Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Makna Tembang Lir Ilir: Pesan Spiritual Sunan Kalijaga tentang Kebangkitan Iman

Kompas.com, 31 Januari 2026, 15:15 WIB
Agus Susanto

Penulis

KOMPAS.com - Walisongo dikenal sebagai penyebar dakwah di yang berhasil membumikan Islam tanah Jawa. Keberhasilan ini ditunjang oleh berbagai metode dakwah yang tidak kaku, tetapi melakukan akulturasi budaya. Apa yang sudah ada di masyarakat Jawa tidak dihilangkan sepenuhnya, tetapi diganti dengan makna-makna Islam.

Ajaran memasukkan Islam secara perlahan-lahan ini membuat orang dengan sukarela memeluk agama Islam. Salah satu metode yang diterapkan adalah dengan menciptakan tembang atau lagu.

Dengan tembang atau lagu ini, nuansanya menjadi gembira sehingga mudah memasukkan nilai-nilai yang dibawanya. Salah satu tembang yang paling luar biasa dari gubahan para Wali adalah tembang Jawa berjudul Lir Ilir.

Baca juga: 7 Tradisi Ramadhan Zaman Dulu yang Kini Jarang Ditemui

Sejarah Lagu Lir Ilir

Lagu Lir Ilir diciptakan oleh Sunan Kalijaga atau Rades Syahid. Satu-satunya anggota Walisongo yang asli dari Jawa. Beliau menggunakan pendekatan kultural untuk menyebarkan dakwah Islam.

Salah satu tembang yang diciptakannya adalah tembang Jawa berjudul Lir Ilir ini. Meskipun termasuk tembang dolanan, tetapi makna salah satu lagu daerah ini sangat mendalam, menggambarkan kebangkitan iman di masyarakat Jawa dan bagaimana harus merawatnya.

Menurut Koentjaraningrat dalam buku Kebudayaan Jawa, menyebut bahwa tembang ini sebagai bagian dari strategi dakwah Sunan Kalijaga, anggota Walisongo yang dikenal menggunakan pendekatan kultural dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Lagu ini diciptakan sekitar Abad ke-16 ketika pengaruh Islam semakin kuat dan masyarakat berbondong-bondong masuk Islam. Saat banyak masyarakat sudah memeluk Islam, lagu ini diciptakan dengan tujuan menguatkan iman.

Lirik Lagu Lir Ilir

Berikut ini lirik lagu Lir Ilir yang diciptakan Sunan Kalijaga:

Lir ilir, lir ilir
Tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh temanten anyar

Cah angon, cah angon
Penekna blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekna
Kanggo mbasuh dodotira

Dodotira dodotira
Kumitir bedah ing pinggir
Dondomana jlumatana
Kanggo sebo mengko sore

Mumpung padhang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Yo surako, surak iyo.

Baca juga: Tradisi Unik Menjelang Ramadhan di Berbagai Daerah Indonesia

Makna filosofis Tembang Lir Ilir

Inilah makna filosofis dari tembang jawa Lir Ilir sebagai sarana untuk berdakwah kepada masyarakat.

1. “Lir ilir, lir ilir” – Bangunlah, Sadarilah

Kata lir ilir berarti bangun dari tidur. Maknanya bukan tidur secara harfiah, melainkan bangkitnya kesadaran spiritual Islam di Jawa.

2. “Tandure wus sumilir, tak ijo royo-royo” – Tanaman mulai tumbuh dan menghijau

Tanaman yang mulai hijau melambangkan iman yang mulai hidup dan tumbuh subur serta Islam yang mulai diterima di masyarakat. Ini menimbulkan harapan baru di masa depan akan perkembangan Islam di Jawa.

3. “Tak sengguh temanten anyar” – Penuh keyakinan terhadap pengantin baru

Hal ini menggambarkan keyakinan terhadap orang yang baru mengenal Islam, masih bersih, penuh semangat, dan siap menjalani hidup baru dengan nilai tauhid seperti halnya pengantin baru.

Mereka adalah orang-orang yang siap untuk dididik dengan iman dan Islam sehingga keyakinannya akan menguat.

4. “Cah angon… penekna blimbing kuwi” – Anak gembala diminta memanjat pohon belimbing

Cah angon adalah gambaran orang yang sedang mengendalikan hawa nafsunya. ia diminta untuk memanjat pohon belimbing. Belimbing adalah buah yang memiliki lima sudut, yaitu melambangkan ajaran rukun Islam.

Ini berarti bahwa orang yang baru masuk Islam harus berlatih mengendalikan hawa nafsunya dengan cara menjalankan rukun Islam.

Baca juga: Tradisi Sadranan di Bulan Sya’ban: Begini Pandangan Para Ulama

5. "Lunyu-lunyu Penekna, kanggo mbasuh dodotira" - Walaupun licin harus tetap memanjat untuk membasuh pakaianmu

Meskipun licin dan banyak halangan, tetap harus melaksanakan rukun Islam untuk menyucikan diri atau membersihkan hati dan jiwa. Pakaian terbaik bagi manusia adalah pakaian takwa sebagaimana disampaikan dalam Al Quran.

وَلِبَاسُ ٱلتَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ

Artinya: "Tetapi pakaian takwa, itulah yang terbaik." (Q.S. Al A'raf: 26).  

6. “Dodotira kumitir bedah ing pinggir” – Pakaianmu melambai-lambai dan koyak di bagian pinggir

Iman dan takwa kepada Allah SWT terkadang naik turun dan goyang hingga bisa menyebabkannya rusak.

7. "Dondomono, Jlumatana kanggo seba mengko sore" - Jahitlah dan benahilah untuk menghadap nanti sore

Maknanya adalah iman dan takwa yang rusak harus diperbaiki kembali sebelum datangnya ajal atau menghadap Allah SWT di akhirat.

8. “Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane” – Selagi bulan masih bersinar dan selagi kesempatan masih ada

Iman dan takwa yang rusak harus dibenahi ketika masih ada kesempatan hidup dan cahaya hidayah masih menyinari hati.

9. “Yo surako, surak iyo” – Ayo bersorak dengan sorakan iya

Ajakan untuk memperbaiki iman dan takwa ini harus disambut dengan teriakan gembira dan persetujuan sehingga pada akhirnya akan selamat dunia akhirat.

Baca juga: Sejarah Ngabuburit di Indonesia: Dari Istilah Sunda Menjadi Tradisi Nusantara di Bulan Puasa

Kesimpulan

Tembang Lir Ilir adalah warisan dakwah yang luar biasa: sederhana, puitis, namun dalam maknanya. Ia mengajarkan bahwa kebangkitan iman dimulai dari kesadaran, dirawat dengan amal, dan dijalani dengan kegembiraan.

Ketika masih ada waktu, iman dan takwa harus diperbaiki dengan sungguh-sungguh dan riang gembira sehingga tidak kecewa ketika nanti menghadap Allah SWT.

Islam hadir bukan untuk menghapus jati diri Nusantara, tetapi menyucikannya dan memberinya arah Ilahi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Catatan MUI Tentang Tradisi Rebo Wekasan, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?
Catatan MUI Tentang Tradisi Rebo Wekasan, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?
Aktual
Rebo Wekasan 2026 Tanggal Berapa? Ini Jadwal dan Amalan yang Bisa Dikerjakan
Rebo Wekasan 2026 Tanggal Berapa? Ini Jadwal dan Amalan yang Bisa Dikerjakan
Aktual
Empat Syarat Agar Pekerjaan Bernilai Ibadah
Empat Syarat Agar Pekerjaan Bernilai Ibadah
Aktual
Kepemimpinan NU Dinilai Perlu Meneladani Kyai Idham Chalid dan Gus Dur
Kepemimpinan NU Dinilai Perlu Meneladani Kyai Idham Chalid dan Gus Dur
Aktual
Baznas Ajak Bangsa Pererat Persatuan lewat Zakat, Infak, Sedekah
Baznas Ajak Bangsa Pererat Persatuan lewat Zakat, Infak, Sedekah
Aktual
Jangan Keliru, Bekerja Cari Nafkah Juga Bagian dari Ibadah
Jangan Keliru, Bekerja Cari Nafkah Juga Bagian dari Ibadah
Aktual
Bagian dari Syiar Islam, MTQ Jawa Barat Tetap Digelar, Ini Jadwalnya
Bagian dari Syiar Islam, MTQ Jawa Barat Tetap Digelar, Ini Jadwalnya
Aktual
Hadapi Tantangan Kebangsaan, Gus Rozin Paparkan 5 Strategi NU
Hadapi Tantangan Kebangsaan, Gus Rozin Paparkan 5 Strategi NU
Aktual
Willie Salim Belajar Agama ke KH Cholil Nafis di Pesantren Depok
Willie Salim Belajar Agama ke KH Cholil Nafis di Pesantren Depok
Aktual
Mengintip Tren Fesyen Muslim Gen Z 2026, Terinspirasi Gaya Korea
Mengintip Tren Fesyen Muslim Gen Z 2026, Terinspirasi Gaya Korea
Aktual
Khitan Gratis untuk Yatim dan Dhuafa di Bandung, Begini Cara Mengikutinya
Khitan Gratis untuk Yatim dan Dhuafa di Bandung, Begini Cara Mengikutinya
Aktual
Apakah Anak Piatu Berhak Mendapat Santunan seperti Anak Yatim? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah
Apakah Anak Piatu Berhak Mendapat Santunan seperti Anak Yatim? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah
Aktual
Doa Sebelum Bekerja di Hari Senin agar Rezeki Lancar dan Diberi Kemudahan
Doa Sebelum Bekerja di Hari Senin agar Rezeki Lancar dan Diberi Kemudahan
Doa dan Niat
Hukum Sengaja Tidak Membayar Hutang Padahal Mampu, Benarkah Termasuk Dosa Besar?
Hukum Sengaja Tidak Membayar Hutang Padahal Mampu, Benarkah Termasuk Dosa Besar?
Aktual
Doa Pelunas Hutang dalam Islam dan Waktu Paling Mustajab Membacanya
Doa Pelunas Hutang dalam Islam dan Waktu Paling Mustajab Membacanya
Doa dan Niat
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar