KOMPAS.com - Ramadhan selalu menjadi momentum global yang menyatukan umat Muslim lintas bangsa dan budaya.
Meski esensi ibadahnya sama yaitu menahan diri dari makan, minum, dan hawa nafsu sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, cara masyarakat Muslim menyiapkan diri menyambut Ramadhan menunjukkan ragam praktik yang sangat kaya.
Di Indonesia, persiapan Ramadhan kerap diwarnai tradisi kolektif bernuansa budaya lokal. Sementara di negara lain, konteks geografis, iklim, dan sejarah membentuk pola persiapan yang berbeda.
Perbedaan inilah yang menjadikan Ramadhan bukan hanya peristiwa spiritual, tetapi juga fenomena sosial global.
Allah SWT berfirman:
Syahru ramadhānal ladzī unzila fīhil qur’ān hudan linnāsi wa bayyinātim minal hudā wal furqān.
Artinya: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang benar dan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 185).
Ayat ini menegaskan bahwa Ramadhan memiliki makna universal. Namun, implementasi sosialnya senantiasa dipengaruhi oleh konteks lokal masing-masing masyarakat Muslim.
Di Indonesia, persiapan Ramadhan hampir selalu dimulai dengan aktivitas kolektif. Bersih-bersih masjid, kerja bakti kampung, pengajian akbar, hingga tradisi keliling membangunkan sahur menjadi bagian dari ritual sosial. Masyarakat juga ramai membeli kebutuhan pokok, kurma, serta perlengkapan ibadah.
Dalam buku Islam Nusantara karya Azyumardi Azra, dijelaskan bahwa Islam di Indonesia berkembang melalui pendekatan kultural yang menekankan kebersamaan dan akulturasi.
Pola ini tercermin dalam persiapan Ramadhan yang melibatkan komunitas secara luas. Tradisi seperti tabuhan bedug dan pengajian massal bukan hanya bentuk ibadah, tetapi juga sarana memperkuat solidaritas sosial.
Di sejumlah daerah, persiapan Ramadhan juga ditandai dengan ziarah kubur dan doa bersama.
Praktik ini mencerminkan tradisi lokal yang mengaitkan momentum Ramadhan dengan refleksi spiritual dan penghormatan terhadap leluhur.
Baca juga: Tradisi Unik Menjelang Ramadhan di Berbagai Daerah Indonesia
Di Malaysia dan Brunei Darussalam, persiapan Ramadhan identik dengan kemunculan bazar Ramadhan.
Ribuan pedagang menjajakan makanan khas berbuka sejak sore hari. Bazar ini bukan sekadar pusat kuliner, tetapi ruang sosial yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat.
Dalam buku The state, ulama and Islam in Malaysia and Indonesia karya Norshahril Saat, dijelaskan bahwa makanan berbuka memiliki makna simbolik sebagai ekspresi kegembiraan menyambut Ramadhan sekaligus sarana mempererat hubungan sosial.
Hal ini menunjukkan bahwa persiapan Ramadhan di Asia Tenggara tidak terlepas dari budaya komunal yang kuat.
Di negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Mesir, persiapan Ramadhan lebih terpusat pada keluarga dan institusi masjid.
Di Arab Saudi, masyarakat tidak memiliki tradisi membangunkan sahur keliling kampung karena pola hidup malam yang sudah terbiasa aktif hingga dini hari.
Masjid lebih fokus mempersiapkan jadwal imam, program i’tikaf, dan pembagian makanan berbuka gratis.
Sementara di Mesir, Ramadhan identik dengan hiasan lentera fanoos yang memenuhi jalan-jalan.
Dalam buku Ramadan Around The World karya Ndaa Hassan, disebutkan bahwa fanoos menjadi simbol kegembiraan kolektif sekaligus penanda visual datangnya bulan suci.
Persiapan Ramadhan di Mesir juga diwarnai tradisi berbagi makanan kepada fakir miskin melalui dapur umum dan program sosial masjid.
Baca juga: Sejarah Ngabuburit di Indonesia: Dari Istilah Sunda Menjadi Tradisi Nusantara di Bulan Puasa
Di Turki, persiapan Ramadhan memiliki ciri khas berupa tradisi Davulcu, yaitu penabuh drum yang berkeliling kota untuk membangunkan warga sahur.
Tradisi ini telah berlangsung sejak era Ottoman dan masih dipertahankan hingga kini. Selain itu, masyarakat Turki mempersiapkan makanan khas seperti pide, sup lentil, dan baklava yang hanya muncul secara masif saat Ramadhan.
Dalam buku The Ottoman and Mughal Empires karya Suraiya Faroqhi, dijelaskan bahwa Davulcu bukan sekadar alarm sahur, tetapi simbol keberlanjutan sejarah Islam Ottoman yang diwariskan lintas generasi.
Berbeda dengan negara-negara tropis, umat Muslim di Eropa Utara menghadapi tantangan unik dalam persiapan Ramadhan.
Di Norwegia, Swedia, dan Finlandia, durasi siang hari pada musim panas bisa mencapai 18 hingga 20 jam. Kondisi ini memaksa komunitas Muslim menyesuaikan jadwal puasa.
Banyak masjid di wilayah ini mengacu pada waktu puasa di Makkah atau jadwal lokal yang telah disepakati bersama.
Dalam buku European Islam karya Jocelyne Cesari, dijelaskan bahwa adaptasi ini menjadi bentuk ijtihad kontemporer agar ibadah tetap dapat dijalankan tanpa mengabaikan aspek kesehatan dan keberlangsungan hidup.
Baca juga: Makna Tradisi Munggahan Jelang Ramadan 2026, Ini Waktu Idealnya
Meski berbeda dalam bentuk persiapan, ada satu benang merah yang menyatukan umat Muslim di seluruh dunia, semangat mendekatkan diri kepada Allah.
Rasulullah SAW bersabda bahwa Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan, di mana pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup.
Dalam konteks ini, persiapan Ramadhan bukan hanya soal logistik dan tradisi, tetapi juga kesiapan hati dan niat. Sebagaimana firman Allah:
Innamal a‘mālu binniyyāt.
Artinya: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ayat dan hadis ini menegaskan bahwa inti Ramadhan tetap berada pada kesungguhan spiritual, terlepas dari perbedaan budaya.
Perbedaan persiapan Ramadhan di berbagai negara menunjukkan bahwa Islam tidak hadir dalam ruang hampa.
Ia berdialog dengan budaya lokal dan realitas sosial. Hal ini justru memperkaya wajah Islam global.
Indonesia menghadirkan Ramadhan dengan nuansa komunal dan budaya kampung, Timur Tengah menekankan tradisi keluarga dan masjid, Turki merawat warisan sejarah, sementara Eropa Utara menghadirkan dinamika adaptasi modern.
Di tengah globalisasi dan digitalisasi, perbedaan ini menjadi peluang untuk saling belajar. Ramadhan tidak hanya menjadi bulan ibadah, tetapi juga jendela untuk memahami keberagaman umat Muslim dunia.
Dari bedug kampung di Nusantara hingga puasa panjang di Eropa, Ramadhan terus mengajarkan bahwa spiritualitas dapat tumbuh dalam berbagai wajah, namun tetap berakar pada nilai yang sama yaitu ketakwaan, kebersamaan, dan kemanusiaan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang