Editor
KOMPAS.com - Menjelang peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, banyak umat Islam bertanya-tanya tentang amalan yang bisa dilakukan pada momen tersebut.
Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah Isra Miraj boleh puasa atau tidak? Pertanyaan ini wajar, mengingat Isra Miraj merupakan peristiwa besar dalam sejarah Islam yang sarat makna spiritual.
Isra Miraj diperingati setiap tanggal 27 Rajab dalam kalender Hijriah. Dalam peristiwa inilah Rasulullah SAW menerima perintah salat lima waktu secara langsung dari Allah SWT.
Baca juga: Pertanyaan tentang Isra Miraj yang Sering Ditanyakan, dari Makna hingga Hikmah bagi Umat Islam
Karena keistimewaannya, sebagian umat Islam ingin mengisinya dengan ibadah tambahan, termasuk puasa.
Namun, bagaimana pandangan ulama mengenai puasa pada hari Isra Miraj?
Mayoritas ulama sepakat bahwa tidak ada dalil sahih dari Al-Qur’an maupun hadis yang secara khusus menganjurkan puasa pada tanggal 27 Rajab karena Isra Miraj. Hal ini ditegaskan oleh Imam Ibnu Taimiyah dalam Majmū‘ al-Fatāwā:
“Tidak ada riwayat yang sahih tentang pengkhususan malam Isra atau siangnya dengan ibadah tertentu.” (Majmū‘ al-Fatāwā, Jilid 25)
Pernyataan ini menunjukkan bahwa mengkhususkan puasa Isra Miraj sebagai ibadah tertentu dengan keutamaan khusus tidak memiliki dasar yang kuat.
Meski demikian, para ulama juga menegaskan bahwa puasa pada hari Isra Miraj tetap boleh, selama tidak diyakini sebagai puasa sunnah khusus. Imam An-Nawawi menjelaskan dalam Al-Majmū‘ Syarh al-Muhadzdzab bahwa:
“Puasa sunnah boleh dilakukan pada hari apa pun, kecuali pada hari-hari yang dilarang.”
Artinya, jika seseorang berpuasa pada tanggal 27 Rajab dengan niat puasa sunnah mutlak, puasa Senin-Kamis, atau puasa di bulan haram, maka puasanya sah dan berpahala.
Bulan Rajab sendiri termasuk salah satu dari empat bulan haram. Rasulullah SAW bersabda:
“Berpuasalah pada bulan-bulan haram dan tinggalkanlah.” (HR. Abu Dawud)
Hadis ini menjadi dasar bahwa puasa di bulan Rajab diperbolehkan secara umum, meskipun tanpa pengkhususan tanggal tertentu.
Ulama kontemporer seperti Syaikh Yusuf Al-Qaradawi juga menegaskan prinsip penting dalam ibadah:
“Ibadah yang bersifat khusus memerlukan dalil yang khusus.”
Beliau menjelaskan bahwa puasa pada hari Isra Miraj boleh dilakukan sebagai puasa sunnah biasa, tetapi tidak boleh diyakini memiliki keutamaan tertentu yang tidak pernah diajarkan Rasulullah SAW.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh lembaga keagamaan di Indonesia, seperti NU dan Muhammadiyah, yang menegaskan bahwa puasa Isra Miraj tidak dilarang, namun tidak disyariatkan secara khusus.
Berdasarkan penjelasan ulama dan dalil yang ada, jawaban atas pertanyaan Isra Miraj boleh puasa atau tidak adalah boleh, dengan catatan tidak meyakini adanya keutamaan khusus.
Baca juga: Khutbah Jumat Isra Miraj: Meneladani Hikmah Isra Miraj dalam Kehidupan Sehari-hari
Umat Islam dianjurkan untuk menjadikan Isra Miraj sebagai momentum memperbaiki kualitas shalat dan ibadah, bukan sekadar menambah ritual tanpa dasar yang jelas.
Isra Miraj pada hakikatnya adalah pengingat akan pentingnya salat sebagai tiang agama dan sumber kekuatan spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang