KOMPAS.com - Dalam setiap ibadah yang dilakukan seorang muslim, harapan terbesarnya bukan sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan diterimanya amalan oleh Allah SWT.
Namun, pertanyaan yang kerap muncul di benak umat Islam adalah bagaimana mengetahui apakah suatu amalan benar-benar diterima?
Islam mengajarkan bahwa diterimanya amal bukan diukur dari banyak atau sedikitnya ibadah, melainkan dari kualitas batin yang menyertainya.
Para ulama klasik hingga kontemporer menjelaskan bahwa ada tanda-tanda spiritual yang dapat dirasakan seorang hamba ketika amalnya mendapatkan penerimaan dari Allah.
Baca juga: Hukum Pamer Kekayaan di Media Sosial Menurut Islam, Bisa Hapus Amal Kebaikan
Salah satu tanda paling mendasar dari diterimanya amalan adalah adanya perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.
Ibadah yang diterima akan meninggalkan jejak pada akhlak, cara berpikir, dan sikap hidup seseorang.
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim menjelaskan bahwa ketakwaan merupakan syarat utama diterimanya amal, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Ma’idah ayat 27.
Ketakwaan ini tidak berhenti pada ritual, tetapi tercermin dalam kehati-hatian menjalani hidup, menjauhi maksiat, serta konsisten dalam kebaikan.
Jika seseorang setelah beribadah justru lebih jujur, lebih sabar, dan lebih peduli kepada sesama, hal itu menjadi isyarat kuat bahwa amalnya tidak berhenti di langit dunia.
Baca juga: Isra Miraj Biasanya Ngapain? Ini Kegiatan dan Amalan yang Dianjurkan
Tanda berikutnya adalah meningkatnya keikhlasan. Amal yang diterima tidak melahirkan rasa bangga, apalagi keinginan untuk dipuji. Sebaliknya, ia justru membuat pelakunya semakin merasa kecil di hadapan Allah.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa ikhlas adalah ruh ibadah. Amal tanpa ikhlas ibarat jasad tanpa nyawa.
Ketika seseorang semakin menjaga niatnya dan merasa khawatir amalnya tercemar riya, itulah pertanda hatinya sedang dibersihkan oleh Allah.
Keikhlasan yang tumbuh setelah ibadah merupakan karunia yang tidak semua orang mendapatkannya.
Diterimanya amalan juga ditandai dengan keseimbangan antara rasa takut dan harap. Orang yang amalnya diterima tidak merasa aman dari murka Allah, tetapi juga tidak berputus asa dari rahmat-Nya.
Dalam Tafsir Ath-Thabari, dijelaskan bahwa QS. Al-Mu’minun ayat 60 menggambarkan orang beriman yang tetap cemas terhadap amalnya meskipun telah berbuat kebaikan.
Kecemasan ini bukan karena kurang yakin kepada Allah, melainkan karena kesadaran akan keterbatasan diri. Hati yang terus berharap diterima sekaligus takut ditolak adalah ciri spiritualitas yang sehat.
Baca juga: Isi Libur Isra Miraj dengan Amalan Penuh Pahala dan Keberkahan
Amal yang diterima akan melahirkan kecintaan kepada kebaikan. Seseorang akan merasa ringan dalam beribadah dan gelisah ketika terjatuh dalam dosa.
Syekh Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa kenikmatan dalam ketaatan adalah buah dari amal yang diberkahi.
Sebaliknya, kebencian terhadap maksiat menunjukkan bahwa hati masih hidup dan peka terhadap dosa.
Jika seseorang merasa sedih ketika lalai dan bahagia ketika bisa berbuat baik, itu adalah tanda iman yang tumbuh.
Ketenangan batin juga menjadi indikator penting. Amal yang diterima akan menghadirkan ketenteraman, bukan kegelisahan. Hati menjadi lebih lapang dalam menerima takdir dan lebih mudah bersandar kepada Allah.
Menurut Imam An-Nawawi dalam Syarah Riyadhus Shalihin, ketenangan hati setelah ibadah merupakan anugerah yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang tulus.
Ia tidak selalu datang dalam bentuk kemudahan hidup, tetapi dalam kekuatan menghadapi ujian.
Hati yang tenang adalah buah dari dzikir dan keyakinan, bukan semata-mata dari banyaknya amal.
Baca juga: 7 Amalan Ringan dengan Pahala Setara Haji dan Umroh
Meski tanda-tanda tersebut dapat dirasakan, para ulama sepakat bahwa seorang mukmin tidak boleh merasa pasti amalnya telah diterima. Justru keyakinan mutlak semacam itu dapat menjerumuskan pada ujub.
Imam Hasan Al-Bashri dalam Hilyatul Auliya’ mengatakan bahwa orang beriman menggabungkan amal terbaik dengan rasa takut yang mendalam, sementara orang munafik menggabungkan dosa dengan rasa aman.
Karena itu, tanda diterimanya amal bukan untuk membuat seseorang puas diri, melainkan untuk mendorongnya terus memperbaiki ibadah dan akhlak sepanjang hayat.
Pada akhirnya, hanya Allah yang Maha Mengetahui nilai sebuah amalan. Namun, ketika ibadah melahirkan keikhlasan, ketakwaan, ketenangan, dan kecintaan pada kebaikan, itulah harapan terbaik bahwa amal tersebut telah mendapatkan penerimaan di sisi-Nya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang