Editor
JAKARTA, KOMPAS.com — Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, M Ishom el-Saha, menuturkan kisah Syekh Nawawi Al-Bantani yang mendapat ujian tentang tata bahasa Arab dari ulama Hijaz.
Pertanyaan yang dikirim melalui surat itu menyangkut i’rab atau kedudukan gramatikal ungkapan la siyama.
Ishom mengatakan, kisah tersebut didengarnya langsung dari almarhum Kiai Ridhwan, pengasuh Pesantren Al-Amin di Suburan, Mranggen.
Baca juga: Jadwal TKA Pesantren dan Madrasah Aliyah 2026 untuk Mapel Wajib, Pilihan, serta Ujian Susulan
Dalam penuturan gurunya itu, keluasan jawaban Syekh Nawawi membuat ulama yang mengujinya terkagum-kagum.
“Jawaban yang ditulis Syekh Nawawi sangat lengkap. Jawabannya di luar dugaan ulama Arab yang menganggap Syekh Nawawi sebagai orang ajam yang biasa hanya memaknai lafal ‘La Siyama’ dengan makna ‘opo meneh’ atau ‘apa lagi’,” tutur Ishom.
Menurut cerita Kiai Ridhwan yang disampaikan kembali oleh Ishom, peristiwa tersebut bermula ketika Syekh Nawawi pulang ke Banten.
Kepulangannya dikisahkan berkaitan dengan kecemburuan sebagian ulama Hijaz terhadap ketokohan ulama asal Nusantara itu.
Setelah Syekh Nawawi meninggalkan Makkah, kajian-kajian di kota tersebut disebut menjadi sepi penyimak. Keadaan itu mendorong munculnya gagasan untuk meminta Syekh Nawawi kembali ke Tanah Suci.
Namun, dalam kisah tersebut, sebagian ulama yang merasa tersaingi mengusulkan agar Syekh Nawawi terlebih dahulu diuji kemampuan keilmuannya.
Mereka kemudian mengirimkan surat berisi pertanyaan tentang i’rab la siyama. Jawaban atas pertanyaan itu dimaksudkan sebagai ukuran kelayakan Syekh Nawawi untuk kembali mengajar di Makkah.
Baca juga: Legislator Minta Ditjen Pesantren Perkuat 5 Aspek, dari Anggaran hingga Keamanan Santri
Ishom menuturkan, Syekh Nawawi menjawab pertanyaan tersebut secara tertulis dengan menguraikan setiap unsur dalam ungkapan la siyama.
Penjelasannya mencakup fungsi ungkapan tersebut untuk mengutamakan sesuatu yang disebut sesudahnya dibandingkan dengan yang disebut sebelumnya.
Dalam jawaban yang dikisahkan Kiai Ridhwan, Syekh Nawawi menjelaskan unsur la sebagai la nafiyah lil-jinsi. Adapun unsur siyya dijelaskan sebagai isim dari la yang berkedudukan nasab, sedangkan khabarnya diperkirakan atau tidak disebutkan secara tersurat.
Pembahasan juga mencakup unsur ma yang dapat dipahami sebagai ma ziyadah, ma maushul, atau ma nakirah, berikut konsekuensi gramatikal dari masing-masing kemungkinan tersebut.
Menurut Ishom, Syekh Nawawi turut menguraikan kemungkinan kedudukan kata setelah la siyama, baik rafa’, nasab, maupun jar, disertai alasan untuk setiap bentuk bacaan.
“Satu per satu kata dalam lafal ‘La Siyama’ dijelaskan panjang lebar,” tuturnya.
Surat jawaban itu kemudian dikirim kembali ke Makkah. Dalam cerita yang diterima Ishom, jawaban Syekh Nawawi dibuka dan dibacakan di hadapan ulama Hijaz.
Kelengkapan uraian tersebut dikisahkan mengundang kekaguman mereka sekaligus memperlihatkan kedalaman penguasaan Syekh Nawawi terhadap tata bahasa Arab.
Menurut penuturan Kiai Ridhwan yang disampaikan Ishom, Syekh Nawawi kemudian diterima kembali untuk mengajar di Makkah dan sangat dihormati dengan julukan Sayyid Ulama Hijaz.
“Demikian sekelumit cerita tentang Syekh Nawawi Banten yang saya dapatkan dari cerita guru kami, al-maghfurlah Kiai Ridhwan Suburan Mranggen,” ujar Ishom.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.