Editor
KOMPAS.com-Utang puasa orangtua memiliki ketentuan berbeda dalam Islam, bergantung pada kondisi orangtua tersebut masih hidup atau telah meninggal dunia.
Dilansir dari laman Muhammadiyah, orangtua yang masih hidup tetapi tidak mampu berpuasa dapat menggantinya dengan fidyah, sementara utang puasa orangtua yang telah meninggal dunia dapat ditunaikan oleh ahli waris dengan berpuasa untuknya.
Ketentuan ini bersumber dari Alquran dan hadis Nabi Muhammad SAW yang memberikan keringanan bagi orang yang tidak mampu berpuasa serta panduan menyelesaikan kewajiban ibadah yang tertinggal.
Allah SWT berfirman, “… maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin …” (QS Al-Baqarah [2]: 184).
Baca juga: Berapa Hari Lagi Puasa 2026: Imsak Bukan Sekadar Tanda Sahur
Ayat tersebut menjadi dasar utama pembahasan mengenai penggantian puasa, baik melalui qadha maupun fidyah, sesuai dengan kondisi yang dialami.
Orangtua yang masih hidup tetapi sudah lanjut usia atau mengalami sakit menahun sehingga tidak memungkinkan berpuasa maupun menggantinya di hari lain mendapatkan keringanan berupa fidyah.
Kewajiban berpuasa tetap menjadi tanggung jawab individu, sehingga anak tidak dibebani kewajiban mengqadha puasa orangtua yang masih hidup.
Fidyah dibayarkan dengan memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan.
Ketentuan ini mencerminkan prinsip kemudahan dalam syariat Islam yang tidak memberatkan umatnya di luar batas kemampuan.
Baca juga: Ini Tips Jaga Mental agar Puasa Tak Terasa Berat
Islam membolehkan ahli waris untuk mengqadha puasa orangtua yang telah meninggal dunia apabila masih memiliki utang puasa.
Ketentuan ini didasarkan pada hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha berikut ini:
مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ [متفق عليه]
“Barangsiapa meninggal dunia padahal ia berutang puasa, maka walinyalah yang berpuasa untuknya” (Muttafaq ‘Alaih).
Baca juga: Hitung Mundur Puasa 2026: Tinggal 20 Hari, Ini Persiapan Wajib
Riwayat lain dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menceritakan seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai ibunya yang meninggal dunia dalam keadaan memiliki utang puasa.
لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكَ دَيْنٌ، أَكُنْتَ قاَضِيَهُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَدَيْنُ اللهِ أَحَقٌ أَنْ يُقْضَى [رواه البخاري]
“Jika seandainya ibumu memiliki utang, apakah engkau akan membayarkannya?” Laki-laki itu menjawab, ‘Iya.’ Maka Nabi SAW bersabda: ‘Utang kepada Allah lebih berhak untuk ditunaikan’” (HR Al-Bukhari).
Hadis dengan makna serupa juga diriwayatkan dalam Shahih Muslim ketika seorang perempuan menanyakan kewajiban puasa ibunya yang telah meninggal dunia.
Ketentuan qadha puasa juga berlaku bagi puasa nadzar yang belum sempat ditunaikan sebelum seseorang wafat.
Dalam riwayat Ahmad disebutkan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan keluarga seorang perempuan yang meninggal sebelum menunaikan nadzar puasanya untuk berpuasa menggantikannya.
Baca juga: Apakah Boleh Puasa Tanpa Sahur? Ini Jawaban Ulama dan Dalilnya
Perbedaan kondisi orangtua menentukan cara penyelesaian utang puasa dalam Islam.
Orangtua yang masih hidup tetapi tidak mampu berpuasa dapat menggantinya dengan fidyah.
Orangtua yang telah meninggal dunia dan masih memiliki kewajiban puasa dapat dibantu oleh ahli waris dengan mengqadha puasa tersebut.
Ketentuan ini menunjukkan bahwa Islam memberikan solusi yang adil, jelas, dan penuh kemudahan dalam menyelesaikan kewajiban ibadah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang