Editor
KOMPAS.com - Setiap muslim dianjurkan untuk senantiasa mengingat Allah SWT melalui dzikir pagi dan petang sebagai bentuk ibadah harian.
Amalan ini dilakukan pada waktu pagi setelah subuh dan petang menjelang magrib sebagai bagian dari sunnah Rasulullah SAW.
Dzikir tersebut berfungsi sebagai perlindungan diri sekaligus penguat keimanan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Selain menjadi amalan sederhana yang memiliki nilai pahala besar, dzikir pagi dan petang juga menjadi benteng dari berbagai keburukan yang tidak terlihat.
Baca juga: Bacaan Dzikir Setelah Shalat Fardhu Lengkap dengan Urutannya
Dengan rutin membacanya, hati menjadi lebih tenang, pikiran lebih jernih, serta ibadah menjadi lebih terjaga.
Oleh karena itu, memahami bacaan dan keutamaan dzikir pagi dan petang menjadi penting bagi setiap muslim.
Baca juga: Bacaan Dzikir dan Doa Ziarah Kubur Lengkap dengan Artinya
Dilansir dari laman Muhammadiyah, merujuk pada Buku Saku dan Tuntunan Doa dan Dzikir karya Rahmadi Wibowo Suwarno dan Qaem Aulassyahied (2021), berikut beberapa bacaan dzikir pagi dan petang yang dianjurkan sesuai tuntunan Rasulullah SAW:
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ، فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ
Arab latin: Allahumma anta rabbii laa ilaaha illaa anta, khalaqtanii wa ana 'abduka, wa ana 'ala 'ahdika wa wa'dika mastatha'tu. A'uudzu bika min syarri maa shana'tu, abuu-u laka bini'matika 'alayya, wa abuu-u bidzanbii faghfirlii fa innahu laa yaghfirudz dzunuuba illaa anta.
Artinya: “Allah, Engkau adalah tuhanku, tiada sesembahan selain Engkau. Engkau yang menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu dan aku senantiasa memenuhi sumpah dan janji kepada-Mu sekuat kemampuanku. Aku berlindung pada-Mu dari segala keburukan yang aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu atas ku dan aku mengakui dosa-dosa ku. Maka ampunilah aku. Karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau.”
اللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ، وَإِلَيْكَ الْنُّشُوْرُاللّٰهُمَّ بِكَ أََصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ.
Arab latin: Allahumma bika ashbahna wabika amsaina wabika nahya wabika namuutu wa ilaikan nusyuur
Artinya: “Ya Allah, dengan-Mu kami memasuki waktu pagi, dan dengan-Mu kami memasuki waktu sore. Dengan-Mu kami hidup dan dengan-Mu kami mati. Dan hanya kepada-Mu kebangkitan (semua makhluk).” (HR. Al-Bukhari)
أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ الإِسْلَامِ، وَكَلِمَةِ الْإِخْلَاصِ، وَدِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
Arab latin: Aṣbaḥnā ‘alā fiṭratil-islām, wa kalimatil-ikhlāṣ, wa dīni nabiyyinā Muḥammadin ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, wa millati abīnā Ibrāhīma ḥanīfan musliman wa mā kāna minal-musyrikīn.
Artinya: “Kami memasuki waktu pagi dalam keadaan fitrah Islam dan kalimat ketahui dan dan tetap mengikuti agama nabi kami Muhammad saw dan berada di atas ajaran Ayah para nabi kami Ibrahim seorang yang lurus lagi muslim dan tidaklah ia termasuk golongan orang-orang yang menyekutukan Allah.” HR. Ahmad)
Keterangan: di sore hari, dzikir ini juga dibaca mengganti kata ashbahnaa (أَصْبَحْنَا) dengan kata amsainaa (أَمْسَيْنَا).
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَتِي وَقَالَ عُثْمَانُ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي وَمِنْ فَوْقِي وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أَغْتَالَ مِنْ تَحْتِي
Arab latin: Allāhumma innī as’alukal-‘āfiyata fid-dunyā wal-ākhirah. Allāhumma innī as’alukal-‘afwa wal-‘āfiyata fī dīnī wa dunyāya wa ahlī wa mālī. Allāhumma-stur ‘auratī (wa qāla ‘Utsmān: ‘aurātī) wa āmin rau‘ātī. Allāhummaḥ-faẓnī min bayni yadayya wa min khalfī wa ‘an yamīnī wa ‘an syimālī wa min fauqī, wa a‘ūdzu bi‘aẓamatika an ughtāla min taḥtī.
Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-mu keselamatan di dunia dan di akhirat. Ya Allah, aku mohon kepada-Mu pemaafan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan harta. Ya Allah, tutupilah auratku, dan amankanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, jagalah aku dari depan, belakang, sisi kanan, sisi kiri, dan dari atas. Aku berlindung kepada-Mu dengan kebesaran-Mu agar aku tidak diserang dari arah bawah.” (HR. Abu Dawud)
اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي، اَللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي، اَللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي، لَا إِلَهَ إِلا أَنْتَ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، لَا إِلَهَ إِلا أَنْتَ
Arab latin: Allāhumma ‘āfinī fī badanī, Allāhumma ‘āfinī fī sam‘ī, Allāhumma ‘āfinī fī baṣarī, lā ilāha illā anta. Allāhumma innī a‘ūdzu bika minal-kufri wal-faqri, wa a‘ūdzu bika min ‘adzābil-qabr, lā ilāha illā anta.
Artinya: “Ya Allah, selamatkan tubuhku, ya Allah selamatkan pendengaranku dan penglihatanku, tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kekufuran dan kefakiran, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau.”
أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، لَا إِلَهَ إِلا اللَّهُ، وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابِ فِي الْقَبْرِ
Arab latin: Aṣbaḥnā wa aṣbaḥal-mulku lillāh, wal-ḥamdu lillāh, lā ilāha illallāh, waḥdahū lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr.
Rabbī as’aluka khaira mā fī hādzal-yaum wa khaira mā ba‘dah, wa a‘ūdzu bika min syarri mā fī hādzal-yaum wa syarri mā ba‘dah. Rabbī a‘ūdzu bika minal-kasali wa sū’il-kibar, rabbī a‘ūdzu bika min ‘adzābin fin-nār wa ‘adzābin fil-qabr.
Artinya: “Kami telah memasuki waktu pagi dan senantiasalah kekuasaan dan kerajaan itu milik Allah, segala puji bagi-Nya, tiada sesembahan selain Allah semata dan satu-satunya, tiada sekutu bagi-Nya. Allah lah yang memiliki segenap kekuasan dan hanya diri-Nya pula yang berhak segala pujian, dan Allah Maha Mampu atas segala sesuatu.
Ya Allah tuhanku, aku meminta kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan setelahnya dan aku berlindung kepadaMu dari kejahatan hari ini dan kejahatan setelahnya. Wahai Tuhan, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelasan di hari tua. Duhai Tuhan, aku berlindung kepada-Mu dari adzab neraka dan siksaan kubur.” (HR. Muslim)
رَضِيْتُ بِاللَّهِ رَبِّاً وَبِالْإِسْلَامِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا
Arab latin: Raḍītu billāhi rabbā, wa bil-islāmi dīnā, wa bi Muḥammadin ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama nabiyyā.
Artinya: “Aku ridha Allah sebagai tuhanku dan Islam sebagai Agamaku dan Nabi Muhammad Saw sebagai Nabiku.” (HR. At-Tirmidzi)
يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْث ، وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا
Arab latin: Yā Ḥayyu yā Qayyūm, biraḥmatika astaghīts, wa aṣliḥ lī sya’nī kullahū, wa lā takilnī ilā nafsī ṭarfata ‘aynin abadā.
Artinya: “Wahai Tuhan yang Maha Hidup dan yang Maha Kuat dan tidak membutuhkan segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan janganlah Engkau biarkan aku sendiri meski hanya sekejap mata.” (HR. Al-Hakim)
3x سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ ، وَرِضَا نَفْسِهِ ، وَزِنَةً عَرْشِهِ ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
Arab latin: Subḥānallāhi wa biḥamdihī ‘adada khalqihī, wa riḍā nafsihī, wa zinata ‘arsyihī, wa midāda kalimātihī. (dibaca 3 kali)
Artinya: “Maha Suci Allah, dan pujian bagi-Nya sejumlah apa yang diciptakan-Nya, sejauh keridhaan-Nya dan seberat timbangan ‘arsy-Nya, dan sebanyak tinta kalimat-Nya.” (HR. Muslim)
بِسْمِ اللهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا في السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Arab latin: Bismillāhilladzī lā yaḍurru ma‘asmihī shai’un fil-arḍi wa lā fis-samā’i wa huwas-samī‘ul ‘alīm.
Artinya: “Dengan nama Allah, tiada satu pun yang ada di langit dan di bumi yang dapat mendatangkan bahaya bersamaan dengan nama-Nya. Dia adalah Zat yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (HR. St-Tirmidzi)
Dilansir dari laman BAZNAS Kota Sukabumi, keutamaan ibadah ini tercantum dalam Al-Qur'an Surat Al-Ahzab ayat 41–42, yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.”
Rasulullah juga bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, yang artinya:
“Perumamaan orang yang berdzikir kepada Rabbnya dan yang tidak berdzikir seperti orang hidup dan orang mati.” (HR.Bukhari)
Dzikir pagi dan petang berfungsi sebagai benteng spiritual yang menjaga hati dari kelalaian dan godaan. Amalan ini menjadi perlindungan dari berbagai keburukan yang tidak terlihat, sekaligus menjaga kestabilan iman di tengah aktivitas harian.
Rasulullah juga bersabda dalam hadits yang artinya:
“Barang siapa yang mengucapkan Subhanallah wa bihamdih 100 kali dalam sehari, maka dihapus dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa dzikir bukan hanya rutinitas lisan, tetapi juga sarana penghapus dosa yang efektif jika dilakukan secara konsisten.
Dzikir menghadirkan ketenangan batin yang berdampak pada kelancaran aktivitas sehari-hari. Dengan hati yang tenang, seseorang lebih mudah menjalani pekerjaan dan merasakan keberkahan dalam setiap rezeki yang diperoleh.
Dzikir merupakan bentuk komunikasi langsung antara hamba dengan Allah Swt. Kebiasaan ini memperkuat kedekatan spiritual, sehingga ibadah yang dilakukan menjadi lebih khusyuk dan bermakna.
Dzikir termasuk amalan yang mudah dilakukan tanpa membutuhkan waktu atau tenaga besar. Meski ringan diucapkan, amalan ini memiliki nilai pahala besar dan dampak yang signifikan dalam kehidupan seorang muslim jika dijaga secara rutin.
Mengamalkan dzikir pagi dan petang merupakan wujud ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT. Dengan membiasakan dzikir, seorang muslim dapat merasakan ketenangan, perlindungan, serta keberkahan dalam hidupnya.
Dzikir yang diajarkan Rasulullah SAW menjadi pedoman penting agar setiap langkah kehidupan selalu berada dalam bimbingan dan rahmat Allah, baik di dunia maupun di akhirat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang