Editor
KOMPAS.com - Dalam Islam, salah satu tuntunan untuk memohon turunnya hujan adalah melaksanakan shalat istisqa atau salat meminta hujan.
Amalan ini biasanya dilakukan saat terjadi kemarau panjang yang memicu berbagai musibah seperti kekeringan, gagal panen, kebakaran hutan, dan polusi udara yang sulit dikendalikan akibat minimnya hujan.
Masyarakat yang terdampak kondisi tersebut dapat melaksanakan Salat Istisqa dengan mengikuti tata cara yang telah ditentukan.
Baca juga: Shalat Istisqa untuk Meminta Hujan: Tata Cara, Bacaan Niat, Doa, dan Contoh Khutbahnya
Dilansir dari laman Kemenag, berikut rangkaian pelaksanaan shalat istisqa mencakup puasa selama tiga hari, salat berjamaah, khutbah, serta doa memohon hujan kepada Allah SWT.
أُصَلِّي سُنَّةَ الإِسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ إِمَامًا/مَأْمُوْمًا لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Ushallī sunnatal-istisqā’i rak‘ataini mustaqbilal-qiblati imāman/makmūman lillāhi ta‘ālā.
Artinya: “Aku niat shalat sunnah Istisqa dua rakaat menghadap kiblat sebagai imam/makmum karena Allah Ta’ala.”
Baca juga: Sholat Istisqa: Pengertian, Rakaat, Tata Cara, dan Bacaannya
Berikut tata cara Shalat Istisqa yang dapat dilaksanakan masyarakat saat menghadapi kemarau panjang:
Pemerintah setempat mengimbau masyarakat untuk melaksanakan puasa selama tiga hari sebelum Salat Istisqa.
Pada hari keempat, seluruh masyarakat berkumpul di lapangan pada pagi hari untuk melaksanakan Salat Istisqa secara berjamaah.
Waktu pelaksanaannya sama seperti waktu pelaksanaan Shalat Idul Fitri atau Sholat Idul Adha.
Sebelum melaksanakan Salat Istisqa, imam dan jamaah membaca niat shalat meminta hujan.
Pelaksanaan Shalat Istisqa dilakukan seperti Shalat Idul Fitri atau Sholat Idul Adha. Setelah takbiratul ihram, imam melakukan takbir sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali takbir pada rakaat kedua.
Shalat kemudian dilanjutkan dengan rukuk, sujud, duduk tahiyat, hingga salam.
Setelah shalat, khatib menyampaikan khutbah yang didengarkan oleh jamaah.
Khutbah Shalat Istisqa terdiri dari dua khutbah yang disampaikan khatib dengan berdiri dan satu kali duduk di antara kedua khutbah. Rukun dan tata cara khutbahnya sama seperti khutbah Salat Id.
Pada khutbah pertama, khatib membaca takbir sebanyak sembilan kali, sedangkan pada khutbah kedua membaca takbir sebanyak tujuh kali.
Isi Khutbah Shalat Istisqa
Dalam materi khutbah, khatib dianjurkan mengajak umat Islam untuk bertaubat dan memohon ampun atas segala dosa. Jamaah juga dianjurkan memperbanyak istighfar dengan harapan Allah SWT mengabulkan kebutuhan umat Islam dan makhluk hidup lainnya ketika menghadapi kemarau panjang.
Selain menyampaikan nasihat dan ajakan untuk memperbanyak istighfar, khatib juga disunnahkan membaca doa pada akhir setiap khutbah.
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِاللهم اسقنا، اللهم اسقنا، اللهم اسقنا، وفي لفظ: اللهم أغثنا، اللهم أغثنا، اللهم أغثنا.
اللهم اسقنا غيثًا مغيثًا، مريعًا، نافعًا غير ضار، عاجلاً غير آجل.
الحمد لله رب العالمين، الرحمن الرحيم، ملك يوم الدين، لا إله إلا الله يفعل ما يريد، اللهم أنت الله لا إله إلا أنت الغني ونحن الفقراء، أنزل علينا الغيث واجعل ما أنزلت لنا قوة وبلاغًا إلى حين.
اللهم اسق عبادك، وبهائمك، وانشر رحمتك، وأحيي بلدك الميت.
اللهم اسقنا غيثًا مريئًا مريعًا طبقًا عاجلاً غير رائث، نافعًا غير ضار.
Latin: Allahumma asqina, Allahumma asqina, Allahumma asqina. Wa fi lafzhin: Allahumma aghitsna, Allahumma aghitsna, Allahumma aghitsna.
Allahumma asqina ghaītsan mugītsan, marī’an, nāfi’an ghaira dhārrin, ‘ājilan ghaira ājil.
Alhamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn, ar-Rahmānir-Rahīm, maliki yaumid-dīn, lā ilāha illallāhu yaf‘alu mā yurīd. Allāhumma antal-lāhu lā ilāha illā anta, antal-ghaniyyu wa naḥnul-fuqarā’, anzil ‘alainal-ghaitsa waj‘al mā anzalta lanā quwwatan wa balāghan ilā ḥīn.
Allāhumma asqi ‘ibādaka, wa bahā’imaka, wansyur raḥmataka, wa aḥyi baladakal-mayyit.
Allāhumma asqinā ghaītsan marī’an marī’an ṭabaqan ‘ājilan ghaira rā’its, nāfi’an ghaira dhār.
Artinya: “Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.” Dalam lafaz lain: “Ya Allah, berilah kami pertolongan. Ya Allah, berilah kami pertolongan. Ya Allah, berilah kami pertolongan.
Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang memberikan pertolongan, menyuburkan, bermanfaat dan tidak membahayakan, serta segera dan tidak ditunda.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Pemilik hari pembalasan. Tidak ada Tuhan selain Allah, Dia melakukan apa yang Dia kehendaki. Ya Allah, Engkaulah Allah, tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkau Mahakaya, sedangkan kami adalah orang-orang yang membutuhkan. Turunkanlah hujan kepada kami dan jadikanlah apa yang Engkau turunkan bagi kami sebagai kekuatan dan bekal sampai suatu waktu.
Ya Allah, berilah minum hamba-hamba-Mu dan hewan-hewan-Mu, sebarkanlah rahmat-Mu, dan hidupkanlah negeri-Mu yang telah mati.
Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang menyegarkan, menyuburkan, merata, segera dan tidak terlambat, serta bermanfaat dan tidak membahayakan.”
Pada akhir khutbah pertama dan kedua, khatib disunnahkan membaca doa dengan membalikkan badan dan membelakangi jamaah untuk menghadap kiblat.
Saat menghadap kiblat, khatib menukar posisi selendang atau sorban yang berada di pundaknya sambil mengangkat kedua tangan. Rangkaian tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan doa dalam Shalat Istisqa.
Salat Istisqa menjadi salah satu bentuk ikhtiar umat Islam untuk memohon turunnya hujan ketika terjadi kemarau panjang.
Pelaksanaannya dilakukan dengan rangkaian puasa, shalat berjamaah, khutbah, istighfar, dan doa kepada Allah SWT.
Melalui ibadah shalat istisqa ini, masyarakat memohon agar hujan turun dan kondisi yang ditimbulkan akibat kekeringan dapat segera teratasi.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT