Editor
KOMPAS.com - Memasuki Tahun Baru Islam, umat Muslim dianjurkan memperbanyak amalan ibadah sebagai bentuk syukur dan upaya meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Salah satu amalan yang dianjurkan pada awal bulan Muharram adalah menjalankan puasa sunnah.
Puasa di bulan Muharram memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam dan disebut sebagai salah satu puasa sunnah yang paling utama setelah puasa Ramadhan.
Baca juga: 7 Amalan Menyambut Tahun Baru Islam 1448 H, Dari Muhasabah hingga Puasa Muharram
Karena itu, umat Islam yang ingin melaksanakan puasa pada 1 Muharram perlu mengetahui bacaan niat serta berbagai keutamaan yang terkandung di dalamnya.
Bagi umat Islam yang ingin menjalankan puasa sunnah pada 1 Muharram, berikut bacaan niat yang dikutip dari laman Baznas:
Baca juga: Kapan Tahun Baru Islam 2026? Catat Jadwal Puasa Tasua dan Asyura 1448 Hijriah
نَوَيْتُ صَوْمَ الشَّهْرِ الْمُحَرَّمِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma-sy-syahri-l-muharrami sunnatan lillaahi ta’aala
Artinya: “Saya berniat puasa bulan Muharram sunnah karena Allah Ta’ala.”
Niat puasa dapat dibaca sejak malam hari hingga sebelum matahari tergelincir atau zawal, selama seseorang belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak waktu Subuh.
Selain membaca niat, umat Islam juga dianjurkan untuk melaksanakan sahur sebelum menjalankan puasa sunnah.
Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam dan memiliki banyak keutamaan.
Dalam hadis riwayat Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam." (HR Muslim)
Hadis tersebut menunjukkan besarnya keutamaan berpuasa di bulan Muharram dibandingkan bulan-bulan lainnya setelah Ramadhan.
Salah satu keutamaan puasa di bulan Muharram terdapat pada tanggal 10 Muharram atau Hari Asyura.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa puasa Asyura dapat menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa selama satu tahun sebelumnya.
"Puasa Asyura melebur dosa setahun yang telah lewat." (HR Muslim, dari Abu Qatadah r.a.)
Untuk menyempurnakan amalan tersebut, umat Islam juga dianjurkan berpuasa pada tanggal 9 Muharram atau Tasu'a serta tanggal 11 Muharram.
Selain berpuasa, Hari Asyura juga identik dengan anjuran untuk memperbanyak kebaikan kepada keluarga.
Rasulullah menjanjikan bahwa siapa yang memberikan kelapangan kepada keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun.
Bulan Muharram, khususnya Hari Asyura, juga diyakini menjadi momentum terjadinya berbagai peristiwa penting dalam sejarah para nabi.
Di antaranya adalah diterimanya taubat Nabi Adam AS.
Selain itu, Nabi Nuh AS diselamatkan dari banjir besar, sementara Nabi Ibrahim AS diselamatkan dari api Raja Namrud.
Hari Asyura juga dikaitkan dengan peristiwa Nabi Musa AS yang diselamatkan dari kejaran Fir'aun di Laut Merah.
Peristiwa penting lainnya adalah keluarnya Nabi Yunus AS dari perut ikan besar, kesembuhan Nabi Ayyub AS dari penyakitnya, serta ampunan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.
Bulan Muharram bukan hanya menjadi penanda pergantian tahun dalam kalender Islam, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat keimanan dan meningkatkan kualitas ibadah.
Melalui puasa sunnah, memperbanyak amal saleh, serta meneladani kisah para nabi, umat Islam diharapkan dapat mengisi tahun baru Hijriah dengan semangat ketaatan dan rasa syukur.
Dengan menjadikan Muharram sebagai awal perubahan menuju kebaikan, umat Islam dapat menyambut Tahun Baru Hijriah dengan harapan dan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik di hadapan Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang