Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kota Tua Jakarta: Jejak Dakwah Islam dari Pelabuhan Sunda Kelapa

Kompas.com, 31 Januari 2026, 07:56 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Kawasan Kota Tua Jakarta kerap dipahami sebagai panggung arsitektur kolonial: gedung-gedung tua, batu andesit, dan jejak administrasi VOC.

Namun, jika ditarik lebih jauh ke belakang, ruang ini menyimpan lapisan sejarah yang lebih dalam—tentang perdagangan maritim, jejaring ulama, dan perjumpaan budaya yang mempercepat penyebaran Islam di Nusantara.

Azyumardi Azra, dalam buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII, menjelaskan bahwa sejak abad ke-15, pelabuhan Sunda Kelapa telah menjadi simpul perdagangan internasional.

Baca juga: Sidang Isbat Ramadhan: Ini Sejarah Panjang dan Perannya di Indonesia

Kapal-kapal dari Gujarat, Arab, Persia, dan Tiongkok bersandar, membawa rempah, kain, keramik—dan pada saat yang sama, membawa tradisi keilmuan, etika dagang, serta praktik keagamaan Islam ke pesisir Jawa. Di sinilah jalur niaga berkelindan dengan jalur dakwah.

Dari Sunda Kelapa ke Jayakarta: Jalur Dagang, Jalur Dakwah

Ricklef dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, menyebut bahwa penaklukan Sunda Kelapa oleh Fatahillah pada 1527 dan penamaannya menjadi Jayakarta menandai menguatnya pengaruh politik Islam di pesisir utara Jawa.

Namun yang lebih penting, pelabuhan ini menjadi ruang temu antara aktivitas ekonomi dan penyebaran nilai-nilai agama.

Menurut Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya Jilid II, saudagar muslim tidak datang sebagai penakluk. Mereka hadir sebagai mitra dagang, tetangga, dan kerabat melalui pernikahan.

Dari relasi sosial inilah Islam menyebar secara organik: melalui keteladanan, pendidikan, dan kepercayaan yang tumbuh perlahan. Komunitas-komunitas awal muslim terbentuk di sekitar pelabuhan, pasar, dan permukiman pesisir.

Peran Ulama Pesisir dan Masjid Tua

Tak jauh dari pelabuhan berdiri Masjid Luar Batang, yang terkait erat dengan figur Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus. Menurut Azyumardi, pada abad ke-18, kawasan ini telah menjadi pusat pengajian dan persinggahan ulama serta pelaut muslim.

Masjid-masjid pesisir seperti Luar Batang menjalankan banyak fungsi: madrasah, rumah singgah musafir, pusat literasi keagamaan, sekaligus simpul solidaritas sosial komunitas maritim. Di tempat seperti inilah, ajaran Islam dipelajari, dipraktikkan, dan diwariskan lintas generasi.

Batavia Kolonial: Represi, Jaringan Islam Tetap Tumbuh

Kata Lombard, ketika VOC menguasai Jayakarta dan membangun Batavia, tata kota diatur dengan logika kolonial. Balai kota yang kini menjadi Museum Sejarah Jakarta berdiri sebagai simbol kontrol administratif.

Namun, di luar tembok kekuasaan itu, komunitas muslim tetap bertumbuh di kampung-kampung sekitar kota.

Pembatasan politik terhadap penduduk pribumi dan komunitas non-Eropa justru membuat jaringan ulama bergerak lewat jalur non-formal: pengajian rumah ke rumah, surau kecil, dan ikatan kekerabatan.

Islam di Batavia berkembang sebagai agama masyarakat pelabuhan—adaptif, cair, dan membumi.

Kota Tua sebagai Ruang Pertemuan Peradaban

Kota Tua memperlihatkan perjumpaan budaya Eropa, Arab, Melayu, dan Jawa dalam satu lanskap yang sama. Interaksi ini membentuk corak Islam Nusantara: terbuka terhadap budaya, tetapi kokoh dalam akidah.

Tradisi maulid, ziarah ulama, hingga kultur religius pesisir Jakarta Utara menjadi warisan yang masih hidup. Ia bukan sekadar tradisi, melainkan jejak memori kolektif tentang bagaimana agama tumbuh melalui perjumpaan, bukan pemaksaan.

Pelabuhan, Pasar, dan Manusia Perantau

Jika ditarik benang merahnya, penyebaran Islam di kawasan ini sangat terkait dengan tiga hal: pelabuhan sebagai pintu masuk, pasar sebagai ruang interaksi, dan manusia perantau sebagai pembawa nilai.

Kota Tua menjadi contoh nyata bagaimana agama menyebar melalui mobilitas manusia dan pertukaran budaya.

Para pelaut muslim singgah, menetap, menikah, dan membangun komunitas. Dari komunitas inilah lahir generasi baru muslim Nusantara yang menggabungkan identitas lokal dengan ajaran Islam.

Baca juga: Sejarah Ngabuburit di Indonesia: Dari Istilah Sunda Menjadi Tradisi Nusantara di Bulan Puasa

Warisan yang Masih Hidup

Hari ini, menyusuri Taman Fatahillah, gang-gang tua di sekitar pelabuhan, hingga halaman Masjid Luar Batang bukan sekadar wisata sejarah. Ia adalah cara membaca ulang proses panjang penyebaran Islam melalui jejaring sosial, ekonomi, dan pendidikan.

Angin asin dari Sunda Kelapa dan batu-batu tua di pelataran Kota Tua seakan menyimpan memori tentang masa ketika dakwah berjalan seiring perdagangan, ketika masjid berdiri dekat dermaga, dan ketika ulama menjadi sahabat para pelaut.

Jejak itu mungkin sunyi, tetapi tetap nyata dalam denyut kehidupan masyarakat pesisir Jakarta hingga kini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar