Editor
KOMPAS.com – Dunia akan kembali menyaksikan salah satu fenomena astronomi paling menakjubkan pada 12 Agustus 2026, yaitu Gerhana Matahari Total.
Peristiwa langka ini diprediksi menjadi perhatian para astronom, wisatawan, dan masyarakat dunia karena menghadirkan momen ketika Bulan menutupi seluruh piringan Matahari sehingga siang hari berubah menjadi gelap sesaat.
Meski tidak dapat disaksikan dari Indonesia, Gerhana Matahari Total 2026 tetap menarik perhatian umat Islam karena memiliki makna spiritual yang mendalam.
Dalam Islam, gerhana bukan sekadar fenomena alam, tetapi juga menjadi momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui shalat, doa, zikir, dan istighfar.
Baca juga: MUI Ajak Umat Islam Sholat Gerhana Bulan 3 Maret 2026, Ini Jadwal Puncaknya
Gerhana Matahari Total akan terjadi pada Rabu, 12 Agustus 2026.
Jalur totalitas gerhana melintasi sejumlah wilayah di belahan bumi utara, mulai dari kawasan Arktik, Greenland, Islandia, hingga bagian utara Spanyol.
Durasi totalitas terlama diperkirakan mencapai sekitar 2 menit 18 detik di kawasan Samudra Atlantik Utara.
Sayangnya, masyarakat Indonesia tidak dapat menyaksikan fenomena ini karena jalur gerhana tidak melintasi wilayah Nusantara.
Meski demikian, fenomena tersebut tetap menjadi pengingat tentang kebesaran Allah SWT yang menciptakan dan mengatur peredaran benda-benda langit dengan sangat teratur.
Dalam hadis sahih, Rasulullah SAW menegaskan bahwa gerhana tidak berkaitan dengan kelahiran atau kematian seseorang.
Dari Abu Mas'ud Al-Anshari RA, Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang." (HR Bukhari dan Muslim).
Karena itu, ketika terjadi gerhana, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah, berdoa, berzikir, bersedekah, dan melaksanakan shalat gerhana.
Shalat gerhana matahari atau Salat Kusuf hukumnya sunnah muakkad (sangat dianjurkan).
Niat shalat gerhana matahari:
أُصَلِّي سُنَّةَ كُسُوفِ الشَّمْسِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى
Ushallii sunnata kusuufisy syamsi rak'ataini lillaahi ta'aalaa.
Artinya:
"Saya niat shalat sunnah gerhana matahari dua rakaat karena Allah Ta'ala."
Shalat gerhana memiliki tata cara yang berbeda dengan shalat sunnah biasa karena setiap rakaat dilakukan dua kali ruku'.
1. Niat dan takbiratul ihram.
2. Membaca doa iftitah.
3. Membaca Surah Al-Fatihah.
4. Membaca surah Al-Quran yang panjang.
5. Ruku' pertama dengan durasi panjang.
6. I'tidal.
7. Membaca kembali Al-Fatihah dan surah yang lebih pendek.
8. Ruku' kedua.
9. I'tidal.
10. Sujud pertama.
11. Duduk di antara dua sujud.
12. Sujud kedua.
1. Berdiri kembali dan membaca Al-Fatihah.
2. Membaca surah yang lebih pendek dari rakaat pertama.
3. Ruku' pertama.
4. I'tidal.
5. Membaca Al-Fatihah dan surah yang lebih pendek lagi.
6. Ruku' kedua.
7. I'tidal.
8. Dua kali sujud.
9. Tasyahud akhir.
10. Salam.
Setelah shalat, disunnahkan mendengarkan khutbah atau tausiyah yang berisi ajakan untuk bertakwa, berzikir, dan memperbanyak amal saleh.
Selain melaksanakan shalat, Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam memperbanyak zikir dan doa.
Salah satu bacaan yang dapat diamalkan saat gerhana adalah:
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
Subhaanallaah walhamdulillaah wa laa ilaaha illallaah wallaahu akbar.
Artinya:
"Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar."
Saat gerhana juga dianjurkan memperbanyak istighfar:
أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
Astaghfirullaahal 'azhiim wa atuubu ilaih.
Artinya:
"Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung dan aku bertobat kepada-Nya."
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa 'adzaaban naar.
Artinya:
"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari siksa neraka."
Walaupun Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 tidak dapat diamati dari Indonesia, fenomena ini tetap menjadi pengingat bahwa alam semesta berjalan sesuai ketentuan Allah SWT.
Baca juga: Naskah Khutbah Gerhana Bulan: Lengkap dengan Dalil dan Doa
Bagi umat Islam, gerhana bukanlah peristiwa yang menakutkan ataupun pertanda mistis, melainkan kesempatan untuk memperbanyak ibadah dan merenungkan kebesaran Sang Pencipta.
Karena itu, ketika mendengar kabar terjadinya gerhana di belahan dunia lain sekalipun, umat Islam tetap dapat mengambil hikmah dengan memperbanyak zikir, doa, istighfar, dan amal kebaikan sebagai bentuk penghambaan kepada Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang