Editor
اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ.
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ الصَّلَاةَ عِمَادَ الدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ إِمَامِ الْمُتَّقِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
(Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Alhamdulillāhil ladzī ja‘alash-shalāta ‘imādad-dīn, wash-shalātu wassalāmu ‘alā sayyidinā Muhammadin imāmil muttaqīn, wa ‘alā ālihi wa ash-hābihi ajma‘īn)
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullāh,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, yakni dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Takwa itulah bekal terbaik dalam menjalani kehidupan di dunia dan keselamatan di akhirat kelak.
Baca juga: Khutbah Jumat Singkat: 4 Langkah Mewujudkan Impian Dalam Islam
Pada kesempatan Jumat yang mulia ini, marilah kita merenungkan peristiwa agung dalam sejarah Islam, yaitu Isra Miraj Nabi Muhammad SAW.
Sebuah perjalanan luar biasa yang Allah perjalankan hamba-Nya dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kemudian dinaikkan ke Sidratul Muntaha dalam satu malam.
Peristiwa Isra Miraj bukan sekadar kisah mukjizat, tetapi mengandung pelajaran besar bagi umat Islam, terutama tentang shalat lima waktu. Dalam peristiwa inilah, Rasulullah SAW menerima perintah salat langsung dari Allah SWT, tanpa perantara malaikat Jibril.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Hal ini menunjukkan bahwa shalat memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Shalat bukan hanya kewajiban ritual, tetapi tiang agama dan pembeda antara iman dan kekufuran. Rasulullah SAW bersabda:
الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
“Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, maka ia telah kafir. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Isra Miraj juga terjadi pada masa sulit dalam kehidupan Rasulullah SAW, setelah wafatnya istri tercinta Khadijah RA dan pamannya Abu Thalib. Dari sini kita belajar bahwa di balik kesulitan selalu ada pertolongan Allah, dan jalan keluar sering kali datang setelah kesabaran dan keikhlasan.
Oleh karena itu, marilah kita jadikan shalat sebagai tempat mengadu, tempat meminta pertolongan, dan sumber kekuatan dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh,
Mari kita renungkan kembali kualitas shalat kita. Apakah shalat kita sudah tepat waktu? Apakah sudah khusyuk? Apakah shalat kita sudah mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar?
Allah SWT berfirman:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)
Jika shalat belum membawa perubahan dalam akhlak dan perilaku kita, maka itu menjadi tanda bahwa shalat kita perlu diperbaiki.
Aqūlu qaulī hādzā, wastaghfirullāha lī wa lakum.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى
(Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Alhamdulillāh hamdan katsīran thayyiban mubārakan fīh, kamā yuhibbu rabbunā wa yardhāh)
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita kembali meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Ketakwaan yang tercermin dalam ibadah yang benar, akhlak yang mulia, serta kepedulian terhadap sesama.
Melalui peringatan Isra Miraj ini, marilah kita perkuat komitmen untuk menjaga shalat lima waktu, baik berjamaah di masjid maupun di mana pun kita berada.
Jangan sampai kesibukan dunia, pekerjaan, dan urusan lainnya membuat kita lalai dari kewajiban utama sebagai seorang Muslim.
Isra Miraj juga mengajarkan pentingnya kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab, nilai-nilai yang lahir dari shalat yang benar.
Dari shalat yang baik, diharapkan lahir pribadi yang amanah, adil, dan peduli terhadap lingkungan sekitar.
Di tengah tantangan zaman yang penuh fitnah, marilah kita jadikan shalat sebagai benteng iman, penenang jiwa, dan cahaya dalam kehidupan.
Akhirnya, marilah kita berdoa kepada Allah SWT:
اللَّهُمَّ اجْعَلِ الصَّلَاةَ قُرَّةَ أَعْيُنِنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُقِيمِينَ الصَّلَاةَ
(Allāhumma‘j‘alash-shalāta qurrata a‘yuninā, wa‘j‘alnā minal muqīmīnash-shalāh)
Ya Allah, jadikanlah shalat sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang menjaga shalat.
Baca juga: Khutbah Jumat 9 Januari 2026: Belajar Keteguhan Iman dari Abu Bakar di Peristiwa Isra Miraj
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ
فَاذْكُرُوا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
(Rabbana ātinā fid-dunyā hasanah, wa fil-ākhirati hasanah, wa qinā ‘adzāban-nār.
Innallāha ya’muru bil ‘adli wal ihsān wa ītāidzil qurba wa yanhā ‘anil fahshā’i wal munkari wal baghy.
Fadzkurullāha yadzkurkum, wasykurūhu ‘alā ni‘amihī yazidkum, wa la dzikrullāhi akbar)
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang