KOMPAS.com - Alam semesta bukan sekadar hamparan bumi, laut, dan langit yang indah dipandang mata.
Dalam perspektif Islam, alam adalah “rumah besar” yang Allah SWT siapkan untuk manusia agar dapat hidup, berkembang, dan beribadah dengan tenang.
Namun, ironi zaman modern menunjukkan fakta sebaliknya. Hutan terus menyusut, laut tercemar, udara memburuk, dan bencana alam datang silih berganti. Pertanyaannya, di mana letak tanggung jawab manusia sebagai penghuni bumi?
Islam sejak awal telah meletakkan prinsip ekologis yang kuat. Manusia tidak diciptakan sebagai penguasa yang bebas mengeksploitasi alam, melainkan sebagai penjaga yang memikul amanah besar.
Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa seluruh ciptaan-Nya hadir dengan tujuan dan keseimbangan.
Alam bukan tercipta secara sia-sia, tetapi menjadi tanda kebesaran Allah sekaligus penopang kehidupan manusia.
Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 56:
Wa lā tufsidū fil-arḍi ba‘da iṣlāḥihā wa-d‘ūhu khaufanw wa-ṭama‘ā, inna raḥmatallāhi qarībun minal-muḥsinīn.
Artinya: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah (Allah) memperbaikinya. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Ayat ini menunjukkan bahwa bumi telah diciptakan dalam kondisi seimbang dan harmonis. Kerusakan yang terjadi bukan kehendak Allah, melainkan akibat dari ulah manusia yang melampaui batas.
Dalam buku Agama Ramah Lingkungan : Perspektif Al-Qur'an karya Prof. Mujiyono Abdillah, dijelaskan bahwa Islam memandang alam sebagai amanah ilahiah yang harus dikelola secara berkelanjutan, bukan dieksploitasi demi kepentingan sesaat.
Prinsip tauhid menempatkan manusia sebagai bagian dari ekosistem, bukan penguasa absolutnya.
Baca juga: Ekoteologi Islam dan Tanggung Jawab Manusia atas Alam
Al-Qur’an menyebut manusia sebagai khalifah fil ardh, pemimpin sekaligus pengelola bumi. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 30:
Innī jā‘ilun fil-arḍi khalīfah.
Artinya: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”
Menurut Tafsir Ibnu Katsir, makna khalifah bukan sekadar pemimpin administratif, tetapi pengemban amanah untuk menjaga keteraturan, keadilan, dan keberlanjutan kehidupan di bumi.
Status khalifah sejatinya adalah ujian, apakah manusia akan merawat ciptaan Allah atau justru menghancurkannya.
Sayangnya, dalam praktik modern, konsep ini sering tereduksi. Alam diperlakukan sebagai komoditas ekonomi semata.
Hutan dibuka tanpa kendali, sungai dijadikan tempat pembuangan limbah, dan laut dipenuhi plastik. Padahal Islam sejak berabad-abad lalu telah mengingatkan bahaya sikap semacam ini.
Al-Qur’an dengan tegas mengaitkan krisis lingkungan dengan perilaku manusia. Dalam QS. Ar-Rum ayat 41 Allah berfirman:
Ẓaharal-fasādu fil-barri wal-baḥri bimā kasabat aydin-nās liyużīqahum ba‘ḍal-lażī ‘amilū la‘allahum yarji‘ūn.
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Ayat ini memberikan pesan moral yang kuat, bencana ekologis bukan sekadar fenomena alam, melainkan juga peringatan spiritual.
Dalam buku Merintis Fiqh Lingkungan Hidup karya Ali Yafie, dijelaskan bahwa merusak alam termasuk bentuk kezaliman sosial, karena dampaknya tidak hanya dirasakan pelaku, tetapi juga generasi mendatang.
Baca juga: Menag: Salat Ajarkan Kepedulian Sosial dan Lingkungan, Ini Makna Isra Mikraj
Islam tidak memisahkan antara ibadah ritual dan tanggung jawab sosial. Menjaga lingkungan diposisikan sebagai amal saleh yang bernilai pahala.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau tanaman, lalu dimakan oleh manusia, burung, atau hewan, kecuali menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bahkan dalam hadis lain, Nabi menegaskan urgensi merawat bumi hingga detik terakhir kehidupan:
In qāmat as-sā‘ah wa fī yadī aḥadikum fasīlah fa inis-taṭā‘a an lā taqūma ḥattā yaghrisahā fal-yaghris-hā.
Artinya: “Jika kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang dari kalian ada bibit tanaman, maka jika mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, tanamlah.”
(HR. Ahmad)
Pesan ini menunjukkan bahwa menjaga alam bukan tugas musiman, tetapi kewajiban permanen umat Islam.
Indonesia dikenal sebagai negara dengan kawasan hutan tropis terbesar di dunia. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat bahwa kawasan hutan Indonesia mencakup lebih dari 125 juta hektare.
Namun angka tersebut terus menyusut akibat pembukaan lahan, penebangan liar, dan kebakaran hutan.
Dalam Islam, perusakan hutan termasuk kategori fasad fil ardh. QS. Al-A’raf ayat 56 menjelaskan bahwa segala tindakan yang mengganggu keseimbangan bumi, merusak habitat, dan menghilangkan manfaat umum termasuk perbuatan tercela yang dilarang syariat.
Dampak kerusakan hutan bukan hanya hilangnya keanekaragaman hayati, tetapi juga meningkatnya bencana seperti banjir, longsor, kekeringan, hingga krisis pangan.
Baca juga: Di Kairo, Menag Tekankan Pentingnya Ekoteologi dalam Menjaga Lingkungan
Merawat alam sejatinya adalah ekspresi syukur kepada Allah. Dalam buku Islam dan Ekologi karya Fazlun Khalid, ditegaskan bahwa sikap ramah lingkungan lahir dari kesadaran spiritual bahwa setiap nikmat harus dijaga, bukan dihabiskan.
Syukur tidak hanya diucapkan dengan lisan, tetapi diwujudkan melalui tindakan konkret: menghemat air, mengurangi sampah plastik, menanam pohon, menjaga kebersihan lingkungan, serta mendukung gaya hidup berkelanjutan.
Di tengah krisis iklim global, umat Islam memiliki peluang besar untuk tampil sebagai teladan ekologi spiritual.
Masjid dapat menjadi pusat edukasi lingkungan, pesantren bisa menjadi laboratorium hijau, dan keluarga muslim dapat memulai dari kebiasaan kecil yang berdampak besar.
Allah menciptakan bumi sebagai tempat tinggal manusia, bukan tempat eksploitasi tanpa batas. Jika manusia terus merusak, maka sejatinya ia sedang menggali masalah bagi dirinya sendiri.
Kini pertanyaannya bukan lagi apakah kita peduli pada lingkungan, tetapi sejauh mana kita siap mengemban amanah sebagai khalifah.
Karena pada akhirnya, bumi yang kita rawat hari ini adalah warisan yang akan kita tinggalkan untuk generasi esok.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang