Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Pengangkatan Menjadi Nabi dan Turunnya Wahyu Pertama

Kompas.com, 3 September 2025, 10:41 WIB
Agus Susanto

Penulis

KOMPAS.dom - Pada saat berusia 40 tahun, Nabi Muhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasul Terakhir. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 17 Ramadhan.

Berikut kisah lengkap dari peristiwa tersebut.

Aktivitas Nabi Muhammad Sebelum Diangkat Menjadi Nabi

Sebelum diangkat menjadi Utusan Allah, Nabi Muhammad kerap merasakan keprihatinan atas kondisi masyarakat saat itu.

Berbagai bentuk penyimpangan yang ada membuat Nabi Muhammad bersedih dan kerap mengasingkan diri di dalam gua Hira’ yang terletak di Jabal Nur. Letaknya sekitar dua mil dari kota Mekkah. Aktivitas Nabi Muhammad ini kerap disebut dengan tahanuts atau uzlah.

Baca juga: Kisah Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Tahanuts mempunyai pengertian menyendiri untuk melakukan ibadah atau mendekatkan diri kepada Allah. Tentu ibadah yang dilakukan sesuai dengan keyakinan agama Ibrahim yang masih ada sisa-sisanya saat itu.

Sedangkan uzlah mempunyai makna mengasingkan diri. Keduanya biasa disebut untuk membahasakan aktivitas Nabi Muhammad sebelum diangkat menjadi Nabi.

Nabi Muhammad biasa melakukan tahanuts selama berhari-hari. Oleh karena itu, Nabi Muhammad membawa bekal makanan ke dalam gua dan acapkali membagikannya kepada orang-orang miskin yang ditemuinya.

Pada bulan Rajab dan Ramadhan, bahkan Nabi Muhammad bisa menghabiskan sebulan penuh berada di dalam gua.

Nabi Muhammad mulai membiasakan bertahanuts selama tiga tahun sebelum turunnya Nubuwah.

Sementara dalam 6 bulan terakhir sebelum masa kenabian, Nabi Muhammad kerap bermimpi yang merupakan salah satu dari tanda-tanda nubuwah.

Baca juga: Kisah Penyusuan Nabi Muhammad SAW kepada Halimah Sa’diyah

Pengangkatan Menjadi Nabi dan Turunnya Wahyu Pertama

Ketika sedang bertahanuts di Gua Hira, Rasulullah didatangi Malaikat Jibril saat sedang tidur sebagaimana Sabda Rasulullah:

"Jibril mendatangiku saat aku tidur dengan membawa secarik kain sutera yang di dalamnya terdapat tulisan."

Malaikat Jibril berkata: "Bacalah!"

Aku berkata: "Aku tidak bisa membaca."

Malaikat Jibril mendekapku dengan kain sutera tersebut hingga aku merasa seolah-olah sudah mati kemudian ia melepasku dan berkata: "Bacalah!"

Aku menjawab: "Apa yang mesti aku baca?"

Malaikat Jibril mendekapku dengan kain sutera itu hingga aku merasa seolah-olah sudah mati, kemudian ia melepasku kembali dan berkata: "Bacalah!"

Aku berkata: "Apa yang mesti aku baca?"

Jibril kembali mendekap kembali diri dengan sangat kencang dengan kain sutera tersebut hingga aku merasa seolah-olah sudah mati, kemudian ia melepasku, dan berkata: "Bacalah!"

Aku berkata: "Apa yang mesti aku baca?" Aku katakan itu dengan harapan ia melepasku sebagaimana yang sebelumnya ia lakukan terhadap diriku.”

Lalu Malaikat Jibrill membacakan surat Al ‘Alaq: 1-5.

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ - خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ - اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ - الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ - عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ

Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Nabi Muhammad pun mengikuti bacaan tersebut. Setelah itu Malaikat Jibril pergi. Nabi Muhammad merasa ayat tersebut sudah tersimpan dalam hatinya. Tak lama setelah itu, Nabi Muhammad keluar dari Gua Hira’ dan berjalan pulang.

Baca juga: Kisah Hidup Nabi Muhammad SAW: Masa Pengasuhan Ibu, Kakek, dan Paman

Saat berada di tengah-tengah gunung, tiba-tiba Rasulullah mendengar sebuah suara dari langit: "Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah sedangkan aku adalah Jibril."

Nabi Muhammad mendongakkan kepala ke langit dan melihat Malaikat Jibril dalam sosok seorang laki-laki yang membentangkan kedua kakinya ke ufuk langit.

Kemanapun Nabi Muhammad mengarahkan pandangannya, disitu Malaikat Jibril menampakkan diri. Nabi Muhammad hanya bisa berdiri mematung sebelum akhirnya pulang dengan rasa ketakutan mendalam.

Nabi Muhammad kemudian pulang menemui Khadijah dan berbaring di pahanya, bersandar merapat padanya.

Khadijah berkata: "Wahai suamiku, semalam kau kemana saja? Aku telah mengirim orang-orangku untuk mencarimu hingga mereka tiba di Mekkah Atas, kemudian pulang dengan tangan hampa." Maka aku ceritakan kepada Khadijah peristiwa yang baru saja aku alami.

Khadijah berkata: "Suamiku, bergembiralah, dan kokohlah. Demi Dzat yang jiwa Khadijah berada di Tangan-Nya, ku harap engkau diangkat menjadi Nabi untuk umat ini."

Pasca kejadian tersebut, Khadijah kemudian menemui sepupunya yang mendalami agama Kristen, Waraqah bin Naufal untuk meminta pendapatnya. Ternyata apa yang dialami

Nabi Muhammad merupakan sebuah pertanda yang sudah digariskan dalam kitab-kitab sebelumnya.

"Quddus, Quddus (Maha Suci) Allah, Demi Dzat yang jiwa Waraqah ada di Tangan-Nya, jika semua yang engkau tuturkan benar, wahai Khadijah, sungguh dia telah didatangi Jibril (Namus) yang dahulu pernah datang kepada Musa. Dia adalah Nabi untuk umat ini. Katakanlah padanya hendaknya ia bersabar," ujar Waraqah.

Baca juga: Kisah Pasukan Bergajah Menjelang Lahirnya Rasulullah SAW

Kondisi Nabi Muhammad setelah Menerima Wahyu

Setelah turunnya wahyu pertama, beberapa hari wahyu tidak turun. Pada masa itu Nabi Muhammad merasa gelisah dan sedih. Beberapa kali Nabi Muhammad naik ke puncak gunung dan berkeinginan untuk terjun ke bawah. Namun setiap kali niat itu muncul, bayangan

Malaikat Jibril nampak dan berkata, “Wahai Muhammad, engkau adalah benar-benar Rasul Allah.” Hal tersebut membuat Nabi Muhammad tenang kembali.

Ibnu Hajar menjelaskan bahwa pada masa terputusnya wahyu, Nabi Muhammad berusaha menenangkan diri dan mengusir kegelisahannya. Ketika hati Nabi Muhammad mulai teguh dan merindukan kedatangan wahyu berikutnya, Malaikat Jibril datang lagi untuk kedua kalinya.

Wahyu tersebut turun tatkala Nabi Muhammad sedang berjalan dan tiba-tiba terdengar suara dari langit. Nabi Muhammad mendongakkan pandangannya ke atas dan melihat Malaikat Jibril berada di antara langit dan bumi. Nabi Muhammad kemudian terjerembab jatuh ke tanah dan segera berlari pulang.

“Selimutilah aku, selimutilah aku,” seru Nabi Muhammad kepada Khadijah. Lalu turunlah Surat Al Mudatsir ayat 1-7.

يٰٓاَيُّهَا الْمُدَّثِّرُۙ قُمْ فَاَنْذِرْۖوَرَبَّكَ فَكَبِّرْۖ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْۖوَالرُّجْزَ فَاهْجُرْۖوَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُۖوَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْۗ

Artinya: “Hai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah. Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.”

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
Aktual
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Aktual
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Aktual
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar