Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ilmuwan Jepang Prediksi Terjadinya Kiamat, Bumi Kehilangan Oksigen

Kompas.com, 6 April 2026, 13:41 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Gagasan tentang “kiamat” atau berakhirnya kehidupan di Bumi selalu memantik rasa ingin tahu manusia.

Dalam perkembangan terbaru, sekelompok ilmuwan mencoba memproyeksikan masa depan planet ini menggunakan pendekatan ilmiah berbasis simulasi superkomputer.

Hasilnya cukup mencengangkan. Dalam jangka waktu yang sangat panjang hingga sekitar satu miliar tahun ke depan, bumi diprediksi tidak lagi mampu menopang kehidupan seperti sekarang.

Temuan ini merupakan hasil studi kolaboratif antara peneliti yang terhubung dengan NASA dan Toho University, yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi Nature Geoscience.

Ketika Matahari Menjadi Ancaman Utama

Dalam kajian tersebut, para ilmuwan seperti Kazumi Ozaki dan Christopher T. Reinhard menyoroti satu faktor utama yang menentukan nasib Bumi di masa depan, evolusi Matahari.

Seiring waktu, Matahari diprediksi akan mengalami peningkatan intensitas energi. Dalam fase akhirnya, bintang ini akan memasuki tahap yang dikenal sebagai raksasa merah (red giant), yaitu kondisi ketika Matahari mengembang sangat besar hingga berpotensi menelan planet-planet terdekat, termasuk Merkurius, Venus, bahkan Bumi.

Namun, sebelum fase ekstrem itu terjadi, kehidupan di Bumi diperkirakan sudah lebih dahulu punah.

Penyebabnya bukan ledakan besar, melainkan perubahan bertahap yang lebih “sunyi” tetapi mematikan: hilangnya oksigen di atmosfer.

Baca juga: Makna Uban dalam Islam: Pengingat Ajal dan Cahaya di Hari Kiamat

Deoksigenasi: Ancaman Sunyi bagi Kehidupan

Penelitian berjudul The Future Lifespan of Earth’s Oxygenated Atmosphere menjelaskan bahwa peningkatan radiasi Matahari akan memicu reaksi kimia di atmosfer yang secara perlahan mengurangi kadar oksigen.

Dalam skenario ini, Bumi akan kembali ke kondisi purba, ketika oksigen hampir tidak ada. Padahal, oksigen merupakan elemen kunci bagi kehidupan kompleks, termasuk manusia.

Fenomena ini dikenal sebagai deoksigenasi global, dan menurut simulasi ilmiah, proses tersebut merupakan konsekuensi yang tidak dapat dihindari dari dinamika Matahari.

Dalam buku Astrobiology: A Brief Introduction karya Kevin W. Plaxco dijelaskan bahwa keberlangsungan kehidupan di planet sangat bergantung pada keseimbangan atmosfer dan energi bintang induknya. Ketika keseimbangan ini terganggu, kehidupan pun perlahan akan menghilang.

Bukan Kiamat Mendadak, Melainkan Proses Panjang

Berbeda dengan gambaran kiamat dalam film atau fiksi ilmiah, prediksi ilmuwan menunjukkan bahwa “akhir Bumi” justru terjadi secara bertahap.

Kenaikan suhu global akibat radiasi Matahari akan mempercepat penguapan air, merusak ekosistem, dan menghancurkan rantai kehidupan.

Dalam jangka panjang, kondisi ini akan membuat planet menjadi kering, panas, dan tidak layak huni.

Dalam buku The Life and Death of Planet Earth karya Peter D. Ward dan Donald Brownlee, dijelaskan bahwa kematian planet tidak selalu ditandai oleh kehancuran instan, melainkan oleh proses panjang penurunan kualitas lingkungan hingga kehidupan tidak lagi mungkin bertahan.

Baca juga: Misi “NEO Hunter” Siap Lindungi Bumi dari Asteroid, Ini Kaitannya dengan Tanda Kiamat dalam Al-Qur’an

Ancaman yang Lebih Dekat: Perubahan Iklim

Meski prediksi ilmiah tersebut terjadi dalam skala waktu miliaran tahun, para ilmuwan justru mengingatkan bahwa ancaman yang lebih dekat datang dari perubahan iklim yang sedang berlangsung saat ini.

Kenaikan suhu global, perubahan pola cuaca, serta meningkatnya frekuensi bencana alam menjadi indikator bahwa Bumi sudah mengalami tekanan serius.

World Health Organization memperkirakan bahwa dampak perubahan iklim dapat menyebabkan ratusan ribu kematian tambahan setiap tahun mulai dekade ini, terutama akibat penyakit, kekurangan pangan, dan bencana lingkungan.

Dengan kata lain, sebelum menghadapi “kiamat kosmik”, manusia terlebih dahulu dihadapkan pada tantangan menjaga keberlanjutan planet dalam waktu dekat.

Apakah Manusia Akan Bertahan?

Dalam skenario jangka panjang, beberapa ilmuwan berpendapat bahwa manusia mungkin tidak sepenuhnya punah, melainkan berpindah ke planet lain di Milky Way.

Konsep kolonisasi luar angkasa ini telah lama dibahas dalam dunia sains dan teknologi. Namun, hingga saat ini, hal tersebut masih berada dalam tahap pengembangan dan penuh tantangan.

Baca juga: Sungai Eufrat Terancam Kering 2040, Benarkah Tanda Kiamat dalam Hadis?

Perspektif Islam: Kiamat sebagai Rahasia Ilahi

Berbeda dengan pendekatan ilmiah yang berbasis prediksi, dalam Islam, waktu terjadinya kiamat merupakan rahasia mutlak Allah SWT.

Al-Qur’an menegaskan hal ini dalam Al-Qur'an Surah Al-Ahzab ayat 63, yang menyatakan bahwa pengetahuan tentang hari kiamat hanya berada di sisi Allah.

Selain itu, berbagai hadits Nabi Muhammad SAW menjelaskan tanda-tanda kiamat, baik yang bersifat kecil maupun besar.

Namun, semua itu tidak memberikan kepastian waktu, melainkan peringatan agar manusia selalu bersiap secara spiritual.

Dalam buku Tafsir Ibnu Katsir karya Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa ketidaktahuan manusia tentang waktu kiamat justru menjadi hikmah, agar manusia senantiasa meningkatkan keimanan dan amal.

Antara Sains dan Iman

Prediksi ilmuwan tentang masa depan Bumi memberikan gambaran rasional mengenai bagaimana alam semesta bekerja.

Namun, dalam konteks keimanan, kiamat tidak sekadar peristiwa fisik, melainkan juga peristiwa spiritual yang melibatkan dimensi kehidupan setelah mati.

Keduanya tidak harus dipertentangkan. Sains menjelaskan bagaimana alam semesta bisa berakhir, sementara agama menjawab mengapa manusia harus bersiap menghadapinya.

Refleksi: Waktu yang Masih Ada

Jika prediksi ilmiah berbicara tentang miliaran tahun ke depan, maka realitas kehidupan manusia justru jauh lebih singkat.

Ancaman nyata yang dihadapi saat ini, seperti kerusakan lingkungan dan krisis iklim menjadi pengingat bahwa “akhir” tidak selalu harus menunggu waktu yang sangat lama.

Pada akhirnya, baik melalui lensa sains maupun agama, satu pesan yang sama dapat ditarik: kehidupan di Bumi tidak bersifat abadi.

Dan justru karena itulah, manusia dituntut untuk menjaga, merawat, dan memaknainya sebaik mungkin selama waktu itu masih ada.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Kemenag Susun Materi Pendidikan Cegah Budaya LGBT Sesuai Perpres 111/2025
Kemenag Susun Materi Pendidikan Cegah Budaya LGBT Sesuai Perpres 111/2025
Aktual
Kemenkeu Setujui Tambahan Anggaran Tunjangan Guru-Dosen Kemenag Rp 5,7 T
Kemenkeu Setujui Tambahan Anggaran Tunjangan Guru-Dosen Kemenag Rp 5,7 T
Aktual
MUI Tolak Sertifikasi Halal Croissant Pattaya: Visual Vulgar Jadi Alasan
MUI Tolak Sertifikasi Halal Croissant Pattaya: Visual Vulgar Jadi Alasan
Aktual
MUI Ternyata Sudah Keluarkan Fatwa Hukuman Mati Koruptor Sejak 2005
MUI Ternyata Sudah Keluarkan Fatwa Hukuman Mati Koruptor Sejak 2005
Aktual
Museum Al-Qur'an di Makkah Ungkap Media Penulisan Wahyu pada Zaman Nabi Muhammad
Museum Al-Qur'an di Makkah Ungkap Media Penulisan Wahyu pada Zaman Nabi Muhammad
Aktual
Ketum Muhammadiyah Sebut Korupsi di Indonesia Sudah Gawat Darurat
Ketum Muhammadiyah Sebut Korupsi di Indonesia Sudah Gawat Darurat
Aktual
Keteladanan Syekh Izzuddin, Ulama yang Melawan Nepotisme dan Berani Kritik Penguasa
Keteladanan Syekh Izzuddin, Ulama yang Melawan Nepotisme dan Berani Kritik Penguasa
Aktual
Menag ke 119 Guru Besar Baru: Jangan Berhenti pada Gelar, Hadirkan Dampak bagi Bangsa
Menag ke 119 Guru Besar Baru: Jangan Berhenti pada Gelar, Hadirkan Dampak bagi Bangsa
Aktual
PFI Dukung Zakat Jadi Pengurang Pajak Langsung, Dinilai Bisa Dongkrak Kepatuhan dan Kurangi Kemiskinan
PFI Dukung Zakat Jadi Pengurang Pajak Langsung, Dinilai Bisa Dongkrak Kepatuhan dan Kurangi Kemiskinan
Aktual
GP Ansor Apresiasi Kunjungan Kapolri ke Mabes TNI dan Kejaksaan Agung
GP Ansor Apresiasi Kunjungan Kapolri ke Mabes TNI dan Kejaksaan Agung
Aktual
5 Hadits tentang Larangan LGBT dalam Islam, Lengkap dengan Penjelasan Ulama
5 Hadits tentang Larangan LGBT dalam Islam, Lengkap dengan Penjelasan Ulama
Aktual
Jelang Muktamar NU 2026, Gus Salam Safari ke 22 Wilayah untuk Serap Aspirasi
Jelang Muktamar NU 2026, Gus Salam Safari ke 22 Wilayah untuk Serap Aspirasi
Aktual
Surah Tiga Qul Lengkap (Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas) Keutamaan dan Waktu Terbaik Membacanya
Surah Tiga Qul Lengkap (Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas) Keutamaan dan Waktu Terbaik Membacanya
Doa dan Niat
6 Ayat Al-Quran tentang Larangan LGBT, Lengkap dengan Penjelasan Ulama Tafsir
6 Ayat Al-Quran tentang Larangan LGBT, Lengkap dengan Penjelasan Ulama Tafsir
Aktual
Rashdul Qiblat 15-16 Juli 2026, Ini Waktu dan Cara Cek Arah Kiblat Secara Akurat
Rashdul Qiblat 15-16 Juli 2026, Ini Waktu dan Cara Cek Arah Kiblat Secara Akurat
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar