salah satunya ada dalam Musnad Ahmad dan Shahih Muslim, Abu Hurairah meriwayatkan sabda Nabi Muhammad SAW:

Baca juga: Tafsir Surat Al-Qari’ah: Gunung seperti Bulu Berhamburan Saat Kiamat

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ سِتًّا طُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَالدَّجَّالَ وَالدُّخَانَ وَدَابَّةَ الْأَرْضِ وَخُوَيْصةَ أَحَدِكُمْ وَأَمْرَ الْعَامَّةِ وَكَانَ قَتَادَةُ يَقُولُ إِذَا قَالَ وَأَمْرَ الْعَامَّةِ قَالَ أَيْ أَمْرُ السَّاعَةِ

Artinya, “Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda, ‘Bersegeralah kalian melakukan amal-amal (saleh) sebelum datang enam hal: terbitnya matahari dari barat, Dajjal, asap (dukhan), binatang melata dari bumi (dabbatul-ardh), perkara khusus salah seorang dari kalian (yaitu kematian), dan urusan umum’. Qatadah berkata, ketika beliau menyebut ‘urusan umum,’ beliau menafsirkannya sebagai: ‘yaitu perkara kiamat’.” (HR Ahmad dan Muslim).

Hadis tersebut mengingatkan umat Islam agar bersegera melakukan amal saleh sebelum datangnya sejumlah peristiwa besar, termasuk kemunculan dukhan.

Dalam Sunan at-Tirmidzi, Hudzaifah bin Asid al-Ghifari juga meriwayatkan hadis mengenai tanda-tanda besar kiamat:

أَشْرَفَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ غُرْفَةٍ وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ السَّاعَةَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَرَوْا عَشْرَ آيَاتٍ : طُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا ، وَيَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ ، وَالدَّابَّةَ ، وَثَلاَثَةَ خُسُوفٍ : خَسْفٌ بِالمَشْرِقِ ، وَخَسْفٌ بِالمَغْرِبِ ، وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ العَرَبِ ، وَنَارٌ تَخْرُجُ مِنْ قَعْرِ عَدَنَ تَسُوقُ النَّاسَ أَوْ تَحْشُرُ النَّاسَ ، فَتَبِيتُ مَعَهُمْ حَيْثُ بَاتُوا ، وَتَقِيلُ مَعَهُمْ حَيْثُ قَالُوا

Artinya, “Rasulullah SAW pernah muncul di hadapan kami dari sebuah kamar atas (tempat yang tinggi), sementara kami sedang memperbincangkan tentang Hari Kiamat. Beliau bersabda, ‘Kiamat tidak akan terjadi hingga kalian menyaksikan sepuluh tanda besar: terbitnya matahari dari arah barat, kemunculan Ya’juj dan Ma’juj, binatang melata (dabbah), tiga peristiwa gerhana bumi, gerhana di timur, gerhana di barat, dan gerhana di Jazirah Arab, serta munculnya api dari dasar kota Aden yang menggiring manusia atau mengumpulkan mereka. Api itu akan bermalam bersama mereka di mana pun mereka bermalam, dan akan berhenti (istirahat) bersama mereka di mana pun mereka berhenti istirahat (qailulah)’.” (HR At-Tirmidzi).

Kedua hadis tersebut menyebutkan dukhan bersama sejumlah tanda besar kiamat lainnya, seperti Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj, serta terbitnya matahari dari barat.

Dalam konteks ini, dukhan dipahami sebagai salah satu fenomena yang berkaitan dengan peristiwa menjelang kiamat.

Namun, penafsiran mengenai asap tersebut tidak sepenuhnya seragam. Salah satu pandangan yang berkembang mengaitkan dukhan dengan fenomena yang pernah terjadi pada masa kaum Quraisy, sebagaimana dijelaskan dalam hadis lain.

Apa Saja Perbedaan Pendapat Ulama tentang Dukhan?

Dikutip dari Antara, sejumlah ulama memiliki pandangan berbeda dalam menafsirkan dukhan atau asap yang disebut dalam hadis tentang tanda-tanda kiamat.

Perbedaan tersebut mencakup makna dukhan, peristiwa yang melatarbelakanginya, hingga kaitannya dengan hari akhir.

Pertama, sebagian ulama berpendapat bahwa dukhan merupakan salah satu tanda besar kiamat yang belum terjadi.

Kedua, dukhan ditafsirkan sebagai khayalan atau gangguan penglihatan yang dialami kaum Quraisy ketika mereka mengalami kelaparan ekstrem setelah Nabi Muhammad SAW berdoa agar mereka mendapat ujian seperti kaum Nabi Yusuf AS.

Ketiga, terdapat pendapat yang mengaitkan dukhan dengan debu yang mengepul ketika kaum Muslimin meraih kemenangan atas Kota Mekkah. Debu tersebut digambarkan menutupi langit.

Sementara itu, beredar pula anggapan bahwa dukhan merupakan kabut asap yang gelap dan tebal, disertai kondisi panas serta ketiadaan oksigen, hingga membuat bumi gelap gulita menjelang kiamat.

Namun, hadis yang dijadikan dasar untuk menggambarkan dukhan dengan kondisi tersebut dinilai oleh sejumlah ulama memiliki persoalan dari segi kualitas periwayatan dan substansinya.

Karena itu, kebenaran anggapan tersebut perlu ditelaah berdasarkan sumber hadis dan penjelasan ulama, bukan diterima begitu saja.

Penafsiran Dukhan Menurut Ibnu Mas'ud

Dilansir dari NU Online, Masruq, seorang tabi'in senior, pernah menceritakan penjelasan Abdullah bin Mas'ud mengenai dukhan. Kisah tersebut berkaitan dengan masa ketika Nabi Muhammad SAW mengajak kaum Quraisy memeluk Islam, tetapi mereka lambat menerima dakwah beliau.

Masruq berkisah, “Kami menemui Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata: ‘Wahai hadirin, siapa saja yang mengetahui sesuatu, hendaklah ia mengatakannya, dan siapa saja yang tidak mengetahui, hendaklah ia berkata: Allahu a‘lam... Aku akan menceritakan kepada kalian tentang asap (dukhan). Sesungguhnya Rasulullah SAW mengajak kaum Quraisy kepada Islam, tetapi mereka lambat menerima, maka Nabi berdoa: ‘Ya Allah, tolonglah aku atas mereka dengan tujuh tahun (kelaparan) seperti tujuh tahun (kelaparan) Yusuf.’ Maka seketika kaum Quraiys ditimpa kelaparan hingga menghabiskan segala sesuatu, bahkan memakan bangkai dan kulit, sehingga seseorang melihat antara dirinya dan langit seperti ‘asap’ karena kelaparan.” (HR Al-Bukhari, Dar Tauq an-Najat, edisi pertama, 1422 H, jilid VI, hlm. 124).

Menurut Ibnu Mas'ud, dukhan dalam hadis tersebut merujuk pada kabut atau ilusi optik yang dialami kaum Quraisy akibat kelaparan ekstrem. Kondisi itu melemahkan penglihatan mereka hingga langit terlihat seperti tertutup asap.

Pandangan serupa juga didukung sejumlah ulama, di antaranya Ibnu Abbas, Mujahid, dan al-Farra. Penafsiran tersebut turut dijelaskan dalam Tafsir al-Jalalayn, sebagaimana dikutip dalam al-Kawkab ad-Durri ‘ala Jami‘ at-Tirmidzi karya Rasyid Ahmad al-Kankuhi (India, Mathba’ah Nadwah al-‘Ulama, 1395 H, jilid IV, hlm. 263).

Perbedaan penafsiran tersebut menunjukkan pentingnya memahami konteks hadis dan penjelasan ulama sebelum menyimpulkan makna dukhan.

Karena itu, penyebutan asap sebagai tanda kiamat tidak serta-merta menjadi dasar untuk memastikan bahwa suatu fenomena tertentu merupakan dukhan yang dimaksud dalam hadis.

Dukhan dan Misteri Kapan Hari Kiamat Terjadi

Keingintahuan mengenai waktu terjadinya kiamat telah lama dibahas dalam ajaran Islam. Al-Qur'an menegaskan bahwa pengetahuan tentang waktu kiamat merupakan hak Allah SWT, sebagaimana tercantum dalam Surah Al-A'raf ayat 187:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ رَبِّي ۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ۚ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً ۗ يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya, “Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat, ‘Kapan terjadi?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi, tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba.’ Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang (hari Kiamat) ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.’” (QS. Al-A'raf: 187).

Ayat tersebut menegaskan bahwa waktu terjadinya kiamat hanya diketahui Allah SWT. Karena itu, spekulasi atau prediksi mengenai waktu pasti hari akhir perlu disikapi secara hati-hati agar tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas juga menekankan bahwa manusia tidak mengetahui kapan kiamat akan terjadi.

"Menurut saya, yang tahu kapan kiamat itu akan tiba hanya Tuhan saja yang tahu. Nabi Muhammad SAW pun yang dicintai dan disayangi oleh Allah SWT tidak dikasih tahu oleh-Nya," kata Buya Anwar dalam keterangannya kepada Antara pada Rabu (6/8/2020).

Secara substansial, Anwar mengajak umat Islam dan masyarakat untuk mempersiapkan diri melalui amalan baik.

Menurutnya, tidak ada petunjuk mengenai tanggal pasti hari akhir sehingga setiap orang perlu menjalani kehidupan dengan tetap berbuat baik.

Ia menjelaskan bahwa umat Islam mengimani adanya kiamat kecil dan kiamat besar. Kiamat besar merupakan hari akhir, sedangkan kiamat kecil dapat merujuk pada kematian yang dialami setiap individu.

"Oleh karena itu, yang penting bagi kita lakukan adalah bagaimana kita bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi kiamat kecil yaitu kematian dari diri kita masing-masing," katanya.

Anwar juga mengajak umat Islam agar tidak panik dalam menyikapi pembahasan mengenai dukhan. Ia mengingatkan pentingnya memperbaiki diri sekaligus menjalankan urusan kehidupan secara seimbang.

"Kiamat itu urusan Allah dan bukan urusan kita. Jadi mari kita urusi apa yang menjadi tugas kita dan jangan kita urusi apa yang menjadi urusan Allah," katanya.

Menyikapi Dukhan dengan Memperbanyak Amal Saleh

Dukhan disebut dalam hadis sebagai salah satu tanda besar kiamat, tetapi penafsirannya memiliki sejumlah pandangan di kalangan ulama.

Penjelasan mengenai fenomena tersebut perlu dipahami dengan merujuk pada Al-Qur'an, hadis, dan keterangan ulama, bukan berdasarkan spekulasi semata.

Sebagaimana ditekankan Buya Anwar, umat Islam sebaiknya berfokus pada persiapan menghadapi kematian dan memperbanyak amal saleh karena waktu terjadinya kiamat hanya diketahui Allah SWT.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar