Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

7 Amalan Sunnah Setelah Pulang Haji agar Kemabruran Tetap Terjaga

Kompas.com, 3 Juni 2026, 11:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Menunaikan ibadah haji merupakan puncak perjalanan spiritual seorang Muslim.

Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah di Makkah, Arafah, Muzdalifah, dan Mina, jamaah haji kembali ke Tanah Air dengan harapan memperoleh predikat haji mabrur.

Namun, para ulama mengingatkan bahwa kemabruran haji tidak hanya diukur dari kesempurnaan ritual selama berada di Tanah Suci.

Ukuran yang paling nyata justru terlihat setelah seseorang pulang ke rumah dan kembali menjalani kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Seamless Corridor bagi Jamaah Haji 2026, Deteksi AI Pakai Wajah Tanpa Tunjukkan Paspor dan Cap

Apakah ibadahnya semakin baik? Apakah akhlaknya menjadi lebih mulia? Apakah hubungannya dengan Allah dan sesama manusia semakin berkualitas?

Karena itulah, Islam mengajarkan sejumlah amalan sunnah yang dianjurkan dilakukan setelah menunaikan ibadah haji.

Amalan-amalan tersebut bukan sekadar pelengkap perjalanan, melainkan sarana untuk menjaga semangat ibadah dan mempertahankan nilai-nilai yang diperoleh selama berada di Tanah Suci.

Lalu, apa saja amalan sunnah yang dianjurkan setelah pulang haji?

Mengapa Setelah Haji Masih Ada Amalan yang Dianjurkan?

Banyak orang menganggap ibadah haji selesai ketika jamaah meninggalkan Makkah dan kembali ke kampung halaman. Padahal, dalam pandangan para ulama, fase setelah haji justru menjadi ujian sesungguhnya.

Dalam kitab Ihya Ulumiddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa salah satu tanda diterimanya amal ibadah adalah munculnya perubahan positif setelah ibadah tersebut dilakukan.

Artinya, seorang haji yang mendapatkan keberkahan hajinya akan terdorong menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Allah SWT, lebih sabar, lebih jujur, dan lebih peduli terhadap sesama.

Senada dengan itu, Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam Fiqih Islam wa Adillatuhu menerangkan bahwa Rasulullah SAW memberikan sejumlah tuntunan kepada para musafir, termasuk jamaah haji, ketika kembali dari perjalanan mereka.

Tuntunan tersebut mengandung hikmah spiritual, sosial, dan psikologis yang masih relevan hingga saat ini.

Baca juga: Doa Orang Pulang Haji Diyakini Makbul, Sampai Kapan Keutamaannya?

1. Membaca Doa Ketika Pulang dari Perjalanan Haji

Salah satu sunnah yang diajarkan Rasulullah SAW adalah memperbanyak takbir dan membaca doa ketika kembali dari perjalanan.

Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Nabi SAW membaca doa yang berisi pengakuan atas keesaan Allah, rasa syukur, serta pernyataan taubat setelah menyelesaikan perjalanan.

Doa tersebut menunjukkan bahwa perjalanan haji bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan menuju penyucian jiwa.

Para ulama menjelaskan bahwa membaca doa saat pulang menjadi simbol pengakuan bahwa keberhasilan menjalankan ibadah haji semata-mata karena pertolongan Allah SWT.

2. Segera Kembali kepada Keluarga Setelah Menyelesaikan Haji

Islam menganjurkan jamaah yang telah menyelesaikan urusan hajinya agar tidak berlama-lama tinggal tanpa keperluan.

Dalam kitab Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq disebutkan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan seseorang untuk segera kembali kepada keluarganya setelah urusannya selesai.

Hadis riwayat Abu Hurairah RA menyebutkan bahwa perjalanan merupakan bagian dari kesulitan yang dapat mengurangi kenyamanan seseorang dalam makan, minum, maupun beristirahat.

Karena itulah, ketika tujuan perjalanan telah tercapai, seseorang dianjurkan segera kembali ke rumah.

Bagi jamaah haji, anjuran ini mengandung pesan penting tentang keseimbangan antara ibadah dan tanggung jawab terhadap keluarga.

3. Mengabari Keluarga Sebelum Tiba di Rumah

Amalan berikutnya yang sering luput dari perhatian adalah memberi kabar kepada keluarga sebelum sampai di rumah.

Dalam sejumlah hadis disebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak menyukai kedatangan mendadak yang dapat membuat keluarga terkejut atau tidak siap menyambut anggota keluarganya yang baru pulang.

Dalam konteks modern, sunnah ini dapat dilakukan dengan cara sederhana, seperti menghubungi keluarga melalui telepon atau pesan singkat.

Selain menunjukkan adab yang baik, kebiasaan ini juga mencerminkan perhatian dan kasih sayang terhadap keluarga.

Baca juga: Sebanyak 5.329 Jemaah Haji Khusus Indonesia Sudah Pulang ke Tanah Air

4. Berdoa Ketika Memasuki Kampung Halaman

Saat mulai melihat daerah tempat tinggalnya, Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk memanjatkan doa.

Doa tersebut berisi permohonan agar Allah SWT memberikan keberkahan kepada tempat tinggal, penduduk, dan seluruh kebaikan yang ada di dalamnya.

Dalam buku Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi dijelaskan bahwa doa-doa perjalanan memiliki tujuan untuk memperkuat hubungan seorang hamba dengan Allah dalam setiap fase kehidupannya, termasuk ketika kembali dari perjalanan panjang.

Doa ini juga mengajarkan pentingnya mendoakan lingkungan tempat tinggal agar senantiasa dipenuhi keberkahan dan dijauhkan dari berbagai keburukan.

5. Tidak Langsung Datang ke Rumah pada Larut Malam

Rasulullah SAW juga memberikan adab khusus ketika kembali dari perjalanan jauh.

Dalam hadis riwayat Muslim dari Anas bin Malik RA disebutkan bahwa Nabi SAW tidak mendatangi keluarganya pada larut malam setelah safar. Beliau memilih tiba pada waktu pagi atau sore hari.

Para ulama menjelaskan bahwa anjuran ini bertujuan menjaga kenyamanan keluarga dan menghindari situasi yang dapat menimbulkan kesalahpahaman.

Meski kondisi transportasi modern berbeda dengan masa lalu, nilai yang terkandung dalam sunnah ini tetap relevan, yaitu menjaga etika dan kenyamanan keluarga saat kembali dari perjalanan.

6. Melaksanakan Shalat Dua Rakaat sebagai Ungkapan Syukur

Di antara sunnah yang sangat dianjurkan setelah tiba di kampung halaman adalah melaksanakan shalat dua rakaat.

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW terlebih dahulu menuju masjid dan menunaikan shalat dua rakaat sebelum pulang ke rumah.

Menurut Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, shalat ini merupakan bentuk rasa syukur atas keselamatan selama perjalanan sekaligus sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Amalan sederhana ini mengajarkan bahwa setiap nikmat, termasuk keselamatan dalam perjalanan haji, patut disyukuri melalui ibadah.

7. Menjaga Kemabruran dengan Menjadi Pribadi yang Lebih Baik

Inilah amalan yang paling penting sekaligus menjadi inti dari seluruh perjalanan haji.

Tidak sedikit ulama yang menyatakan bahwa tanda utama haji mabrur bukan terletak pada gelar yang disandang, melainkan pada perubahan perilaku setelah kembali dari Tanah Suci.

Dalam kitab Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ibadah yang diterima akan melahirkan ketaatan berikutnya. Sebaliknya, jika seseorang kembali kepada kebiasaan buruk setelah beribadah, maka ia perlu melakukan introspeksi terhadap kualitas amalnya.

Karena itu, seorang haji dianjurkan untuk:

  • Lebih menjaga shalat berjamaah.
  • Memperbanyak membaca Al-Qur'an.
  • Menjaga lisan dari ghibah dan fitnah.
  • Meningkatkan kepedulian sosial.
  • Memperbanyak sedekah.
  • Menjaga kejujuran dalam pekerjaan.
  • Memperbaiki hubungan dengan keluarga dan masyarakat.

Perubahan-perubahan inilah yang menjadi cerminan nyata kemabruran haji.

Baca juga: Seamless Corridor bagi Jamaah Haji 2026, Deteksi AI Pakai Wajah Tanpa Tunjukkan Paspor dan Cap

Tanda Haji Mabrur Menurut Ulama

Banyak jamaah bertanya bagaimana cara mengetahui apakah hajinya diterima Allah SWT. Dalam kitab Lathaif Al-Ma'arif, Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan bahwa tanda diterimanya amal adalah ketika seseorang diberi taufik untuk melakukan amal saleh berikutnya.

Sementara itu, Abdullah bin Mubarak pernah menyebut bahwa haji mabrur ditandai dengan bertambahnya sikap zuhud terhadap dunia dan meningkatnya kecintaan kepada akhirat.

Dengan kata lain, haji yang mabrur akan meninggalkan jejak yang tampak dalam kehidupan sehari-hari.

Haji Bukan Akhir, tetapi Awal Perjalanan Spiritual

Banyak orang menganggap kepulangan dari Tanah Suci sebagai akhir dari perjalanan haji. Padahal, para ulama justru menyebutnya sebagai awal dari perjalanan spiritual yang baru.

Selama di Makkah dan Madinah, seorang Muslim ditempa dengan kesabaran, keikhlasan, pengorbanan, serta kedisiplinan dalam beribadah. Nilai-nilai tersebut seharusnya tetap hidup ketika ia kembali ke tengah masyarakat.

Oleh karena itu, menjaga amalan sunnah setelah pulang haji bukan sekadar mengikuti tradisi, melainkan bagian dari upaya mempertahankan cahaya spiritual yang telah diperoleh selama menjalankan rukun Islam kelima.

Pada akhirnya, haji yang diterima Allah SWT bukan hanya terlihat dari perjalanan ke Tanah Suci, tetapi juga dari bagaimana seseorang menjalani hidup setelah kembali darinya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar