Editor
KOMPAS.com - Rebo Wekasan 2026 jatuh pada Rabu, 12 Agustus 2026, bertepatan dengan 28 Safar 1448 Hijriah.
Hal ini karena berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI, bulan Safar 1448 H berakhir pada 13 Agustus 2026.
Pada momen ini, umat Islam dapat memperbanyak doa dan amal kebaikan sebagai bentuk ikhtiar memohon perlindungan kepada Allah.
Baca juga: Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Dilansir dari laman MUI, sejarah Rabu Wekasan atau Rebo Wekasan yang merupakan Rabu terakhir pada bulan Safar salah satunya berasal dari sebagian tradisi masyarakat.
Dalam tradisi tersebut terdapat kepercayaan sejak masa Jahiliah di mana hari tersebut kerap dikaitkan dengan datangnya musibah, malapetaka, atau kesialan. Anggapan bahwa bulan Safar identik dengan kesialan masih ditemukan di sebagian masyarakat. Bahkan, ada yang menghindari bepergian pada bulan tersebut karena khawatir tertimpa keburukan.
Baca juga: Doa Rebo Wekasan 2026 Lengkap: Arab, Latin, dan Artinya
Padahal, keyakinan yang mengaitkan waktu tertentu dengan datangnya keburukan secara pasti termasuk thiyarah yang dilarang dalam Islam. Suatu waktu atau tanggal tidak memiliki kekuatan untuk mendatangkan kesialan karena segala peristiwa terjadi atas ketetapan Allah SWT.
Meski begitu, tidak ada salahnya umat Islam berdoa di setiap momen, termasuk di hari “Rabu Wekasan”. Setidaknya ada empat doa yang dapat diamalkan di hari tersebut, tentunya dengan berlandaskan pada apa yang telah dilakukan oleh para ulama saleh terdahulu.
Namun, perlu dicatat dan ditegaskan kembali bahwa membaca doa pada momen “Rabu Wekasan” hendaknya ditempatkan sebagai bentuk ikhtiar, tawakal, serta permohonan perlindungan kepada Allah, bukan lantaran meyakini bahwa hari “Rabu Wekasan” atau Rabu terakhir bulan Safar ini secara pasti membawa kesialan.
Syekh Abdul Hamid Quddus al-Makki asy-Syafi’i (wafat 1335 H) dalam kitab Kanzun Najah wa as-Surur secara khusus menganjurkan membaca doa pada Rabu terakhir bulan Safar sebagai salah satu bentuk ikhtiar memohon perlindungan kepada Allah dari berbagai marabahaya dan bala. Beliau mengatakan:
فَمَنْ أَرَادَ السَّلَامَةَ وَالْحِفْظَ مِنْ ذَلِكَ فَلْيَدْعُ أَوَّلَ يَوْمٍ مِنْ صَفَرٍ وَكَذَا فِي آخِرِ أَرْبِعَاءِ مِنْهُ بِهَذَا الدُّعَاءِ، فَمَنْ دَعَا بِهِ دَفَعَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْهُ شَرَّ ذَلِكَ الْبَلَاءِ
“Barang siapa menghendaki keselamatan dan perlindungan dari hal ini, hendaknya ia berdoa pada hari pertama bulan Safar, demikian pula pada hari Rabu terakhir bulan Safar, dengan doa ini (doa yang akan disebutkan). Barang siapa membacanya, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menolak darinya keburukan bala tersebut.” (Kanzun Najah wa as-Surur [Beirut: Dar al-Hawi], h. 91)
Doa tersebut menjadi salah satu ikhtiar untuk memohon keselamatan serta perlindungan kepada Allah dari berbagai keburukan dan bala. Adapun lafadz doanya adalah sebagaimana berikut:
وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شَرِّ هَذَا الزَّمَانِ وَأَهْلِهِ، وَأَعُوذُ بِجَلَالِكَ وَجَلَالِ وَجْهِكَ، وَكَمَالِ جَلَالِ قُدْرَتِكَ أَنْ تُجِيرَنِي وَوَالِدَيَّ وَأَوْلَادِي وَأَهْلِي وَأَحِبَّائِي، وَمَا تُحِيطُهُ شَفَقَةُ قَلْبِي مِنْ شَرِّ هَذِهِ السَّنَةِ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ فِيهَا، وَاصْرِفْ عَنِّي شَرَّ شَهْرِ صَفَرَ، يَا كَرِيمَ النَّظَرِ، وَاخْتِمْ لِي فِي هَذَا الشَّهْرِ وَالدَّهْرِ بِالسَّلَامَةِ وَالْعَافِيَةِ وَالسَّعَادَةِ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَأَوْلَادِي وَالأَهْلِ وَمَا تَحُوطُهُ شَفَقَةُ قَلْبِي وَجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Wa shallallāhu Ta’ālā ‘alā Sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa shaḥbihi ajma’īn. A’ūdzu billāhi min syarri hādzaz-zamāni wa ahlihi, wa a’ūdzu bijalālika wa jalāli wajhika, wa kamāli jalāli qudratika an tujīranī wa wālidayya wa aulādī wa ahlī wa aḥibbā’ī, wa mā tuḥīṭuhu syafaqatu qalbī min syarri hādzihis-sanati, wa qinī syarra mā qadhaita fīhā, washrif ‘annī syarra syahri Shafar, yā Karīman-nadhari, wakhtim lī fī hādzasy-syahri wad-dahri bis-salāmati wal-‘āfiyati was-sa’ādati lī wa liwālidayya wa aulādī wal-ahli wa mā taḥūṭuhu syafaqatu qalbī wa jamī’il-muslimīn. Wa shallallāhu Ta’ālā ‘alā Sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa shaḥbihi wa sallam.
Artinya: “Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta seluruh keluarga dan para sahabat beliau. Aku berlindung kepada Allah dari keburukan zaman ini dan orang-orang yang hidup di dalamnya. Aku juga berlindung dengan keagungan-Mu, keagungan wajah-Mu, dan kesempurnaan keagungan kekuasaan-Mu, agar Engkau melindungi diriku, kedua orang tuaku, anak-anakku, keluargaku, orang-orang yang kucintai, serta siapa pun yang tercakup dalam kasih sayang hatiku dari keburukan tahun ini. Lindungilah aku dari keburukan segala sesuatu yang telah Engkau tetapkan di dalamnya, dan jauhkanlah dariku keburukan bulan Safar, wahai Dzat Yang Mahamulia perhatian-Nya. Akhirilah bulan ini dan perjalanan usiaku dengan keselamatan, kesehatan, dan kebahagiaan bagi diriku, kedua orang tuaku, anak-anakku, keluargaku, orang-orang yang tercakup dalam kasih sayang hatiku, serta seluruh kaum Muslimin. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.” (Kanzun Najah wa as-Surur [Beirut: Dar al-Hawi], h. 91-92)
Doa ini memuat permohonan perlindungan yang cukup luas, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga kedua orang tua, anak, keluarga, orang-orang tercinta, dan seluruh kaum muslimin. Di dalamnya juga terdapat permohonan agar Allah mengakhiri perjalanan waktu seseorang dengan keselamatan, kesehatan, dan kebahagiaan. Karena itu, doa ini patut untuk diperhatikan dan diamalkan.
Doa berikutnya dinukil dari Syekh Ahmad bin Umar ad-Dairabi al-Ghunaimi asy-Syafi’i (wafat 1151 H). Kandungan doanya berisi permohonan agar Allah mencukupi segala urusan, memberikan rahmat, serta melindungi seseorang dari berbagai keburukan maupun bencana yang mungkin bisa terjadi pada hari itu. Adapun lafaz doanya adalah sebagai berikut:
اَللّٰهُمَّ يَا شَدِيدَ الْقُوَى، وَيَا شَدِيدَ الْمِحَالِ، يَا عَزِيزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيعُ خَلْقِكَ. اكْفِنِي مِنْ جَمِيعِ خَلْقِكَ، يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ، يَا مُتَفَضَّلُ، يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ، يَا مَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، ارْحَمْنِي بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ. اَللّٰهُمَّ بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيهِ، وَجَدِّهِ وَأَبِيهِ، وَأُمِّهِ وَبَنِيهِ؛ اكْفِنِي شَرَّ هَذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيهِ، يَا كَافِي الْمُهِمَّاتِ، يَا دَافِعَ البَلِيَّاتِ. فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، وَصَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Allāhumma yā Syadīdal-quwā, wa yā Syadīdal-miḥāl, yā ‘Azīzu dzallat li’izzatika jamī’u khalqika, ikfinī min jamī’i khalqika, yā Muḥsinu yā Mujammilu, yā Mutafadhdhilu, yā Mun’imu yā Mukrimu, yā man lā ilāha illā Anta, irḥamnī biraḥmatika yā Arḥamar-rāḥimīn. Allāhumma bisirril-Ḥasani wa akhīhi, wa jaddihi wa abīhi, wa ummihi wa banīhi, ikfinī syarra hādzal-yaumi wa mā yanzilu fīhi, yā Kāfiyal-muhimmāt, yā Dāfi’ al-baliyyāt, fasayakfīkahumullāhu wa Huwas-Samī’ul-‘Alīm, wa ḥasbunallāhu wa ni’mal-wakīl, wa lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil-‘Aliyyil-‘Aẓīm. Wa shallallāhu Ta’ālā ‘alā Sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa shaḥbihi wa sallam.
Artinya: “Ya Allah, wahai Dzat Yang Mahakuat, wahai Dzat Yang Mahadahsyat kekuasaan-Nya. Wahai Dzat Yang Mahaperkasa, seluruh makhluk-Mu tunduk di hadapan keperkasaan-Mu. Cukupkanlah aku dari seluruh makhluk-Mu. Wahai Dzat Yang Maha Berbuat Baik, Yang Mahaindah, Yang Maha Memberi Karunia, Yang Maha Memberi Nikmat, dan Yang Maha Memuliakan. Wahai Dzat yang tiada Tuhan selain Engkau, kasihilah aku dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara para pengasih. Ya Allah, dengan rahasia kemuliaan Sayyidina Hasan dan saudaranya, kakeknya, ayahnya, ibunya, serta anak-anaknya, lindungilah aku dari keburukan hari ini dan segala sesuatu yang turun atau terjadi di dalamnya. Wahai Dzat Yang Mencukupi segala urusan penting, wahai Dzat Yang Menolak segala bencana. Maka, Allah akan mencukupkanmu (dengan pelindungan-Nya) dari (kejahatan) mereka. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.” (Mujarobat ad-Dairabi al-Kabir [Beirut: al-Maktabah as-Tsaqafiyyah], h. 79)
Keutamaan yang terkandung dalam doa ini tampak pada permohonan perlindungan dari keburukan, pencukupan dalam berbagai urusan, serta peneguhan sikap tawakal kepada Allah. Hal demikian juga tergambar dari bacaan hasbunallahu wa ni’mal-wakil, yakni pengakuan bahwa Allah merupakan sebaik-baik tempat berserah dan berlindung. Jadi, substansi doa ini tidak lain adalah menyandarkan segala urusan kepada Allah SWT. Karena itu, selayaknya kita memperhatikan dan mengamalkannya.
Doa ketiga dikutip dari Syekh Ahmad bin Ali al-Buni al-Maliki (wafat 622 H). Doa ini berisi permohonan kepada Allah melalui nama-nama-Nya yang indah dan kalimat-kalimat-Nya yang sempurna, dengan harapan supaya diberikan penjagaan serta keselamatan dari berbagai cobaan. Adapun lafaznya sebagai berikut:
اَللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَسْمَائِكَ الْحُسْنَى، وَبِكَلِمَاتِكَ التَّامَّاتِ، وَبِحُرْمَةِ نَبِيِّكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَحْفَظَنِي وَأَنْ تُعَافِيَنِي مِنْ بَلَائِكَ، يَا دَافِعَ الْبَلَايَا، يَا مُفَرِّجَ الْهَمِّ، وَيَا كَاشِفَ الْغَمِّ. اكْشِفْ عَنِّي مَا كُتِبَ عَلَيَّ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مِنْ هَمٍ أَوْ غَمٍ. إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا
Allāhumma innī as’aluka bi-asmā’ikal-ḥusnā, wa bi-kalimātikat-tāmmāti, wa biḥurmati Nabiyyika Sayyidinā Muḥammadin shallallāhu ‘alaihi wa sallam an taḥfaẓanī wa an tu’āfiyanī min balā’ika, yā Dāfi‘al-balāyā, yā Mufarrijal-hammi, wa yā Kāsyifal-ghammi, iksyif ‘annī mā kutiba ‘alayya fī hādzihis-sanati min hammin au ghammin, innaka ‘alā kulli syai’in qadīr. Wa shallallāhu ‘alā Sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa shaḥbihi wa sallama taslīman.
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan nama-nama-Mu yang indah, dengan kalimat-kalimat-Mu yang sempurna, dan dengan kemuliaan Nabi-Mu, junjungan kami Nabi Muhammad SAW, semoga Engkau senantiasa menjagaku dan menyelamatkanku dari segala cobaan-Mu. Wahai Dzat Yang Menolak segala bencana, wahai Dzat Yang Menghilangkan segala kesusahan, dan wahai Dzat Yang Menyingkap segala kesedihan, singkirkanlah dariku segala kesusahan dan kesedihan yang telah ditetapkan menimpaku pada tahun ini. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan yang sempurna kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.” (Kanzun Najah wa as-Surur [Beirut: Dar al-Hawi], h. 97)
Sebagaimana doa yang disebutkan sebelumnya, doa ini secara khusus juga mengandung permohonan agar Allah memberikan penjagaan, kesehatan, dan keselamatan dari berbagai cobaan. Di samping itu, terdapat permohonan supaya segala kesusahan dan kesedihan yang mungkin terjadi disingkirkan oleh Allah. Dan memang demikianlah Allah mengajarkan kepada kita agar hanya memohon dan mengadu kepada-Nya.
Selain tiga doa di atas, menurut Syekh Abdul Hamid Quddus al-Makki asy-Syafi’I, terdapat lafadz doa lain yang juga diamalkan oleh sebagian orang saleh. Sebagaimana pada umumnya, doa ini diawali dengan bacaan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Lalu doa dilanjutkan dengan permohonan keselamatan dari berbagai ketakutan dan bencana, terpenuhinya kebutuhan, pengampunan keburukan, serta tercapainya kebaikan di dunia dan setelah kematian.
Berikut lafadz doa yang dimaksud:
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةٌ تُنْجِينَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ الأَهْوَالِ وَالآفَاتِ، وَتَقْضِي لَنَا بِهَا جَمِيعَ الْحَاجَاتِ، وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ السَّيِّئَاتِ، وَتَرْفَعُنَا بِهَا أَعْلَى الدَّرَجَاتِ، وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ، مِنْ جَمِيعِ الْخَيْرَاتِ فِي الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ. اَللّٰهُمَّ اصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ، وَمَا يَخْرُجُ مِنَ الْأَرْضِ. إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَصَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Allāhumma shalli ‘alā Sayyidinā Muḥammadin ṣalātan tunjīnā bihā min jamī’il-ahwāli wal-āfāti, wa taqḍī lanā bihā jamī’al-ḥājāti, wa tuṭahhirunā bihā min jamī’is-sayyi’āti, wa tarfa’unā bihā a’lad-darajāti, wa tuballighunā bihā aqshal-ghāyāti, min jamī’il-khairāti fil-ḥayāti wa ba’dal-mamāti. Allāhummashrif ‘annā syarra mā yanzilu minas-samā’i, wa mā yakhruju minal-ardhi, innaka ‘alā kulli syai’in qadīr, wa shallallāhu Ta’ālā ‘alā Sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa shaḥbihi wa sallam.
Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, dengan rahmat yang dengannya Engkau menyelamatkan kami dari segala ketakutan dan bencana, memenuhi seluruh kebutuhan kami, menyucikan kami dari segala keburukan, mengangkat kami ke derajat yang paling tinggi, serta menyampaikan kami kepada puncak segala kebaikan, baik dalam kehidupan maupun setelah kematian. Ya Allah, jauhkanlah dari kami keburukan segala sesuatu yang turun dari langit dan yang keluar dari bumi. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.” (Kanzun Najah wa as-Surur [Beirut: Dar al-Hawi], h. 97-98)
Kandungan doa ini mencakup permohonan yang cukup luas, mulai dari keselamatan dari bencana, terpenuhinya berbagai kebutuhan, terbebas dari keburukan, hingga memperoleh kebaikan dalam kehidupan dan setelah kematian. Jadi, sebagaimana layaknya tiga doa yang disebutkan sebelumnya, doa ini juga bisa diamalkan di momen hari “Rabu Wekasan”.
Memang sejumlah ulama tasawuf menganjurkan umat Islam memperbanyak doa dan amal kebaikan ketika memasuki bulan Safar, termasuk pada Rabu terakhir bulan tersebut.
Amalan tersebut bukan dilakukan karena menganggap Safar sebagai bulan pembawa sial, melainkan sebagai ikhtiar memohon perlindungan, keselamatan, dan keberkahan kepada Allah.
Imam Ibn Rajab al-Hanbali (wafat 795 H) dalam kitabnya menuturkan:
أَنَّ الْأَسْبَابَ الْمَكْرُوهَةَ إِذَا وُجِدَتْ فَإِنَّ الْمَشْرُوعَ الِاشْتِغَالُ بِمَا يُرْجَى بِهِ دَفْعُ الْعَذَابِ الْمَخُوفِ مِنْهَا. مِنْ أَعْمَالِ الطَّاعَاتِ وَالدُّعَاءِ، وَتَحْقِيقِ التَّوَكُّلِ عَلَى اللَّهِ وَالثِّقَةِ بِهِ، فَإِنَّ هَذِهِ الْأَسْبَابَ كُلَّهَا مُقْتَضِيَاتٌ لَا مُوجِبَاتٌ وَلَهَا مَوَانِعٌ تَمْنَعُهَا. فَأَعْمَالُ الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَالدُّعَاءُ وَالتَّوَكُّلُ مِنْ أَعْظَمِ مَا يُسْتَدْفَعُ بِهِ
“Apabila terdapat sebab-sebab yang dikhawatirkan dapat mendatangkan keburukan, maka yang disyariatkan adalah menyibukkan diri dengan amalan-amalan yang diharapkan dapat menolak azab atau bahaya tersebut, seperti melakukan berbagai ketaatan, berdoa, menyempurnakan tawakal kepada Allah, dan meneguhkan kepercayaan kepada-Nya. Sebab-sebab itu pada hakikatnya hanyalah faktor yang berpotensi menimbulkan suatu akibat, bukan sesuatu yang pasti mewujudkannya, karena masih terdapat berbagai penghalang yang dapat mencegah terjadinya akibat tersebut. Oleh karena itu, amal kebajikan, ketakwaan, doa, dan tawakal termasuk sarana terbesar guna menolak berbagai keburukan.” (Lathaif al-Ma’arif [Beirut: Al-Maktab al-Islami], vol. 1, h. 132)
Membaca doa pada momen Rabu Wekasan hendaknya ditempatkan sebagai bentuk ikhtiar, tawakal, dan permohonan perlindungan kepada Allah. Amalan tersebut tidak didasarkan pada keyakinan bahwa Rabu Wekasan atau Rabu terakhir bulan Safar secara pasti membawa kesialan.
Sebagaimana keterangan sebelumnya, ketika seorang Muslim mengkhawatirkan datangnya suatu keburukan, yang dianjurkan adalah memperbanyak ketaatan, doa, ketakwaan, dan tawakal kepada Allah. Sebab, hanya Allah yang menentukan datang atau terhindarnya seseorang dari suatu musibah.
Dengan demikian, empat doa di atas dapat diamalkan sebagai bagian dari munajat kepada Allah, baik pada momen Rabu Wekasan maupun waktu lainnya. Keselamatan, perlindungan, dan segala bentuk kebaikan tetap diyakini semata-mata berada dalam kekuasaan Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang