KOMPAS.com - Di tengah ritme kehidupan modern yang serba cepat, manusia kian disibukkan oleh pekerjaan, gawai, target ekonomi, dan tuntutan sosial.
Kesibukan sering dianggap sebagai simbol produktivitas dan keberhasilan. Namun dalam perspektif Islam, tidak semua aktivitas padat otomatis bernilai kebaikan.
Ada kesibukan yang tampak produktif secara duniawi, tetapi justru mengantarkan pada kerugian spiritual.
Islam menempatkan waktu sebagai amanah besar. Setiap detik kehidupan bukan hanya untuk dihabiskan, melainkan untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Baca juga: Larangan Merusak Alam dalam Islam: 14 Ayat Alquran dan Fatwa MUI
Alquran menegaskan urgensi waktu dalam Surah Al-‘Asr ayat 1–3:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”
M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah (Lentera Hati) menjelaskan bahwa kerugian yang dimaksud bukan sekadar kehilangan materi, melainkan kegagalan memanfaatkan waktu untuk membangun iman, amal, dan nilai moral. Waktu adalah aset utama manusia, dan penyia-nyiaannya berarti kerugian eksistensial.
Baca juga: Fastabiqul Khairat, Kunci Memaksimalkan Amal di Dunia dan Akhirat
Islam membedakan antara kesibukan produktif dan kesibukan yang melalaikan. Aktivitas yang mengantarkan pada kerugian umumnya ditandai oleh orientasi hidup yang semata-mata mengejar dunia, sementara kewajiban spiritual terabaikan.
Bentuknya dapat berupa terlalu larut dalam hiburan digital, perbincangan sia-sia, ambisi materi tanpa batas, serta gaya hidup konsumtif yang menguras energi tanpa makna.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebut kesia-siaan sebagai penyakit hati yang secara perlahan menggerogoti kualitas iman.
Kesibukan semacam ini sering membuat seseorang kelelahan secara fisik, tetapi kosong secara batin. Waktu habis, target tercapai, namun kedekatan dengan Allah justru melemah.
Islam tidak memusuhi kerja keras dan aktivitas dunia. Justru Islam mendorong umatnya untuk produktif, mandiri, dan bermanfaat bagi sesama.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR Ahmad)
Dalam buku Fiqh Al-Awlawiyat karya Yusuf Al-Qaradawi dijelaskan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara usaha dunia dan persiapan akhirat.
Aktivitas ekonomi, pendidikan, dan sosial dapat bernilai ibadah apabila dilakukan secara halal dan diniatkan untuk kebaikan.
Baca juga: Khutbah Jumat 2 Januari 2026: Waktu Semakin Cepat, Persiapkan Bekal untuk Akhirat
Nilai ibadah dalam Islam tidak hanya ditentukan oleh bentuk perbuatan, tetapi oleh niat yang melandasinya. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami’ al-Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa niat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan aktivitas duniawi dengan pahala ukhrawi.
Bekerja mencari nafkah, belajar, mengurus keluarga, bahkan beristirahat dapat bernilai ibadah apabila diniatkan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.
Islam memberikan panduan praktis agar aktivitas sehari-hari tidak menjadi sia-sia. Salah satunya adalah menempatkan ibadah wajib sebagai prioritas utama.
Shalat, zikir, dan membaca Al-Qur’an harus menjadi poros kehidupan, bukan sekadar selingan.
Selain itu, pengelolaan waktu yang baik juga menjadi kunci. Dalam Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi menekankan pentingnya memanfaatkan waktu untuk amal saleh dan menjauhi aktivitas yang tidak memberi manfaat.
Prinsip lainnya adalah memperluas dampak sosial dari aktivitas yang dilakukan. Sedekah, membantu sesama, berbagi ilmu, dan melayani masyarakat merupakan bentuk ibadah sosial yang memiliki nilai besar di sisi Allah.
Baca juga: Jangan Lupa Dibaca! Doa Sebelum Bekerja agar Aktivitas Bernilai Ibadah
Sejarah hidup Rasulullah SAW menunjukkan keseimbangan yang harmonis antara ibadah, kepemimpinan, keluarga, dan aktivitas sosial.
Dalam Ar-Rahiq Al-Makhtum karya Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dijelaskan bahwa Nabi membagi waktu secara proporsional tanpa mengorbankan sisi spiritual.
Beliau bekerja keras membangun umat, tetapi tetap menjaga ibadah malam, memperhatikan keluarga, serta meluangkan waktu untuk mendidik masyarakat. Model ini menjadi rujukan ideal bagi umat Islam dalam mengelola kesibukan.
Kesibukan bukanlah masalah selama diarahkan dengan benar. Yang menjadi persoalan adalah ketika aktivitas kehilangan orientasi ibadah dan kebermanfaatan.
Islam mengajarkan bahwa setiap detik kehidupan adalah amanah. Dengan niat yang lurus, pengelolaan waktu yang bijak, serta keseimbangan antara dunia dan akhirat, kesibukan tidak lagi menjadi penyebab kerugian, melainkan jalan menuju keberkahan dan keselamatan abadi.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang