Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sibuk Dunia tapi Rugi Akhirat? Ini Cara Agar Aktivitas Bernilai Ibadah

Kompas.com, 19 Januari 2026, 21:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Di tengah ritme kehidupan modern yang serba cepat, manusia kian disibukkan oleh pekerjaan, gawai, target ekonomi, dan tuntutan sosial.

Kesibukan sering dianggap sebagai simbol produktivitas dan keberhasilan. Namun dalam perspektif Islam, tidak semua aktivitas padat otomatis bernilai kebaikan.

Ada kesibukan yang tampak produktif secara duniawi, tetapi justru mengantarkan pada kerugian spiritual.

Islam menempatkan waktu sebagai amanah besar. Setiap detik kehidupan bukan hanya untuk dihabiskan, melainkan untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Baca juga: Larangan Merusak Alam dalam Islam: 14 Ayat Alquran dan Fatwa MUI

Waktu sebagai Modal Kehidupan Menurut Alquran

Alquran menegaskan urgensi waktu dalam Surah Al-‘Asr ayat 1–3:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”

M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah (Lentera Hati) menjelaskan bahwa kerugian yang dimaksud bukan sekadar kehilangan materi, melainkan kegagalan memanfaatkan waktu untuk membangun iman, amal, dan nilai moral. Waktu adalah aset utama manusia, dan penyia-nyiaannya berarti kerugian eksistensial.

Baca juga: Fastabiqul Khairat, Kunci Memaksimalkan Amal di Dunia dan Akhirat

Kesibukan yang Mengantarkan pada Kerugian

Islam membedakan antara kesibukan produktif dan kesibukan yang melalaikan. Aktivitas yang mengantarkan pada kerugian umumnya ditandai oleh orientasi hidup yang semata-mata mengejar dunia, sementara kewajiban spiritual terabaikan.

Bentuknya dapat berupa terlalu larut dalam hiburan digital, perbincangan sia-sia, ambisi materi tanpa batas, serta gaya hidup konsumtif yang menguras energi tanpa makna.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebut kesia-siaan sebagai penyakit hati yang secara perlahan menggerogoti kualitas iman.

Kesibukan semacam ini sering membuat seseorang kelelahan secara fisik, tetapi kosong secara batin. Waktu habis, target tercapai, namun kedekatan dengan Allah justru melemah.

Islam Tidak Melarang Sibuk, Tetapi Memberi Arah

Islam tidak memusuhi kerja keras dan aktivitas dunia. Justru Islam mendorong umatnya untuk produktif, mandiri, dan bermanfaat bagi sesama.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR Ahmad)

Dalam buku Fiqh Al-Awlawiyat karya Yusuf Al-Qaradawi dijelaskan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara usaha dunia dan persiapan akhirat.

Aktivitas ekonomi, pendidikan, dan sosial dapat bernilai ibadah apabila dilakukan secara halal dan diniatkan untuk kebaikan.

Baca juga: Khutbah Jumat 2 Januari 2026: Waktu Semakin Cepat, Persiapkan Bekal untuk Akhirat

Niat sebagai Kunci Mengubah Aktivitas Dunia Menjadi Ibadah

Nilai ibadah dalam Islam tidak hanya ditentukan oleh bentuk perbuatan, tetapi oleh niat yang melandasinya. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami’ al-Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa niat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan aktivitas duniawi dengan pahala ukhrawi.

Bekerja mencari nafkah, belajar, mengurus keluarga, bahkan beristirahat dapat bernilai ibadah apabila diniatkan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.

Prinsip Mengelola Kesibukan agar Bernilai Ibadah

Islam memberikan panduan praktis agar aktivitas sehari-hari tidak menjadi sia-sia. Salah satunya adalah menempatkan ibadah wajib sebagai prioritas utama.

Shalat, zikir, dan membaca Al-Qur’an harus menjadi poros kehidupan, bukan sekadar selingan.

Selain itu, pengelolaan waktu yang baik juga menjadi kunci. Dalam Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi menekankan pentingnya memanfaatkan waktu untuk amal saleh dan menjauhi aktivitas yang tidak memberi manfaat.

Prinsip lainnya adalah memperluas dampak sosial dari aktivitas yang dilakukan. Sedekah, membantu sesama, berbagi ilmu, dan melayani masyarakat merupakan bentuk ibadah sosial yang memiliki nilai besar di sisi Allah.

Baca juga: Jangan Lupa Dibaca! Doa Sebelum Bekerja agar Aktivitas Bernilai Ibadah

Teladan Keseimbangan dalam Kehidupan Rasulullah

Sejarah hidup Rasulullah SAW menunjukkan keseimbangan yang harmonis antara ibadah, kepemimpinan, keluarga, dan aktivitas sosial.

Dalam Ar-Rahiq Al-Makhtum karya Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dijelaskan bahwa Nabi membagi waktu secara proporsional tanpa mengorbankan sisi spiritual.

Beliau bekerja keras membangun umat, tetapi tetap menjaga ibadah malam, memperhatikan keluarga, serta meluangkan waktu untuk mendidik masyarakat. Model ini menjadi rujukan ideal bagi umat Islam dalam mengelola kesibukan.

Sibuk yang Berkah, Bukan Sekadar Padat Aktivitas

Kesibukan bukanlah masalah selama diarahkan dengan benar. Yang menjadi persoalan adalah ketika aktivitas kehilangan orientasi ibadah dan kebermanfaatan.

Islam mengajarkan bahwa setiap detik kehidupan adalah amanah. Dengan niat yang lurus, pengelolaan waktu yang bijak, serta keseimbangan antara dunia dan akhirat, kesibukan tidak lagi menjadi penyebab kerugian, melainkan jalan menuju keberkahan dan keselamatan abadi.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar