Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penampakan Berbagai Siksaan di Malam Isra Mi'raj: Peringatan Nyata Bagi Manusia

Kompas.com, 15 Januari 2026, 11:55 WIB
Agus Susanto

Penulis

KOMPAS.com - Peristiwa Isra Mi'raj memberikan banyak sekali pelajaran bagi manusia. Selain perintah untuk sholat dan bukti Kebesaran Allah SWT, peristiwa Isra Mi'raj memberikan pelajaran tentang bagaimana akhir kehidupan manusia yang banyak melakukan dosa.

Salah satu Kebesaran yang Allah SWT tunjukkan adalah gambaran siksaan bagi orang-orang yang banyak melakukan dosa di dunia. Dikutip dari kitab Dardir Bainama karya Syaikh Najmuddin Al Ghaithi, berikut beberapa gambaran siksaan di neraka.

Gambaran Siksaan di Neraka

1. Siksaan Orang yang Malas Sholat

Nabi Muhammad melihat sekelompok orang yang kepalanya pecah berantakan. Setelah itu kepala itu menjadi utuh kembali. Lantas pecah lagi. Hal itu berlangsung berulang-ulang.

Melihat kondisi tersebut, kemudian Nabi bertanya tentang apa sebab ia mendapat siksaan tersebut. Jibril menjawab bahwa orang tersebut adalah orang-orang yang berat mengerjakan sholat.

Baca juga: Keteguhan Bilal bin Rabah, Muazin Pertama, di Tengah Siksaan

2. Siksaan Orang yang Kikir

Nabi melihat sekelompok orang yang memakan dhari‘ (pohon kering dan berduri), zaqqum (tumbuhan yang rasanya pahit) dan batu yang panas. Ketika ditanyakan kepada Malaikat Jibril, itu adalah siksaan bagi orang yang kikir dan enggan bersedekah.

3. Siksaan bagi Pezina yang Sudah punya Pasangan

Gambaran siksaan orang yang berzina padahal sudah punya suami istri adalah seperti disediakan dua daging dihadapannya. Satu daging segar dan satu daging busuk.

Namun sekelompok pezina ini lebih memilih memakan daging busuk.

4. Siksaan bagi Orang yang Suka Merampas Harta

Gambaran siksaan orang yang suka merampas harta orang lain seperti kayu bakar di tengah jalan. Ketika ada orang lewat, sekelompok orang tersebut terbakar tanpa sisa.

Baca juga: Jangan Anggap Sepele, Menyakiti Tetangga Bisa Berujung Masuk Neraka

5. Siksaan Pemakan Riba

Orang-orang yang memakan harta riba siksaannya adalah berenang di genangan darah. Ini karena semasa hidupnya ia menghisap darah orang lain dengan mengambil harta dengan cara memungut bunga yang tinggi.

6. Siksaan Bagi Orang yang Rakus Jabatan

Gambaran siksaan orang yang rakus jabatan seperti orang yang memikul kayu bakar dan terus ditambah jumlah kayu bakar dalam pikulannya meskipun ia sudah tidak kuat. Beban yang terus bertumpuk itu akhirnya menggencetnya hingga binasa.

7. Siksaan Bagi Ulama yang Tidak Mengamalkan Ilmunya

Bagi para ulama yang mengajar manusia tetapi ia sendiri tidak mengamalkan ilmunya, maka siksaan yang didapatkan adalah ia menjulurkan lidahnya kemudian lidah itu digunting dengan gunting besi dari api neraka.

Lidah itu tumbuh lagi dan digunting lagi sepanjang waktu. Ini menjadi catatan penting bagi para penceramah yang seperti lilin. Ia mengajarkan ilmunya tetapi tidak mengamalkannya.

Baca juga: Fakta Malaikat Malik Sang Penjaga Neraka yang Jarang Diketahui

8. Siksaan bagi Para Pengumpat

Orang yang suka mengumpat dan menjelek-jelekkan orang lain, siksaannya adalah ditumbuhkan kukunya dari tembaga kemudian ia mencakar-cakar wajahnya sendiri.

Penutup

Siksaan di akhirat bagi orang-orang yang banyak melakukan dosa itu nyata. Di dunia, orang-orang yang melakukan banyak dosa sudah merasakan sedikit akibat dari perbuatannya. Sedangkan di akhirat, semua akan dibalas sepenuhnya.

Kisah di atas menjadi pelajaran bagi manusia untuk tidak melakukan dosa-dosa dan kemaksiatan yang dapat menyengsarakannya di akhirat kelak.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com