KOMPAS.com - Peristiwa Isra Miraj merupakan salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah kenabian.
Selain menjadi tanda kekuasaan Allah SWT, perjalanan ini juga mengandung banyak pertanyaan teologis yang terus dikaji hingga kini.
Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul yaitu pertanyaan, apakah Nabi Muhammad SAW melihat Allah SWT saat Isra Miraj?
Pertanyaan ini tidak hanya bersifat historis, tetapi juga menyentuh aspek akidah yang sangat mendasar dalam Islam.
Karena itu, para ulama sejak generasi sahabat hingga mufasir klasik memberikan perhatian serius terhadap persoalan ini.
Baca juga: Pertanyaan tentang Isra Miraj yang Jarang Dibahas dalam Sejarah Islam
Alquran mengabadikan peristiwa Isra dalam Surah Al-Isra ayat 1, yang menegaskan bahwa Allah memperjalankan Nabi Muhammad SAW pada malam hari untuk memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya.
Sementara peristiwa Mi’raj kenaikan Nabi ke langit hingga Sidratul Muntaha diisyaratkan dalam Surah An-Najm ayat 7–18.
Dalam kitab Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, karya Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa Isra Miraj adalah bentuk pemuliaan Allah kepada Rasul-Nya, sekaligus penguatan hati beliau setelah menghadapi tekanan berat dari kaum Quraisy.
Namun, Ibnu Katsir menegaskan bahwa Al-Qur’an tidak menyatakan secara eksplisit bahwa Nabi Muhammad SAW melihat dzat Allah secara langsung.
Baca juga: Peristiwa Isra Miraj Lengkap: Tahun Kesedihan hingga Perintah Sholat
Salah satu rujukan utama dalam pembahasan ini adalah hadis riwayat Imam Muslim. Dalam Shahih Muslim, diriwayatkan dari Abu Dzar RA bahwa ia pernah bertanya langsung kepada Rasulullah SAW:
“Wahai Rasulullah, apakah engkau melihat Tuhanmu?”
Nabi SAW menjawab: “Aku melihat cahaya.”
Hadis ini dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim. Menurutnya, jawaban Nabi tersebut menunjukkan bahwa yang disaksikan Rasulullah SAW bukanlah dzat Allah, melainkan nur (cahaya) sebagai hijab keagungan-Nya.
Hal ini sejalan dengan prinsip akidah Ahlus Sunnah bahwa Allah tidak dapat dilihat dengan mata kepala di dunia.
Baca juga: Pertanyaan tentang Isra Miraj yang Jarang Dibahas dalam Sejarah Islam
Pandangan yang paling tegas datang dari Ummul Mukminin Aisyah RA. Dalam hadis shahih yang juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, Aisyah RA menyatakan:
“Barang siapa mengklaim bahwa Muhammad SAW melihat Tuhannya, maka sungguh ia telah membuat kebohongan besar terhadap Allah.”
Aisyah RA kemudian menguatkan pendapatnya dengan ayat Alquran:
“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan.”
(QS. Al-An’am: 103)
Dalam kitab Al-Bidayah wan-Nihayah, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa pendapat Aisyah RA ini dipegang oleh mayoritas sahabat dan tabi’in, karena lebih selaras dengan dalil Al-Qur’an dan prinsip tauhid.
Baca juga: Cara Nabi Muhammad Menjawab Keraguan Quraisy soal Isra Miraj
Sebagian ulama, seperti yang dinukil dalam Fath al-Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani, mencatat adanya perbedaan pendapat di kalangan sahabat mengenai masalah ini.
Namun Ibnu Hajar menegaskan bahwa pendapat yang paling kuat adalah Nabi Muhammad SAW tidak melihat Allah dengan mata kepala, melainkan menyaksikan tanda-tanda kebesaran-Nya dan cahaya ilahi yang agung.
Pendapat ini juga diperkuat oleh Imam al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, yang menyatakan bahwa ru’yatullah (melihat Allah) secara langsung hanya akan diberikan kepada orang-orang beriman di akhirat kelak, bukan di dunia.
Baca juga: Khutbah Jumat Isra Miraj: Meneladani Hikmah Isra Miraj dalam Kehidupan Sehari-hari
Berdasarkan Alquran, hadis shahih, dan penjelasan para ulama klasik, dapat disimpulkan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak melihat Allah SWT secara langsung saat Isra Miraj.
Yang beliau saksikan adalah cahaya dan tanda-tanda kebesaran Allah sebagai bentuk pemuliaan dan penguatan iman.
Pemahaman ini tidak mengurangi kemuliaan Isra Miraj, justru menegaskan keagungan Allah SWT yang tidak dapat dicapai oleh penglihatan makhluk di dunia.
Peristiwa Isra Miraj tetap menjadi momentum spiritual yang mengajarkan ketundukan, keimanan, dan keagungan tauhid dalam Islam.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang