Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

KH Syukron Makmun Wafat, Ulama Teguh yang Melahirkan 250 Pesantren

Kompas.com, 18 Oktober 2026, 15:08 WIB
Farid Assifa

Penulis

KOMPAS.com – Kabar duka menyelimuti dunia pesantren dan umat Islam Indonesia. Pengasuh Pondok Pesantren Darul Rahman, KH Syukron Makmun bin KH Ma'mun Nawawi, wafat pada Minggu (18/10/2026).

Almarhum merupakan ayahanda Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta, KH Faiz Syukron Makmun.

Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis, mengenang almarhum sebagai ulama kharismatik yang dikenal memiliki keteguhan prinsip dan ketegasan dalam perjuangan.

Kiai Cholil yang memiliki hubungan kekerabatan dengan almarhum sebagai keponakan dalam trah Bani Ahmad, menyampaikan duka mendalam atas kepergian sang paman yang dinilainya menjadi panutan bagi keluarga dan umat.

"Beliau dikenal sebagai sosok yang memiliki keteguhan prinsip dalam berjuang dan dikenal ketegasannya," ujar Cholil Nafis dilansir dari MUI Digital, Minggu (18/10/2026).

Baca juga: Kisah Abdullah bin Salam yang Terganggu Asap Pembakaran Sampah Tetangga

Keteguhan Kiai Syukron Makmun Membuahkan Hasil

Menurut Kiai Cholil, keteguhan prinsip dan ketegasan sikap Kiai Syukron Makmun membuahkan hasil nyata dalam membina umat serta memajukan pendidikan Islam di Indonesia.

Salah satu bukti perjuangan almarhum terlihat dari perkembangan Pondok Pesantren Darul Rahman. Pesantren tersebut tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga melahirkan alumni yang mendirikan pesantren di berbagai daerah.

Kiai Cholil mengaku mendengar bahwa jumlah pesantren yang didirikan oleh alumni Darul Rahman telah mencapai lebih dari 250 pesantren.

"Saya mendengar lebih dari 250 pesantren yang didirikan oleh alumni Pesantren Darul Rahman. Kehidupan beliau dan bagaimana perjuangannya harus diteladani oleh generasi kami dan generasi berikutnya," kata Kiai Cholil.

Menurutnya, kiprah tersebut menjadi gambaran kontribusi Kiai Syukron Makmun dalam membangun pendidikan Islam melalui kaderisasi ulama dan pengembangan pesantren.

Jadi Panutan Keluarga dan Berharap Perjuangan Berlanjut

Di mata keluarga besar, Kiai Syukron Makmun bukan hanya dikenal sebagai ulama nasional, tetapi juga sosok paman yang dituakan, membimbing, dan menjadi kebanggaan keluarga.

Kiai Cholil menyebut ikatan keluarga mereka berasal dari garis keturunan Bani Ahmad. Karena itu, kepergian almarhum menjadi kehilangan mendalam bagi keluarga besar mereka.

"Ya saya berduka cita, beliau masih paman saya yang dibanggakan oleh seluruh keluarga kami, dituakan sebagai orang tua. Kami punya ikatan Bani Ahmad dari buyut yang sama, dan beliau bagian dari orang tua kami yang membimbing kami," tuturnya.

Kiai Cholil juga mendoakan agar seluruh amal kebaikan almarhum diterima Allah SWT dan segala kesalahannya diampuni.

Ia berharap perjuangan serta nilai-nilai yang diwariskan Kiai Syukron Makmun dapat diteruskan oleh keluarga, para santri, dan generasi penerus pesantren.

"Mudah-mudahan Gus Faiz dan seluruh keluarga dapat melanjutkan perjuangan beliau, dan cucu-cucu nanti akan lahir 'Kiai Syukron' berikutnya," harapnya.

Baca juga: Nyai Machfudhoh Aly Ubaid Wafat, Jejak Pengabdian untuk Santri dan Perempuan NU

Kabar wafatnya Kiai Syukron Makmun sebelumnya dikonfirmasi melalui akun Instagram resmi Pondok Pesantren Darul Rahman, @daarulrahman_official.

Kepergian Kiai Syukron Makmun meninggalkan jejak perjuangan dalam pengembangan pendidikan Islam dan dunia pesantren. Keteguhan prinsip, ketegasan sikap, serta kontribusinya dalam melahirkan generasi penerus menjadi teladan yang diharapkan terus hidup di kalangan santri dan umat Islam Indonesia.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Keistimewaan Umat Nabi Muhammad SAW, Apa Bedanya dari Umat Terdahulu?
Keistimewaan Umat Nabi Muhammad SAW, Apa Bedanya dari Umat Terdahulu?
Aktual
Mengapa Surah At-Taubah Tidak Diawali dengan Basmalah? Ini Penjelasannya
Mengapa Surah At-Taubah Tidak Diawali dengan Basmalah? Ini Penjelasannya
Aktual
KH Syukron Makmun Wafat, Ulama Teguh yang Melahirkan 250 Pesantren
KH Syukron Makmun Wafat, Ulama Teguh yang Melahirkan 250 Pesantren
Aktual
Kisah Abdullah bin Salam yang Terganggu Asap Pembakaran Sampah Tetangga
Kisah Abdullah bin Salam yang Terganggu Asap Pembakaran Sampah Tetangga
Aktual
Menhaj Sampaikan Imbauan Terkait Istitaah Haji 2027 dan Penerbangan Umrah
Menhaj Sampaikan Imbauan Terkait Istitaah Haji 2027 dan Penerbangan Umrah
Aktual
MUI Sesalkan Wajib Halal Ditunda hingga 2028, Minta Umat Islam Hindari Produk Tanpa Label Halal
MUI Sesalkan Wajib Halal Ditunda hingga 2028, Minta Umat Islam Hindari Produk Tanpa Label Halal
Aktual
Pemerintah Tunda Wajib Halal 18 Oktober 2026, Ini Daftar Produk yang Terdampak
Pemerintah Tunda Wajib Halal 18 Oktober 2026, Ini Daftar Produk yang Terdampak
Aktual
50 Ajengan PUI Berkumpul di Jakarta: Bahas Haji, Pinjol hingga Nazhir Wakaf
50 Ajengan PUI Berkumpul di Jakarta: Bahas Haji, Pinjol hingga Nazhir Wakaf
Aktual
UAS Ingatkan Polisi soal Gaji dari APBN: Jaga Iman dan Integritas
UAS Ingatkan Polisi soal Gaji dari APBN: Jaga Iman dan Integritas
Aktual
Hukum Membakar Hutan dalam Islam, QS Al-Baqarah Ayat 205 Menegaskan Larangan Berbuat Kerusakan di Bumi
Hukum Membakar Hutan dalam Islam, QS Al-Baqarah Ayat 205 Menegaskan Larangan Berbuat Kerusakan di Bumi
Aktual
MUI Ingatkan Penundaan Wajib Halal 2026 Berisiko Picu Ketidakpercayaan Publik
MUI Ingatkan Penundaan Wajib Halal 2026 Berisiko Picu Ketidakpercayaan Publik
Aktual
Kisah Abdullah bin Salam dan Asap Tetangga, Pelajaran tentang Menjaga Sesama
Kisah Abdullah bin Salam dan Asap Tetangga, Pelajaran tentang Menjaga Sesama
Aktual
6 Cara Mendampingi Orang yang Mengalami Tekanan Mental dalam Perspektif Islam
6 Cara Mendampingi Orang yang Mengalami Tekanan Mental dalam Perspektif Islam
Aktual
KH Subuki, Tokoh Bambu Runcing Parakan, Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
KH Subuki, Tokoh Bambu Runcing Parakan, Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Aktual
Sambut Hari Santri 2026, RMINU dan Kemenag Siapkan Nikah Massal 500 Santri
Sambut Hari Santri 2026, RMINU dan Kemenag Siapkan Nikah Massal 500 Santri
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar