Editor
KOMPAS.com - Kisah Nabi Zakariya AS yang memohon keturunan diabadikan dalam Al-Qur'an sebagai teladan tentang kesabaran dan keyakinan dalam berdoa kepada Allah SWT.
Meski telah memasuki usia lanjut dan istrinya diketahui tidak dapat mengandung, Nabi Zakariya tidak berhenti memohon agar dianugerahi seorang anak yang saleh.
Dengan penuh kerendahan hati, ia mengakui segala keterbatasannya sembari terus berikhtiar melalui doa.
Baca juga: 6 Doa Pagi yang Dianjurkan Rasulullah, Bikin Hati Tenang dan Rezeki Berkah
Atas kehendak Allah SWT, doa tersebut dikabulkan dengan lahirnya Nabi Yahya AS, yang kemudian menjadi salah seorang nabi.
Salah satu kisah para nabi yang diceritakan dalam Al-Qur'an adalah perjalanan Nabi Zakariya AS ketika memohon keturunan kepada Allah SWT.
Baca juga: Doa Taubat dan Memohon Ampunan kepada Allah SWT, Lengkap dengan Arab dan Artinya
Dalam doanya, Nabi Zakariya mengungkapkan kondisi dirinya yang telah lanjut usia serta istrinya yang tidak dapat mengandung.
Meski demikian, ia tetap berharap kepada Allah SWT agar diberikan keturunan yang baik.
Allah kemudian menunjukkan kekuasaan-Nya dengan mengabulkan doa tersebut.
Istri Nabi Zakariya akhirnya mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang kelak dikenal sebagai Nabi Yahya AS.
Dikutip dari buku Doa-doa Dahsyat dan Mustajab dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah: Kisah dan Rahasia agar Doa Terkabul (2015) karya Saiful Hadi el-Sutha, terdapat dua doa yang dipanjatkan Nabi Zakariya sebelum dikaruniai Nabi Yahya AS.
Doa-doa tersebut menjadi bentuk ikhtiar Nabi Zakariya dalam memohon keturunan kepada Allah SWT.
رَبِّ لَا تَذَرْنِيْ فَرْدًا وَّاَنْتَ خَيْرُ الْوٰرِثِيْنَ
Bacaan latin: Rabbi lā tażarnī fardaw wa anta khairul-wāriṡīn.
Artinya: "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan), sedang Engkau adalah sebaik-baik waris."
Doa ini dipanjatkan Nabi Zakariya karena khawatir menjalani masa tua tanpa kehadiran keturunan.
Doa tersebut terus dipanjatkan siang dan malam hingga Allah SWT mengabulkan permohonannya.
Selain doa tersebut, Nabi Zakariya juga memanjatkan doa yang tercantum dalam Surah Ali Imran ketika memohon dikaruniai keturunan yang saleh.
Doa ini dipanjatkan setelah Nabi Zakariya menyaksikan karunia Allah SWT kepada Siti Maryam ketika berada di mihrab.
رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
Bacaan latin: Rabbi hab lī mil ladungka żurriyyatan ṭayyibah, innaka samī'ud-du'ā'.
Artinya: "Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa."
Doa Nabi Zakariya menjadi salah satu teladan tentang pentingnya tidak berputus asa dalam memohon kepada Allah SWT.
Bagi pasangan yang sedang berikhtiar memperoleh keturunan atau pejuang garis dua, doa-doa tersebut dapat diamalkan sebagai bagian dari ikhtiar spiritual, sembari tetap menempuh usaha dan ikhtiar sesuai kemampuan.
Kisah Nabi Zakariya juga mengajarkan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT. Ketika Dia berkehendak, doa yang dipanjatkan dengan penuh kesabaran dan keikhlasan dapat dikabulkan pada waktu yang terbaik menurut-Nya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang