Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Uni Emirat Arab Diancam Badai Pasir dan Lonjakan Nyamuk

Kompas.com, 29 Desember 2025, 08:37 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com — Uni Emirat Arab (UEA) menghadapi ancaman cuaca ekstrem berupa badai pasir disertai peningkatan populasi nyamuk dalam beberapa hari ke depan.

Otoritas meteorologi dan kesehatan setempat mengeluarkan peringatan keselamatan kepada warga dan pengguna jalan untuk meningkatkan kewaspadaan.

National Centre of Meteorology (NCM) memperingatkan bahwa angin kencang berpotensi menurunkan jarak pandang secara signifikan, menciptakan kondisi berkendara yang berbahaya, serta meningkatkan paparan debu di udara.

Dalam imbauannya, NCM meminta masyarakat mematuhi panduan keselamatan selama cuaca berdebu.

Baca juga: Salju Turun di Arab Saudi, Otoritas Keluarkan Peringatan Cuaca Ekstrem

Pengendara disarankan mengurangi kecepatan, menghindari manuver mendadak, serta mematuhi aturan lalu lintas. Warga juga diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan dan mengurangi paparan langsung terhadap debu dan pasir.

Selain itu, NCM mengingatkan warga untuk menutup pintu dan jendela rumah guna mencegah masuknya debu, serta hanya mengandalkan informasi cuaca dari sumber resmi, bukan kabar yang belum terverifikasi.

Angin Kencang hingga 50 Km/Jam

Cuaca berdebu diperkirakan berlangsung hingga akhir Desember. Pada Senin (29/12/2025), kondisi cuaca di sejumlah wilayah UEA diprakirakan cerah berawan hingga berawan, dengan peluang hujan di wilayah pesisir, utara, dan timur.

Angin barat daya hingga barat laut bertiup dengan kecepatan 15–30 km/jam dan dapat meningkat hingga 45 km/jam, menyebabkan debu beterbangan. Kondisi laut diperkirakan sedang hingga bergelombang tinggi.

Situasi serupa diperkirakan berlanjut pada Selasa (30/12/2025), dengan potensi hujan siang hari di wilayah utara dan timur serta penurunan suhu.

Angin barat laut diprediksi menguat hingga 50 km/jam, membawa debu dan pasir, sementara kondisi laut bisa menjadi kasar hingga sangat kasar.

Pada Rabu (31/12/2025), angin kencang masih berlanjut dengan kondisi langit berawan, terutama di wilayah pesisir, pulau-pulau, dan kawasan pedalaman. Kondisi laut tetap diperkirakan berbahaya.

Cuaca diprediksi mulai membaik pada Kamis (1/1/2026), dengan langit cerah hingga berawan dan peningkatan kelembapan pada malam hingga pagi hari. Angin melemah dan kondisi laut berangsur membaik.

Ancaman Nyamuk dan Risiko Penyakit

Di tengah kondisi cuaca tersebut, Kementerian Kesehatan dan Pencegahan UEA turut mengeluarkan peringatan terkait meningkatnya kepadatan nyamuk yang berpotensi menularkan penyakit.

Dalam pesan edukasi yang disampaikan melalui akun resmi X, kementerian mengingatkan bahwa gigitan nyamuk tidak boleh dianggap sepele.

Masyarakat diminta mengambil langkah sederhana untuk meredakan gejala, seperti tidak menggaruk area gigitan, mengompres dengan es selama sekitar 10 menit, serta menggunakan krim antigatal atau antihistamin sesuai petunjuk.

Baca juga: Salju Turun di Arab Saudi, Jabal Al Lawz Berubah Jadi Negeri Musim Dingin

Warga juga diminta segera mencari bantuan medis jika muncul gejala tidak biasa seperti demam, sakit kepala hebat, atau nyeri tubuh berkepanjangan.

Lebih jauh, kementerian menekankan pentingnya pencegahan dengan memberantas tempat perkembangbiakan nyamuk, terutama dengan menghilangkan genangan air.

Kerja sama masyarakat dengan otoritas terkait dinilai menjadi kunci utama dalam menekan risiko kesehatan akibat serangga pembawa penyakit.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar