Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Shalahuddin Al Ayyubi Sang Penakluk Yerusalem, Dihormati Kawan dan Disegani Lawan

Kompas.com, 19 Januari 2026, 18:28 WIB
Agus Susanto

Penulis

KOMPAS.com - Shalahuddin Al Ayyubi adalah sosok yang harum namanya dalam sejarah Islam. ia adalah seorang pemimpin yang dihormati kawan dan disegani lawan. Merintis karir sebagai pendamping Sang Paman, berakhir menjadi seorang Penguasa yang luar biasa.

Kiprah terbesar Shalahuddin Al Ayyubi adalah menaklukkan Yerusalem dalam perang Suci yang disebut dengan Perang Salib. Sepanjang hidupnya ia mengabdikan diri untuk menegakkan dan meninggikan Islam.

Kisah hidupnya patut dikenang untuk dijadikan pelajaran bagi generasi mendatang. Berikut ini kisah hidup Shalahuddin Al Ayyubi dari lahir hingga wafat lengkap dengan pencapaian selama menjadi pemimpin Dinasti Ayyubiyah.

Baca juga: Usianya Belum 22 Tahun, Al-Fatih Taklukkan Kota yang Dianggap Mustahil

Lahir di Tengah Pengasingan

Shalahuddin lahir pada antara tahun 1137 dan 1138 M atau 532 H di Tikrit, wilayah Mesopotamia (kini Irak). Sejarawan klasik Ibnu Khallikan dalam Wafayat al-A‘yan mencatat bahwa ia berasal dari keluarga Kurdi yang memiliki tradisi militer dan administrasi.

Malam kelahirannya bertepatan dengan pengusiran keluarganya dari Tikrit akibat konflik politik. Ayahnya, Najmuddin Ayyub, adalah pejabat militer yang kemudian mengabdi pada penguasa Mosul dan Aleppo.

Sejak awal, hidup Shalahuddin dibingkai oleh perpindahan, ketidakpastian, dan kekuasaan. Pengalaman pahit inilah yang menempa Shalahuddin kecil menjadi manusia yang tangguh dalam segala keadaan dan berjuang mengakkan keadilan.

Dari Ilmu Agama ke Medan Perang

Menariknya, Shalahuddin muda bukan sosok yang bercita-cita menjadi panglima perang. Dalam Sirat Shalahuddin, biografi resmi yang ditulis sahabat dekatnya Baha’uddin Ibn Syaddad, ia digambarkan sebagai pemuda yang mencintai ilmu-ilmu agama, seperti fikih, hadits, sastra Arab, dan teologi Sunni.

Namun sejarah bergerak cepat. Ia mengikuti pamannya, Asaduddin Syirkuh, dalam ekspedisi militer ke Mesir atas perintah Nuruddin Zanki, penguasa Suriah yang bertekad menyatukan dunia Islam melawan Tentara Salib.

Baca juga: Fathu Makkah: Penaklukan Kota Mekkah Tanpa Pertumpahan Darah

Menguasai Mesir dan Mendirikan Dinasti

Tahun 1169 M menjadi titik balik. Setelah wafatnya Sang Paman, Asaduddin Syirkuh, Shalahuddin diangkat sebagai wazir Mesir oleh Khalifah Fatimiyah yang bermazhab Syiah. Posisi ini sangat rawan, mengingat Shalahuddin adalah seorang Sunni. Sementara ia berada di jantung kekuasaan Syiah.

Namun menurut sejarawan Philip K. Hitti dalam History of the Arabs, keberadaan Shalahuddin di Mesir membawa era baru. Ia menata ulang struktur militer Mesir dan menguatkan pendidikan Sunni.

Puncaknya, ia mengakhiri Dinasti Fatimiyah secara bertahap tanpa gejolak besar. Langkah ini melahirkan Dinasti Ayyubiyah, fondasi politik terkuat dunia Islam abad ke-12.

Menyatukan Dunia Islam yang Terpecah

Setelah wafatnya Nuruddin Zanki (1174 M), dunia Islam justru terancam konflik internal. Shalahuddin menghadapi para penguasa Muslim yang saling bersaing untuk memperluas wilayah.

Dalam The Life and Legend of the Sultan Saladin, Sejarawan Jonathan Phillips menegaskan bahwa keberhasilan Shalahuddin bukan semata faktor militer, tetapi kemampuan menyatukan wilayah.

Ia berhasil menyatukan Mesir, Suriah, Hijaz (Mekkah dan Madinah), Yaman, dan sebagian Irak. Keberhasilan ini membuatnya mempunyai pasukan yang besar untuk menghadapi Tentara Salib.

Baca juga: Kisah Umar bin Khattab: Pemimpin Berani dan Adil dalam Sejarah Islam

Penaklukkan Yerusalem

Pada 1187 M, pasukan Shalahuddin menghadapi Tentara Salib di Hattin, dekat Danau Tiberias. Dengan strategi memutus logistik dan memanfaatkan medan panas, pasukan Salib dihancurkan.

Sejarawan Barat Steven Runciman dalam A History of the Crusades menyebut Hattin sebagai titik balik terbesar Perang Salib, karena membuka jalan menuju Yerusalem.

Pertempuran demi pertempuran berlangsung melawan Tentara Salib. Hingga akhirnya pada tanggal 2 Oktober 1187, Shalahuddin berhasil menaklukkan Yerusalem.

Berbeda dengan tragedi 1099, dimana umat Islam dibantai hingga Yerusalem menjadi lautan darah, Shalahuddin justru melarang pembunuhan massal, mengizinkan penebusan tawanan, dan melindungi tempat suci Kristen dan Yahudi.

Bahkan penulis Kristen abad pertengahan seperti William of Tyre mencatat kebesaran sikap Shalahuddin. Inilah momen yang mengangkat namanya sebagai figur universal, bukan hanya pahlawan Muslim. Shalahuddin menjadi sosok yang dihormati kawan dan disegani lawan.

Salah satu penghormatan datang dari Richard I dari Inggris (Richard Lionheart). Keduanya tidak pernah bertemu langsung di medan duel, tetapi saling menunjukkan rasa hormat.

Dalam buku Saladin: The Politics of the Holy War, Malcolm Cameron Lyons menulis bahwa hubungan kedua tokoh ini mencerminkan standar kehormatan perang yang jarang ditemui dalam sejarah abad pertengahan.

Kehidupan Pribadi yang Sederhana

Di balik kejayaan dan pencapaian yang luar biasa, Shalahuddin tetaplah seorang hamba yang zuhud. Ia hidup sederhana dan dermawan. Harta benda yang dimiliki banyak dibagikan kepada rakyat dan kebutuhan pasukan.

Ibn Syaddad mencatat bahwa saat wafat, harta pribadinya hampir tidak cukup untuk biaya pemakaman, karena telah disedekahkan untuk rakyat, ulama, dan pasukan.

Baca juga: Kisah Lengkap Ashabul Kahfi: 7 Pemuda Teladan Penggenggam Iman

Wafatnya Sang Penakluk

Perjuangan Shalahuddin untuk mengharumkan Islam dan menyatukan umat mencapai titik akhir setelah Shalahuddin Al-Ayyubi wafat pada 4 Maret 1193 M di Damaskus, pada usia sekitar 55 tahun.

Menurut Sejarawan, Shalahuddin meninggal akibat penyakit tifus yang menyerangnya. Ia dimakamkan di dekat Masjid Umayyah, tanpa kemegahan yang mencerminkan luasnya wilayah kekuasaannya.

Warisan Shalahuddin Al-Ayyubi

Warisan terbesar Shalahuddin bukan hanya wilayah yang ia kuasai, tetapi:

  • Teladan kepemimpinan beretika, baik kepada kawan maupun lawan
  • Toleransi lintas agama, menghormati dan melindungi perbedaan agama
  • Persatuan di atas konflik internal, mengutamakan persatuan umat dibandingkan memperbesar konflik internal 
  • Sosok penakluk yang menjunjung tinggi kemanusiaan dibandingkan permusuhan.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar