KOMPAS.com – Setiap musim semi, dataran tinggi Taif di Arab Saudi berubah menjadi lanskap yang tak biasa.
Di tengah udara sejuk pegunungan dan lereng hijau, hamparan bunga mawar bermekaran serentak, menghadirkan aroma khas yang menyelimuti seluruh wilayah.
Fenomena ini bukan sekadar keindahan musiman, melainkan penanda dimulainya salah satu tradisi agrikultur paling berharga di kawasan tersebut, panen mawar Taif.
Tradisi ini telah berlangsung selama berabad-abad dan menjadi bagian penting dari identitas budaya serta ekonomi masyarakat setempat.
Dilansir dari Arab News, musim panen mawar di Taif biasanya berlangsung antara 35 hingga 45 hari, dimulai pada akhir Maret hingga awal Mei, ketika kondisi iklim berada pada titik paling ideal.
Baca juga: Gurun Sebagai Jejak Peradaban: Misteri Kota Batu Hegra di Arab Saudi
Wilayah Taif dikenal memiliki kondisi geografis yang unik dibandingkan kawasan Arab Saudi lainnya.
Terletak di Pegunungan Sarawat, daerah seperti Al-Hada dan Al-Shafa memiliki suhu relatif lebih sejuk, ketersediaan air yang cukup, serta tanah yang subur.
Faktor-faktor ini menjadikan Taif sebagai habitat ideal bagi pertumbuhan mawar berkualitas tinggi.
Kawasan ini memiliki lebih dari 900 kebun mawar dengan sekitar 1 juta lebih pohon. Dalam satu musim panen, produksi dapat mencapai ratusan juta bunga mawar.
Peningkatan produksi pada tahun-tahun terakhir juga didorong oleh kondisi cuaca yang stabil serta dukungan sistem irigasi yang semakin baik.
Petani lokal menyebutkan bahwa panen dilakukan pada pagi hari, saat kandungan minyak esensial dalam kelopak bunga berada pada titik optimal.
Proses ini dilakukan secara manual untuk menjaga kualitas bunga, yang nantinya akan diolah menjadi produk bernilai tinggi.
Setelah dipetik, bunga mawar segera dibawa ke tempat penyulingan tradisional yang dikenal sebagai “cooking pots”.
Di sinilah proses penting dimulai. Ribuan kelopak mawar dimasukkan ke dalam bejana tembaga besar bersama air dalam komposisi tertentu, lalu dipanaskan dengan api sedang.
Uap yang dihasilkan dari proses pemanasan ini mengandung minyak esensial mawar. Uap tersebut kemudian dialirkan melalui pipa menuju sistem pendingin, hingga akhirnya mengembun menjadi cairan bening yang harum, air mawar Taif.
Selain itu, proses ini juga menghasilkan minyak mawar murni yang dikenal sebagai salah satu minyak esensial termahal di dunia.
Dalam praktiknya, dibutuhkan sekitar 12.000 hingga 13.000 bunga mawar untuk menghasilkan satu unit kecil minyak mawar. Nilai ekonominya yang tinggi menjadikan produk ini sebagai komoditas premium di pasar global.
Dalam buku Perfume: The Art and Science of Scent karya Cathy Newman dijelaskan bahwa minyak mawar termasuk bahan paling kompleks dalam dunia parfum karena mengandung ratusan senyawa aromatik alami yang sulit direplikasi secara sintetis.
Hal ini menjelaskan mengapa minyak mawar Taif memiliki nilai yang sangat tinggi di industri wewangian.
Baca juga: Surga Mawar Arab Saudi! Panen Taif Melimpah, Hasilkan Minyak Wangi Termahal Dunia
Air mawar Taif tidak hanya dikenal di industri parfum dan kosmetik, tetapi juga memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Produk ini digunakan dalam berbagai bentuk, mulai dari bahan dasar parfum, sabun, dan produk perawatan kulit, hingga campuran dalam makanan dan minuman tradisional.
Dalam kuliner Timur Tengah, air mawar sering digunakan sebagai penambah aroma pada hidangan manis seperti kue, puding, dan minuman herbal. Kehadirannya memberikan sentuhan rasa yang khas dan memperkaya pengalaman kuliner.
Dalam buku The Flavor of Arabia karya Samar Haddad disebutkan bahwa air mawar merupakan salah satu bahan penting dalam tradisi kuliner Arab, tidak hanya sebagai penyedap, tetapi juga sebagai simbol kemewahan dan keramahan.
Seiring meningkatnya permintaan global, pemerintah Arab Saudi melalui berbagai program terus mendorong pengembangan industri mawar Taif.
Program seperti pengembangan pedesaan berkelanjutan dan dukungan finansial bagi petani menjadi bagian dari strategi besar dalam diversifikasi ekonomi.
Selain itu, pelatihan teknologi distilasi modern dan pengembangan produk turunan juga diperkenalkan untuk meningkatkan daya saing produk lokal di pasar internasional.
Upaya ini sejalan dengan visi besar transformasi ekonomi nasional yang berfokus pada sektor non-minyak.
Baca juga: Megaproyek The Line NEOM: Kota Futuristik Tanpa Jalan di Arab Saudi
Musim panen mawar juga membawa dampak signifikan pada sektor pariwisata. Kebun-kebun mawar di Taif kini menjadi destinasi wisata yang menarik, terutama bagi wisatawan yang ingin menyaksikan langsung proses panen dan penyulingan.
Para pengunjung tidak hanya menikmati pemandangan, tetapi juga belajar tentang tradisi lokal yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Hal ini menjadikan mawar Taif sebagai daya tarik budaya sekaligus ekonomi.
Pada tahun 2024, tradisi budidaya mawar Taif mendapatkan pengakuan global dari UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda.
Pengakuan ini menegaskan bahwa praktik tersebut tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga nilai budaya yang tinggi.
Bagi masyarakat Taif, mawar bukan sekadar tanaman atau komoditas pertanian. Ia adalah simbol identitas, warisan budaya, sekaligus sumber kehidupan.
Setiap musim semi, proses panen bukan hanya aktivitas ekonomi, tetapi juga perayaan kolektif yang mempererat hubungan sosial antarwarga.
Aroma mawar yang memenuhi udara menjadi pengingat bahwa di tengah perubahan zaman, tradisi masih memiliki tempat yang penting. Ia menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara budaya dan inovasi.
Dengan segala potensinya, mawar Taif tidak hanya memperkaya ekonomi lokal, tetapi juga menghadirkan inspirasi global tentang bagaimana sebuah tradisi dapat bertahan dan berkembang di tengah modernitas.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang