Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ramadhan Tiba, Begini Persiapan Unik Muslim di Berbagai Negara

Kompas.com, 31 Januari 2026, 14:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Ramadhan selalu menjadi momentum global yang menyatukan umat Muslim lintas bangsa dan budaya.

Meski esensi ibadahnya sama yaitu menahan diri dari makan, minum, dan hawa nafsu sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, cara masyarakat Muslim menyiapkan diri menyambut Ramadhan menunjukkan ragam praktik yang sangat kaya.

Di Indonesia, persiapan Ramadhan kerap diwarnai tradisi kolektif bernuansa budaya lokal. Sementara di negara lain, konteks geografis, iklim, dan sejarah membentuk pola persiapan yang berbeda.

Perbedaan inilah yang menjadikan Ramadhan bukan hanya peristiwa spiritual, tetapi juga fenomena sosial global.

Allah SWT berfirman:

Syahru ramadhānal ladzī unzila fīhil qur’ān hudan linnāsi wa bayyinātim minal hudā wal furqān.

Artinya: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang benar dan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Ayat ini menegaskan bahwa Ramadhan memiliki makna universal. Namun, implementasi sosialnya senantiasa dipengaruhi oleh konteks lokal masing-masing masyarakat Muslim.

Indonesia: Persiapan Kolektif Berbasis Komunitas

Di Indonesia, persiapan Ramadhan hampir selalu dimulai dengan aktivitas kolektif. Bersih-bersih masjid, kerja bakti kampung, pengajian akbar, hingga tradisi keliling membangunkan sahur menjadi bagian dari ritual sosial. Masyarakat juga ramai membeli kebutuhan pokok, kurma, serta perlengkapan ibadah.

Dalam buku Islam Nusantara karya Azyumardi Azra, dijelaskan bahwa Islam di Indonesia berkembang melalui pendekatan kultural yang menekankan kebersamaan dan akulturasi.

Pola ini tercermin dalam persiapan Ramadhan yang melibatkan komunitas secara luas. Tradisi seperti tabuhan bedug dan pengajian massal bukan hanya bentuk ibadah, tetapi juga sarana memperkuat solidaritas sosial.

Di sejumlah daerah, persiapan Ramadhan juga ditandai dengan ziarah kubur dan doa bersama.

Praktik ini mencerminkan tradisi lokal yang mengaitkan momentum Ramadhan dengan refleksi spiritual dan penghormatan terhadap leluhur.

Baca juga: Tradisi Unik Menjelang Ramadhan di Berbagai Daerah Indonesia

Malaysia dan Asia Tenggara: Pasar Ramadhan sebagai Ikon Persiapan

Di Malaysia dan Brunei Darussalam, persiapan Ramadhan identik dengan kemunculan bazar Ramadhan.

Ribuan pedagang menjajakan makanan khas berbuka sejak sore hari. Bazar ini bukan sekadar pusat kuliner, tetapi ruang sosial yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat.

Dalam buku The state, ulama and Islam in Malaysia and Indonesia karya Norshahril Saat, dijelaskan bahwa makanan berbuka memiliki makna simbolik sebagai ekspresi kegembiraan menyambut Ramadhan sekaligus sarana mempererat hubungan sosial.

Hal ini menunjukkan bahwa persiapan Ramadhan di Asia Tenggara tidak terlepas dari budaya komunal yang kuat.

Timur Tengah: Persiapan Berbasis Keluarga dan Masjid

Di negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Mesir, persiapan Ramadhan lebih terpusat pada keluarga dan institusi masjid.

Di Arab Saudi, masyarakat tidak memiliki tradisi membangunkan sahur keliling kampung karena pola hidup malam yang sudah terbiasa aktif hingga dini hari.

Masjid lebih fokus mempersiapkan jadwal imam, program i’tikaf, dan pembagian makanan berbuka gratis.

Sementara di Mesir, Ramadhan identik dengan hiasan lentera fanoos yang memenuhi jalan-jalan.

Dalam buku Ramadan Around The World karya Ndaa Hassan, disebutkan bahwa fanoos menjadi simbol kegembiraan kolektif sekaligus penanda visual datangnya bulan suci.

Persiapan Ramadhan di Mesir juga diwarnai tradisi berbagi makanan kepada fakir miskin melalui dapur umum dan program sosial masjid.

Baca juga: Sejarah Ngabuburit di Indonesia: Dari Istilah Sunda Menjadi Tradisi Nusantara di Bulan Puasa

Turki: Tradisi Davulcu dan Persiapan Bersejarah

Di Turki, persiapan Ramadhan memiliki ciri khas berupa tradisi Davulcu, yaitu penabuh drum yang berkeliling kota untuk membangunkan warga sahur.

Tradisi ini telah berlangsung sejak era Ottoman dan masih dipertahankan hingga kini. Selain itu, masyarakat Turki mempersiapkan makanan khas seperti pide, sup lentil, dan baklava yang hanya muncul secara masif saat Ramadhan.

Dalam buku The Ottoman and Mughal Empires karya Suraiya Faroqhi, dijelaskan bahwa Davulcu bukan sekadar alarm sahur, tetapi simbol keberlanjutan sejarah Islam Ottoman yang diwariskan lintas generasi.

Eropa Utara: Adaptasi Waktu Puasa yang Ekstrem

Berbeda dengan negara-negara tropis, umat Muslim di Eropa Utara menghadapi tantangan unik dalam persiapan Ramadhan.

Di Norwegia, Swedia, dan Finlandia, durasi siang hari pada musim panas bisa mencapai 18 hingga 20 jam. Kondisi ini memaksa komunitas Muslim menyesuaikan jadwal puasa.

Banyak masjid di wilayah ini mengacu pada waktu puasa di Makkah atau jadwal lokal yang telah disepakati bersama.

Dalam buku European Islam karya Jocelyne Cesari, dijelaskan bahwa adaptasi ini menjadi bentuk ijtihad kontemporer agar ibadah tetap dapat dijalankan tanpa mengabaikan aspek kesehatan dan keberlangsungan hidup.

Baca juga: Makna Tradisi Munggahan Jelang Ramadan 2026, Ini Waktu Idealnya

Persamaan Global: Spirit Ramadhan yang Tetap Sama

Meski berbeda dalam bentuk persiapan, ada satu benang merah yang menyatukan umat Muslim di seluruh dunia, semangat mendekatkan diri kepada Allah.

Rasulullah SAW bersabda bahwa Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan, di mana pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup.

Dalam konteks ini, persiapan Ramadhan bukan hanya soal logistik dan tradisi, tetapi juga kesiapan hati dan niat. Sebagaimana firman Allah:

Innamal a‘mālu binniyyāt.

Artinya: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ayat dan hadis ini menegaskan bahwa inti Ramadhan tetap berada pada kesungguhan spiritual, terlepas dari perbedaan budaya.

Ramadhan sebagai Ruang Dialog Budaya Global

Perbedaan persiapan Ramadhan di berbagai negara menunjukkan bahwa Islam tidak hadir dalam ruang hampa.

Ia berdialog dengan budaya lokal dan realitas sosial. Hal ini justru memperkaya wajah Islam global.

Indonesia menghadirkan Ramadhan dengan nuansa komunal dan budaya kampung, Timur Tengah menekankan tradisi keluarga dan masjid, Turki merawat warisan sejarah, sementara Eropa Utara menghadirkan dinamika adaptasi modern.

Di tengah globalisasi dan digitalisasi, perbedaan ini menjadi peluang untuk saling belajar. Ramadhan tidak hanya menjadi bulan ibadah, tetapi juga jendela untuk memahami keberagaman umat Muslim dunia.

Dari bedug kampung di Nusantara hingga puasa panjang di Eropa, Ramadhan terus mengajarkan bahwa spiritualitas dapat tumbuh dalam berbagai wajah, namun tetap berakar pada nilai yang sama yaitu ketakwaan, kebersamaan, dan kemanusiaan.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar