Editor
KOMPAS.com - Abdurrahman bin Auf merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal memiliki kekayaan melimpah.
Namun, kekayaan tersebut justru membuatnya khawatir terhadap nasibnya di akhirat, sehingga ia berusaha memperbanyak sedekah untuk meringankan langkahnya menuju surga.
Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, M. Ishom el-Saha, menceritakan kisah Abdurrahman bin Auf melalui laman Kementerian Agama (Kemenag) yang beliau kutip dari kitab Rijal Haula Al Rasul karya Kholid Muhammad Kholid.
Baca juga: Kisah Abdullah bin Salam yang Terganggu Asap Pembakaran Sampah Tetangga
Di antara sekian banyak sahabat Rasulullah SAW, Abdurrahman bin Auf dikenal sebagai sosok yang sangat kaya. Ia dikisahkan pernah memborong dagangan dari Syam dan membawanya pulang ke Madinah dalam jumlah yang sangat besar.
Siti Aisyah menceritakan bahwa Abdurrahman bin Auf sering membawa pulang 700 kontainer dagangan. Rombongan barang tersebut digambarkan seperti barisan pawai yang tidak ada putusnya.
Baca juga: Kisah Abu Darda, Sahabat Nabi yang Memilih Ilmu daripada Kemewahan
Kekayaan Abdurrahman bin Auf juga dikisahkan berkaitan dengan sabda Rasulullah SAW tentang perjalanannya menuju surga. Nabi menyebut bahwa Abdurrahman akan memasuki surga dengan merangkak karena kekayaannya.
Para sahabat pun penasaran dengan perkataan tersebut. Mereka bertanya, "Kenapa dia masuk dengan merangkak tidak seperti sahabat lainnya yang berjalan super kilat pada waktu masuk surga?"
Rasulullah SAW menjawab: "Sebab dia terlalu kaya."
Mendengar sabda Rasulullah SAW tersebut, Abdurrahman bin Auf sering menangis dan berdoa agar dirinya menjadi miskin. Ia ingin memiliki keadaan seperti Musab bin Umair atau Hamzah yang hanya meninggalkan sehelai kain ketika meninggal dunia.
Dalam doanya, Abdurrahman bin Auf berkata: "Jadikan aku ini miskin! Aku ingin seperti Masab bin Umair atau Hamzah yang hanya meninggalkan sehelai kain pada saat meninggal dunia. Masab bin Umair ketika jasadnya dibungkus kafan, kakinya tertutup tapi kepalanya terbuka. Ketika ditarik ke atas, kepalanya tertutup tapi kakinya terbuka. Ya Allah!!"
Meski demikian, Abdurrahman bin Auf tetap menjalani kehidupannya sebagai orang kaya. Ia kemudian berkonsultasi kepada Rasulullah SAW tentang cara agar dapat memasuki surga dengan berjalan kaki, bukan merangkak.
Rasulullah SAW menjawab: "Perbanyak bersedekah niscaya kakimu menjadi ringan untuk masuk surga!"
Dalam catatan sejarah, Abdurrahman bin Auf mewasiatkan pembagian hartanya menjadi tiga bagian menjelang akhir hayatnya.
Sepertiga harta digunakan sebagai modal usaha bagi sahabatnya, sepertiga untuk melunasi utang-utangnya, dan sepertiga lainnya dibagikan kepada fakir miskin.
Pembagian tersebut menunjukkan upayanya memanfaatkan kekayaan untuk membantu orang lain.
Ia tidak hanya memikirkan kepentingan pribadi, tetapi juga berusaha meringankan beban sesama melalui hartanya.
Kisah Abdurrahman bin Auf mengingatkan bahwa kekayaan dapat menjadi sarana untuk melakukan kebaikan apabila dikelola dengan tepat.
Sedekah dan kepedulian kepada sesama menjadi pelajaran penting dari perjalanan hidup sahabat Nabi tersebut.
Melalui hartanya, Abdurrahman bin Auf berusaha mempersiapkan bekal akhirat sekaligus membantu orang-orang yang membutuhkan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.