Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Allah Jadikan Bumi Rumah Manusia, Mengapa Kita Justru Merusaknya?

Kompas.com, 23 Januari 2026, 10:50 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Alam semesta bukan sekadar hamparan bumi, laut, dan langit yang indah dipandang mata.

Dalam perspektif Islam, alam adalah “rumah besar” yang Allah SWT siapkan untuk manusia agar dapat hidup, berkembang, dan beribadah dengan tenang.

Namun, ironi zaman modern menunjukkan fakta sebaliknya. Hutan terus menyusut, laut tercemar, udara memburuk, dan bencana alam datang silih berganti. Pertanyaannya, di mana letak tanggung jawab manusia sebagai penghuni bumi?

Islam sejak awal telah meletakkan prinsip ekologis yang kuat. Manusia tidak diciptakan sebagai penguasa yang bebas mengeksploitasi alam, melainkan sebagai penjaga yang memikul amanah besar.

Alam Semesta dalam Perspektif Tauhid

Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa seluruh ciptaan-Nya hadir dengan tujuan dan keseimbangan.

Alam bukan tercipta secara sia-sia, tetapi menjadi tanda kebesaran Allah sekaligus penopang kehidupan manusia.

Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 56:

Wa lā tufsidū fil-arḍi ba‘da iṣlāḥihā wa-d‘ūhu khaufanw wa-ṭama‘ā, inna raḥmatallāhi qarībun minal-muḥsinīn.

Artinya: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah (Allah) memperbaikinya. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Ayat ini menunjukkan bahwa bumi telah diciptakan dalam kondisi seimbang dan harmonis. Kerusakan yang terjadi bukan kehendak Allah, melainkan akibat dari ulah manusia yang melampaui batas.

Dalam buku Agama Ramah Lingkungan : Perspektif Al-Qur'an karya Prof. Mujiyono Abdillah, dijelaskan bahwa Islam memandang alam sebagai amanah ilahiah yang harus dikelola secara berkelanjutan, bukan dieksploitasi demi kepentingan sesaat.

Prinsip tauhid menempatkan manusia sebagai bagian dari ekosistem, bukan penguasa absolutnya.

Baca juga: Ekoteologi Islam dan Tanggung Jawab Manusia atas Alam

Manusia sebagai Khalifah: Antara Amanah dan Ujian

Al-Qur’an menyebut manusia sebagai khalifah fil ardh, pemimpin sekaligus pengelola bumi. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 30:

Innī jā‘ilun fil-arḍi khalīfah.

Artinya: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”

Menurut Tafsir Ibnu Katsir, makna khalifah bukan sekadar pemimpin administratif, tetapi pengemban amanah untuk menjaga keteraturan, keadilan, dan keberlanjutan kehidupan di bumi.

Status khalifah sejatinya adalah ujian, apakah manusia akan merawat ciptaan Allah atau justru menghancurkannya.

Sayangnya, dalam praktik modern, konsep ini sering tereduksi. Alam diperlakukan sebagai komoditas ekonomi semata.

Hutan dibuka tanpa kendali, sungai dijadikan tempat pembuangan limbah, dan laut dipenuhi plastik. Padahal Islam sejak berabad-abad lalu telah mengingatkan bahaya sikap semacam ini.

Ketika Kerusakan Alam Menjadi Cermin Dosa Sosial

Al-Qur’an dengan tegas mengaitkan krisis lingkungan dengan perilaku manusia. Dalam QS. Ar-Rum ayat 41 Allah berfirman:

Ẓaharal-fasādu fil-barri wal-baḥri bimā kasabat aydin-nās liyużīqahum ba‘ḍal-lażī ‘amilū la‘allahum yarji‘ūn.

Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Ayat ini memberikan pesan moral yang kuat, bencana ekologis bukan sekadar fenomena alam, melainkan juga peringatan spiritual.

Dalam buku Merintis Fiqh Lingkungan Hidup karya Ali Yafie, dijelaskan bahwa merusak alam termasuk bentuk kezaliman sosial, karena dampaknya tidak hanya dirasakan pelaku, tetapi juga generasi mendatang.

Baca juga: Menag: Salat Ajarkan Kepedulian Sosial dan Lingkungan, Ini Makna Isra Mikraj

Menjaga Alam sebagai Ibadah yang Terus Mengalir

Islam tidak memisahkan antara ibadah ritual dan tanggung jawab sosial. Menjaga lingkungan diposisikan sebagai amal saleh yang bernilai pahala.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau tanaman, lalu dimakan oleh manusia, burung, atau hewan, kecuali menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan dalam hadis lain, Nabi menegaskan urgensi merawat bumi hingga detik terakhir kehidupan:

In qāmat as-sā‘ah wa fī yadī aḥadikum fasīlah fa inis-taṭā‘a an lā taqūma ḥattā yaghrisahā fal-yaghris-hā.

Artinya: “Jika kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang dari kalian ada bibit tanaman, maka jika mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, tanamlah.”
(HR. Ahmad)

Pesan ini menunjukkan bahwa menjaga alam bukan tugas musiman, tetapi kewajiban permanen umat Islam.

Hutan dan Ekosistem: Warisan yang Terancam

Indonesia dikenal sebagai negara dengan kawasan hutan tropis terbesar di dunia. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat bahwa kawasan hutan Indonesia mencakup lebih dari 125 juta hektare.

Namun angka tersebut terus menyusut akibat pembukaan lahan, penebangan liar, dan kebakaran hutan.

Dalam Islam, perusakan hutan termasuk kategori fasad fil ardh. QS. Al-A’raf ayat 56 menjelaskan bahwa segala tindakan yang mengganggu keseimbangan bumi, merusak habitat, dan menghilangkan manfaat umum termasuk perbuatan tercela yang dilarang syariat.

Dampak kerusakan hutan bukan hanya hilangnya keanekaragaman hayati, tetapi juga meningkatnya bencana seperti banjir, longsor, kekeringan, hingga krisis pangan.

Baca juga: Di Kairo, Menag Tekankan Pentingnya Ekoteologi dalam Menjaga Lingkungan

Merawat Bumi sebagai Bentuk Syukur

Merawat alam sejatinya adalah ekspresi syukur kepada Allah. Dalam buku Islam dan Ekologi karya Fazlun Khalid, ditegaskan bahwa sikap ramah lingkungan lahir dari kesadaran spiritual bahwa setiap nikmat harus dijaga, bukan dihabiskan.

Syukur tidak hanya diucapkan dengan lisan, tetapi diwujudkan melalui tindakan konkret: menghemat air, mengurangi sampah plastik, menanam pohon, menjaga kebersihan lingkungan, serta mendukung gaya hidup berkelanjutan.

Menjadi Muslim yang Ramah Lingkungan

Di tengah krisis iklim global, umat Islam memiliki peluang besar untuk tampil sebagai teladan ekologi spiritual.

Masjid dapat menjadi pusat edukasi lingkungan, pesantren bisa menjadi laboratorium hijau, dan keluarga muslim dapat memulai dari kebiasaan kecil yang berdampak besar.

Allah menciptakan bumi sebagai tempat tinggal manusia, bukan tempat eksploitasi tanpa batas. Jika manusia terus merusak, maka sejatinya ia sedang menggali masalah bagi dirinya sendiri.

Kini pertanyaannya bukan lagi apakah kita peduli pada lingkungan, tetapi sejauh mana kita siap mengemban amanah sebagai khalifah.

Karena pada akhirnya, bumi yang kita rawat hari ini adalah warisan yang akan kita tinggalkan untuk generasi esok.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Cegah Kekerasan Seksual, Kemenag Wajibkan CCTV hingga Cabut Izin Pesantren Nakal
Cegah Kekerasan Seksual, Kemenag Wajibkan CCTV hingga Cabut Izin Pesantren Nakal
Aktual
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar